Sunday, December 2, 2018

Story Telling : Part 2




Mencari Jati Diri 

(Bagaimana caranya meyakinkan orang tua?)


Kemarin gue sudah membahas tentang apa yang terjadi dalam hidup gue beberapa hari kebelakang. Semua yang terjadi membuat gue menemukan jalan terang untuk bisa mencari jati diri, menentukan jalan hidup gue mau dibawa kemana.

Diawal gue memasuki usia dewasa. Jujur, gue masih shallow tentang hal yang berbau Masa depan. Why? Padahal gue kuliah yang kata kebanyakan orang, you know- udah punya masa depan yang cerah. hmm... But, I dont think so. Bagi gue, sekolah setinggi apapun kalau kita masih meraba-raba jalan apa yang bakal diambil, step by step apa yang musti nya sudah dipersiapkan, yaa at the end of the day bakal bingung juga.

Justru jalan hidup itu gue temukan seusai gue lulus kuliah. Pas kuliah, boro-boro gue punya ancang-ancang hidup kedepan mau seperti apa. Gue gak bolos pas ngampus aja udah bersyukur. 

Banyak yang bilang, "The real of life is when you are end of your college"
and that's true. Pas, gue lulus tiba-tiba aja pikiran gue nge-switch otomatis gitu. 
"Gue mau kemana sekarang?"
"Apa yang mau gue lakuin dulu nih?"
"Gue mau kerja dimana nih?"
"Kalau ngelamar kerja masih belum dapet panggilan, gimana nih?"

#1 
Bulan lalu, gue pergi ke Jogja. For the first time, I go there alone without my parents. cause I always go anywhere with them before. Gue mau cerita sedikit tentang bagaimana gue dibesarkan dilingkungan yang overprotective, over-worried, over segala-galanya. I know, All they do is because They care to me and I am  just a girl who dont know anything about this world, how the world works. Mungkin disatu sisi gue adalah seorang perempuan yang banyak memiliki peluang untuk "diganggu" atau karena memang pada umumnya perempuan harus memiliki perlindungan ekstra. Oke, gender is here. 

Gue sangat ingin diberikan kepercayaan untuk bisa hidup mandiri dan menentukan jalan hidup gue sendiri. Tapi, itu susah dan butuh waktu yang sangat lama sampai akhirnya gue bisa diperbolehkan pergi sendiri ke jogja. Orang tua itu butuh pembuktian bukan sekedar omongan belaka. Ketika gue cuma bercerita tentang keinginan gue pergi ke jogja seorang diri, orang tua tidak pernah mengizinkan. Tapi, ketika kemarin gue memberanikan diri untuk sampai akhirnya tiba di jogja dengan selamat dan kembali dengan sehat. Perlahan mereka bisa memberikan separuh kepercayaan ke gue. 

Awalnya hanya untuk liburan. Karena gue sangat ingin berlibur ke luar kota sejak lama. Kedua kalinya gue ke jogja untuk melatih keberanian gue, untuk mencoba keberuntungan gue, untuk melatih diri gue berani dalam mengambil segala keputusan untuk diri gue sendiri tanpa turut campur orang tua. Gue rasa yang dibutuhkan kali ini adalah doa dan kepercayaan sepenuhnya dari mereka. Setelah itu gue selalu yakin keberuntungan akan selalu menyertai hidup gue. 

Gue memang belum mapan. I dont have anything except DREAM, HOPE and PRAY.
Tapi, gue bangga dengan diri gue sendiri karena gue sudah bisa sedikit demi sedikit meyakinkan orang tua bahwa gue bisa hidup mandiri. Gue bisa berkelana seorang diri. Gue bisa menentukan jalan mana yang bakal gue tempuh. Gue sudah tidak lagi terikat dengan semua rules yang orang tua buat untuk hidup gue. 

Susah. Sangat. But, I will try to do it by myself

Thursday, August 23, 2018

Story Telling : Part 1

WHAT HAS HAPPENED TO MY LIFE ?

Rasanya gue sudah lama tidak story telling disini. Rindu sekali. Terakhir kalau tidak salah
sekitar pertengahan bulan kemarin. Oke. Memang baru satu bulan. Lebay kah? Tidak ah. Gue biasanya cuwit-cuwit setiap sebulan dua atau tiga kali.

Banyak hal yang terjadi dalam sebulan ini. Mau tahu? Baiklah gue mulai saja cerita dongeng yang kadang ngawur dan bikin orang males baca.

Pertama, Gue sedang sibuk apa sekarang?

Sebentar feb, memang nya lu orang sibuk? Bukankah dari dulu elu emang gini-gini aja, ya?
Gue memang bukan orang sibuk, bukan orang yang punya jadwal paten. Tapi gue manusia yang setidaknya punya kegiatan. Gue manusia yang pastinya punya banyak cerita dan hal yag terjadi dalam hidupnya. Penting atau tidak penting.

