Friday, October 27, 2017
Three Thousand Rupiah/day
Judul nya ko gitu?
Ya. Karena gue akan cerita bagaimana bekerja dengan upah 3.000/hari.
Setaun yang lalu gue lulus dari akademi. Lalu akhirnya gue melamar pekerjaan dari satu gedung ke gedung berikunt nya. Sambil menunggu ada yang masuk jaring-jaring laba-laba gue, akhirnya gue memutuskan untuk bekerja di rumah orang.
Awalnya gue cuma iseng, karena gue berniat nyari ilmu baru dan "numpang" mengasah skill gue. Setelah 5 bulan gue bekerja sebagai seorang asisten, gue mikir, are you sure? Dengan pekerjaan sebanyak dan se-hectic ini gue dibayar cuma 3.000/hari. Ditambah dengan "molor" nya tanggal gajian. Gue masih yakin mau lanjut?
Gue terus mikir dan mikir. "Feb, Elu kuliah bukan pake daun, emak bapak lu juga nyari duit bukan hasil minta sama jin botol yang bisa ngasih 3 permintaan. Dan elu masih mau bertahan? Sama aja elu mendzolimi diri lu dan keringat emak bapak lu." Batin gue protes.
Finally, gue menyudahi pekerjaan gue yang terlihat memang tidak layak itu.
terus gue jobless dong? Yes. I was.
Pengangguran yang keluar kerja gara-gara di kasih upah 3.000/ hari. Gue lebih baik hidup sebagai pengangguran daripada gue kerja capek tapi gaji gue ga sepadan. Zaman sekarang, Asisten rumah tangga, cashier, waitress, OB di kasih upah lebih dari itu. Taro lah, upah mereka satu bulan satu juta yaa kurang lebih berarti mereka per hari 30.000. Sepuluh kali lipat dari upah gue. What the hack?
Gue sangat tahu, cari uang dijaman milenium ini ga gampang. Susah nya minta ampun. Dan gue malah melepas si 3.000/per hari ini.
Intinya begini, gue bukan manusia yang kurang bersyukur. Gue sangat faham, masih banyak orang diluar sana yang bekerja sekuat tenaga tapi upah ga sebanding. Masih banyak mereka yang rela kotor-kotor-an, yang rela panas-panas-an, yang rela ga tidur demi upah yang tidak seberapa - yang penting mereka bisa makan buat hari ini.
Gue salut dengan mereka yang bekerja tanpa mengeluh dan protes dengan ketidakadilan yang mereka hadapi. Tapi bagi gue, pekerjaan itu bukan hanya dilihat dari mana dia asal, dilihat dari lulusan mana, dilihat dari cantik atau jelek, dilihat dari miskin atau kaya. Poinnya adalah bagaimana sikap dia pas bekerja, seberat apa resiko yang akan dia tanggung, dan hasil daripada pekerjaan nya seperti apa (rapihkah? bagus kah? - Intinya kepake apa enggak). Upah pun musti nya mengikuti. Kalau pekerjaan nya terlihat memiliki resiko banyak, atau orang yang bekerja itu terlihat bagus dalam bekerja, ya tidak ada salah nya upah sama besar nya dengan semua itu.
Gue memang belum pernah memperkerjakan orang. Gue tidak begitu faham bagaimana caranya, itung-itungannya seperti apa. Yang jelas gue sebagi pekerja merasa tidak adil dengan semua itu. Setidaknya memperkerjakan orang musti melihat bagaimana resiko dan seberat dan se-hectic apa pekerjaan nya. Dan kiranya, lebih menghargai tenaga dan kerja keras.
Gue hanya pekerja, Gue siap ditegur kalau pekerjaan gue banyak yang kurang atau tidak sesuai dengan standar ditempat kerja, gue siap menerima konsekuensi apapun dari pekerjaan gue. Itu kewajiban gue sebagai pekerja.
