Friday, May 5, 2017
HOW AN INTROVERT SURVIVE AS A MIDWIFE ?
Dalam tulisan gua disini, membahas dari segi personality gua. Mungkin banyak yang nggak tahu kalau gua itu adalah seorang Introvert. For know about Introvert you can search on internet. Karena kebanyakan di society gua masih banyak yang nggak tahu apa itu Introvert atau tipe-tipe kepribadian yang ada pada manusia menjadi salah satu sebab mereka sulit buat mengerti diri gua. Gua exactly tidak penah menyalahkan orang lain yang nggak tahu kepribadian gua atau ga maksa buat mereka faham siapa gua. But, yang buat gua merasa annoying adalah mereka mereka yang menyebut gua ga bisa ngomong atau bahkan menganggap gua berada di level rendah cuma gara-gara gua jarang ngomong dan ga banyak basa-basi. What the???
"sometimes people judge without one trying to understand the reason"
Gua kuliah di bidang kesehatan yang semua orang tahu ini adalah bidang pelayanan jasa. As you know, yang namanya pelayanan jasa harus banyak ngomong ini dan itu, komunikasi dengan berbagai tipe “pelanggan”, kalau kita si pelayanan jasa ini nggak bisa ngomong buat nawarin “produk jasa” nya ya ibarat kita jualan kacang kalau kita diem nggak nawarin kacang sampai kapanpun itu kacang nggak bakal ke jual. Menjadi seorang pelayan jasa harus bisa menarik perhatian orang-orang dengan memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Keharusan itu yang membuat gua ngerasa ”kecil”, gua ngerasa it’s not my way. Karena gua adalah tipikal orang anti sosial dan gua ngerasa susah untuk ngomong panjang kali lebar sama orang yang baru gua kenal apalagi gua harus banyak basa-basi dan haha-hihi.
Selama menjadi mahasiswa, gua jarang sekali ngomong dan bahkan gua merasa susah untuk presentasi di depan kelas karena gua selalu ngerasa “lo ga bakal ngerti maksud gua apa” (sedikit songong memang) terus gua itu akan ngomong ketika memang gua “harus” ngomong( you know what i mean, lah ) bukan just talk without content. Lagi, gua nggak banyak punya teman dekat karena satu dan lain hal. Ga pernah peduli dengan ocehan orang yang bilang gua pelit, sok-sok-an, egois. Absolutely, I dont care because you never know me anything.
Pressure gua udah banyak, buat apa gua tambahin dengan memperdulikan ocehan orang yang ga ada untung nya sama sekali. Is pretty much rubbish. Gua juga bukan Tipikal manusia yang asik diajak hangout tiap waktu karena semua itu gua rasa cuma buang-buang waktu. Sekali-kali mungkin wajar. Gua lebih sering menghabiskan waktu dengan laptop dan hp, not with Human. Mungkin sebagian orang menilai gua aneh. Justru keanehan dalam diri gua ini adalah hal yang membuat gua tetap survive. Berterimakasih sekali dengan diri gua yang seperti ini. Dan hal lain yang ngebuat gua harus survive adalah orang tua.
Selama gua kuliah, ada praktek lapangan dan saat itulah dimana gua harus ngobrol sama pasien. Gua pertama kali nya ngomong panjang kali lebar sama orang “asing”, dan itu butuh energi ekstra buat mengerahkan sejuta keberanian diri gua hanya untuk sekedar konseling. Terdengar berlebihan memang. In fact, memang begitu. Mungkin sebagian orang bakal bilang “apa sih? Gitu doang” tapi ini adalah langkah awal gua untuk melanjutkan langkah-langkah selanjutnya yang mungkin bahkan lebih sulit. I am so greatful and proud of myself.
Gua terus mencoba belajar dan belajar. Mencoba menyesuaikan diri dengan keadaan bahkan gua sering sharing dengan orang yang pengalaman nya lebih banyak. Untuk motivasi tambahan karena memotivasi diri sendiri memang lebih sulit dibanding memotivasi orang lain. Ngerasa salut sama teman-teman gua yang selangkah lebih maju daripada gua. Sedangkan gua masih disini-sini aja.
Membayangkan gimana nantinya gua setelah lulus kalau gua masih gini-gini aja, ngebuat gua mulai mikir, bisakah gua keluar dari comfort zone as an introvert? Dan pertanyaan itu yang berulang-ulang kali terbersit di otak gua even sampai detik ini. Aneh memang, ketika lo udah punya label tapi masih belum tahu apa yang harus dilakuin dan masih belum yakin. It’s really funny enough, dude.
Everytime gua selalu ngeluh, ngeluh dan ngeluh. Gua selalu menjadikan kepribadian gua yang introvert ini sebagai tembok pembatas bagi gua untuk bisa melakukan apa yang orang lain bisa lakukan. Dan ujung-ujungnya gua minder dan kurang percaya diri. Padahal Gua tahu kapasitas otak dan kemampuan diri gua ini tidak se-kecil yang gua bayangin. Bahkan mungkin gua bisa lebih daripada apa yang selama ini gua khawatirkan. Gua masih terus belajar untuk meyakinkan hati dan nurani gua. Think positive , berusaha berdamai dengan keadaan, not underestimate diri sendiri atau even sampai blaming choice of God, Astaghfirulloh.
Karena gua yakin Allah SWT kasih pilihan yang menurut-Nya baik.
Subscribe to:
Posts (Atom)