Nah, bukan cuma kewajiban dong tapi gue pun punya hak sebagai pekerja yaitu mendapat upah sesuai berat resiko yang ditanggung. Bukan hanya diambil tenaga nya. Oh, man. Menghasilkan tenaga butuh asupan, butuh makan dan makanan butuh dibeli, pake apa? ya jelas pake rupiah dong. That's it.
Tapi, hidup ini memang punya segudang rahasia. Dari kejadian si 3.000 rupiah/hari ini, gue jadi lebih menghargai "keringat" orang terutama orang tua gue. Ga ada pekerjaan rendahan atau hina. Semua pekerjaan sama. Punya konsekuensi masing-masing. Yang paling penting adalah bagaimana kita bersikap memanusiakan manusia. Karena kita manusia.
Sekian, ocehan receh dari seorang mantan pekerja 3.000 rupiah/hari, seorang mantan pengangguran, dan kini menjadi seorang freelance. (Masih mencari dan terus mencari)
Friday, October 13, 2017
Life is not a race (Makasih buku Rentang Kisah)
Baru-baru ini gue baca buku karya Gita Savitri Devi. Dia adalah seorang blogger, vlogger, dan mahasiswa (sekarang udah lulus S1 tapi katanya mau lanjut S2). Yang buat gue suka adalah dia seorang Introvert yang keren. Yang notabene seorang introvert kadang di lihat aneh karena mereka yang ansos. Because, I am an Introvert too.
Bukan mau ngebahas soal Introvert, tapi gue disini mau me-review one of the favorite part of her book. Ya, Life is not a race -Hidup bukan sebuah ajang perlombaan.
Gue setuju sama apa yang dikatakan oleh buku Rentang Kisah ini. Hidup bukan untuk berlomba-lomba dapetin ini dan itu. Hidup bukan melulu soal cepet-cepet-an lulus, nikah, kerja, kaya, banyak uang, atau bahkan dulu-dulu-an punya anak. Hidup itu cukup dijalani, di ikhtiar-i dan di doa-i. Sisanya kita serahkan saja sama Allah swt.,. Toh, kita cuma manusia. Setiap kita pasti punya masa dimana kita merasakan / mendapatkan hal yang sama dengan orang lain meskipun dengan jalan yang berbeda - berliku, naik turun, atau lurus-lurus aja. Atau mungkin kita akan bisa mendapatkan yang lebih dari mereka karena kesabaran dan ikhtiar yang kita lakukan.
Gue pernah merasa kalau hidup gue gini-gini aja. Stuck ditempat yang itu-itu aja. Sedangkan orang lain udah lari, terbang kesana kemari. Gue masih belajar buat merangkak. Gue masih harus ngerasain yang namanya jatuh, bangun lagi, sakit, kecewa, lelah, dan bosen. Gue sangat ingin segera bisa berdiri supaya gue bisa lari -ngejar orang-orang yang udah duluan lari dari kapan tau. Gue juga sangat ingin meraih apa yang udah orang lain dapetin. Gue juga ingin segera menempati tempat yang lebih 'layak' sama hal nya orang lain.
Gue terus membandingkan hidup gue dengan hidup orang lain. Hidup gue gini, hidup dia begitu.
Setaun sudah gue menjadi seorang freelance. Kerjaan gue terlihat belum jelas. Bahkan bayaran yang gue dapatkan pun terlihat tidak sebanding dengan ijazah yang udah gue dapet. But, I am not a jobless. I have a job. Cuma mungkin penempatan nya saja yang belum jelas.
Tiap hari kerjaan gue selalu dan selalu ngeluh. Gue merasa ko Allah swt., ga adil sama gue. Gue merasa ko jalan hidup gue ga jelas kaya orang lain. Gue masih belum faham hidup ini mau dibuat kaya gimana. Sedangkan yang lain terlihat sangat ter-planning sekali hidup nya. Sedangkan hidup gue? Semrawut.
Orang lain tampak punya another choice kalau plan yang satu belum bisa dicapai. Sedangkan gue? Planning apa yang musti gue buat aja gue ga faham.
Teman-teman satu angkatan gue, teman seusia gue, mereka udah punya hidup yang jelas. Ada yang memutuskan buat menikah, ada yang diterima kerja, atau ada juga yang lanjut kuliah. Sedangkan gue? Menikah? sayangnya, otak gue belum nyampe ke arah situ. Kerja? Gue udah melamar kerja dari satu gedung ke gedung lain tapi alhasil belum ada yang masuk jaring laba-laba gue. Kuliah lagi? I don't have much money.
Jadi gue ini musti gimana dong?
Nah, part dari buku Rentang Kisah ini lah yang buat gue sadar kalau hidup bukan ajang lomba cepet-cepetan. Hidup itu musti ikhlas katanya. Inget, cuma satu. Gue cuma manusia. Bukan Tuhan yang udah punya skenario nya. Gue cuma musti menjalankan apa yang udah ada di depan mata. Tanpa harus protes atau mengeluh.
Saat gue mencoba belajar ikhlas, pasrah, rezeki Allah swt., layak nya air hujan yang ga pernah berhenti kalau Allah swt., belum merintah. Bahkan gue ga minta pun Allah swt., selalu kasih gue limpahan rezeki. Apalagi kalau gue dari dulu udah ikhlas. Allah swt., bakal ngasih lebih dari itu. Sebegitu sayang nya Allah swt., sama manusia tukang ngeluh kaya gue.
Hidup yang terlalu 'ngoyo', membuat gue menjadi manusia yang ga pernah bersyukur atas apa yang udah Allah swt., kasih. Hidup yang terlalu buru-buru bikin gue tidak menikmati setiap detik yang gue punya. Hidup yang terlalu mengikuti hawa nafsu bikin gue lelah. Hidup yang terlalu 'mendongak' membuat gue ga pernah melihat apa yang ada di bawah.
Akhirnya gue sadar. Mungkin, dari masa penantian menuju hidup yang lebih baik ini, Allah swt., memberikan banyak pelajaran, pengalaman agar gue bisa hidup lebih kuat dari pada orang lain. Gue dibentuk Allah swt., agar selalu bisa menjadi manusia yang lebih sabar dan tawakal. Gue percaya, hidup di dunia ini semua nya butuh proses. Yang instan kurang asik. Gue berusaha menuruti jalan yang udah Allah swt., gariskan. Kelak Allah swt., bakal ngasih gue kejutan dari setiap sabar, ikhtiar, ikhlas yang gue lakukan.
Jadi buat apa merasa paling belakang, merasa paling tertinggal, merasa paling terabaikan dibanding orang lain? Setiap manusia punya kisah, punya jalan hidup yang berbeda. Yang penting adalah ikhtiar, Doa, dan tawakkal.
Bukan mau ngebahas soal Introvert, tapi gue disini mau me-review one of the favorite part of her book. Ya, Life is not a race -Hidup bukan sebuah ajang perlombaan.
Gue setuju sama apa yang dikatakan oleh buku Rentang Kisah ini. Hidup bukan untuk berlomba-lomba dapetin ini dan itu. Hidup bukan melulu soal cepet-cepet-an lulus, nikah, kerja, kaya, banyak uang, atau bahkan dulu-dulu-an punya anak. Hidup itu cukup dijalani, di ikhtiar-i dan di doa-i. Sisanya kita serahkan saja sama Allah swt.,. Toh, kita cuma manusia. Setiap kita pasti punya masa dimana kita merasakan / mendapatkan hal yang sama dengan orang lain meskipun dengan jalan yang berbeda - berliku, naik turun, atau lurus-lurus aja. Atau mungkin kita akan bisa mendapatkan yang lebih dari mereka karena kesabaran dan ikhtiar yang kita lakukan.
Gue pernah merasa kalau hidup gue gini-gini aja. Stuck ditempat yang itu-itu aja. Sedangkan orang lain udah lari, terbang kesana kemari. Gue masih belajar buat merangkak. Gue masih harus ngerasain yang namanya jatuh, bangun lagi, sakit, kecewa, lelah, dan bosen. Gue sangat ingin segera bisa berdiri supaya gue bisa lari -ngejar orang-orang yang udah duluan lari dari kapan tau. Gue juga sangat ingin meraih apa yang udah orang lain dapetin. Gue juga ingin segera menempati tempat yang lebih 'layak' sama hal nya orang lain.
Gue terus membandingkan hidup gue dengan hidup orang lain. Hidup gue gini, hidup dia begitu.
Setaun sudah gue menjadi seorang freelance. Kerjaan gue terlihat belum jelas. Bahkan bayaran yang gue dapatkan pun terlihat tidak sebanding dengan ijazah yang udah gue dapet. But, I am not a jobless. I have a job. Cuma mungkin penempatan nya saja yang belum jelas.
Tiap hari kerjaan gue selalu dan selalu ngeluh. Gue merasa ko Allah swt., ga adil sama gue. Gue merasa ko jalan hidup gue ga jelas kaya orang lain. Gue masih belum faham hidup ini mau dibuat kaya gimana. Sedangkan yang lain terlihat sangat ter-planning sekali hidup nya. Sedangkan hidup gue? Semrawut.
Orang lain tampak punya another choice kalau plan yang satu belum bisa dicapai. Sedangkan gue? Planning apa yang musti gue buat aja gue ga faham.
Teman-teman satu angkatan gue, teman seusia gue, mereka udah punya hidup yang jelas. Ada yang memutuskan buat menikah, ada yang diterima kerja, atau ada juga yang lanjut kuliah. Sedangkan gue? Menikah? sayangnya, otak gue belum nyampe ke arah situ. Kerja? Gue udah melamar kerja dari satu gedung ke gedung lain tapi alhasil belum ada yang masuk jaring laba-laba gue. Kuliah lagi? I don't have much money.
Jadi gue ini musti gimana dong?
Nah, part dari buku Rentang Kisah ini lah yang buat gue sadar kalau hidup bukan ajang lomba cepet-cepetan. Hidup itu musti ikhlas katanya. Inget, cuma satu. Gue cuma manusia. Bukan Tuhan yang udah punya skenario nya. Gue cuma musti menjalankan apa yang udah ada di depan mata. Tanpa harus protes atau mengeluh.
Saat gue mencoba belajar ikhlas, pasrah, rezeki Allah swt., layak nya air hujan yang ga pernah berhenti kalau Allah swt., belum merintah. Bahkan gue ga minta pun Allah swt., selalu kasih gue limpahan rezeki. Apalagi kalau gue dari dulu udah ikhlas. Allah swt., bakal ngasih lebih dari itu. Sebegitu sayang nya Allah swt., sama manusia tukang ngeluh kaya gue.
Hidup yang terlalu 'ngoyo', membuat gue menjadi manusia yang ga pernah bersyukur atas apa yang udah Allah swt., kasih. Hidup yang terlalu buru-buru bikin gue tidak menikmati setiap detik yang gue punya. Hidup yang terlalu mengikuti hawa nafsu bikin gue lelah. Hidup yang terlalu 'mendongak' membuat gue ga pernah melihat apa yang ada di bawah.
Akhirnya gue sadar. Mungkin, dari masa penantian menuju hidup yang lebih baik ini, Allah swt., memberikan banyak pelajaran, pengalaman agar gue bisa hidup lebih kuat dari pada orang lain. Gue dibentuk Allah swt., agar selalu bisa menjadi manusia yang lebih sabar dan tawakal. Gue percaya, hidup di dunia ini semua nya butuh proses. Yang instan kurang asik. Gue berusaha menuruti jalan yang udah Allah swt., gariskan. Kelak Allah swt., bakal ngasih gue kejutan dari setiap sabar, ikhtiar, ikhlas yang gue lakukan.
Jadi buat apa merasa paling belakang, merasa paling tertinggal, merasa paling terabaikan dibanding orang lain? Setiap manusia punya kisah, punya jalan hidup yang berbeda. Yang penting adalah ikhtiar, Doa, dan tawakkal.
Subscribe to:
Posts (Atom)