Gue sekarang sedang sibuk mencari jati diri. Setelah gue memutuskan untuk cuti satu bulan dari pekerjaan yang sebenernya tidak begitu membosankan, tidak begitu ruwet atau bahkan hectic kayak kebanyakan orang yang kerja kantoran, kerja 9-14, kerja yang punya list per-hari nya. Pekerjaan gue tampak santai lah ya. Tapi, justru karena terlalu santai itu lah gue malah sering ngelamun babu.

“Mau dibawa kemana hidup gue?”
“Kapan gue bisa kayak orang-orang yang bisa pakai seragam?”
“Kapan gue punya penghasilan banyak so gue bisa traveling kemana pun gue mau?”
“Gue pengen banget beli ini beli itu, pergi kesana pergi kesini kayak orang-orang.”

Oke. Stop ngelamun babu nya.

Gue sebenernya bukan tipikal manusia yang bisa kerja dikejar deadline, lembur, nulis begadang sampai mampus dan lupa makan, kerja yang “diatur”, kerja yang kebanyakan ngobrol dan hahaha-hihihi. Terus gue ini tipikal manusia apa? Jawabannya, Slow but sure. Manusia yang suka dengan hal yang berbau santai. Kerjaan yang santai tapi pasti. Kerjaan apa itu? Entahlah. Gue juga belum menemukan pekerjaan yang pas dengan kepribadian gue ini.

Lah, bukannya pekerjaan gue yang sekarang santai ya? Iya. Tapi tidak pasti. Masih abu-abu.

Kembali ke pertanyaan awal. Gue ngapain aja selama ini?

I am trying something new. Berdagang.

Dengan kemampuan matematika gue yang minim dan lelet dalam berhitung, gue memberanikan diri menggantikan kakak gue berjualan di sebuah pasar sandang. Posisi gue memang sudah enak. Iya, gue bukan karyawan. But, for a while I am an owner. Replace my sister. Bukan berarti gue seenaknya mengatur atau tiba-tiba mem-bossy. But, I am learning from them.

Belajar dengan mereka yang sudah betahun-tahun bekerja di toko kakak gue. Bagaimana cara berdagang yang baik. Bagaimana hidup sebagai seorang pedagang. Bagaimana beradaptasi dengan dunia yang belum pernah gue kenal sebelumnya. Lingkungan yang asing bagi gue yang sehari-hari nya cuma duduk manis melayani pasien. Aroma yang sangat beda degan ruang obat. Suasana yang tiba-tiba ramai dibanding ruang periksa yang hening. 

Gue juga belajar bagaimana cara nya mencari nafkah yang halal. Bagaimana cara menghargai setiap peluh yang jatuh. Bagaimana cara nya bekerja keras dan sabar. Bagaimana cara nya hidup dimulai dari nol. Bagaimana cara menyambung hidup daan banyak lagi.

Ternyata hidup itu unik.

Terkadang orang banyak mengeluh padahal kalau dilihat hidup nya sudah cukup baik. Karena masih banyak diluar sana orang yang selalu bersyukur walau penghasilan kadang hanya cukup untuk makan hari ini. Gue gak mau jauh-jauh bahas koruptor yang selalu gak cukup walau duit nya melimpah ruah. Ini renungan untuk diri gue sendiri. Sejauh ini apakah gue sudah bersyukur dengan apa yang gue punya? Gue rasa belum. Kebanyakan ngeluh, iya.

Lalu gue ini manusia apa?

Gue selalu membuat rumit hidup cuma gara-gara orang lain sudah duluan memetik hasil sedangkan gue disini-sini aja. Inget feb, mereka sudah mulai usaha duluan ketika elu masih nyantai-nyantai aja. Mungkin mereka lebih maksimal usahanya dibanding elu yang kadang maju-mundur. Mereka bersungguh-sungguh dibanding elu yang masih main-main. Mereka sudah punya tujuan dibanding elu yang masih ngambang.

Pasar membuat gue belajar bahwa tidak ada kasta dalam sebuah pekerjaan, tidak ada kasta dalam kehidupan, tidak ada kasta bagi sang Pencipta.  Ini hanya soal usaha dan hasil akhir. Siapapun kita, apapun pekerjaan kita, sekolah atau tidak, kalau kita terus berusaha dan selalu bersyukur hidup akan terasa lebih enteng daripada ngelamun babu yang bikin berat dipundak. Bikin susah bangkit karena kebanyakan ngayal babu.

We are same.

Jadi dari sinilah, gue mulai berpikir untuk menjalani apapun yang sekarang terjadi dihadapan gue. Mencoba bodo amat sama nyinyiran manusia yang tidak ada kontribusi nya sama hidup gue. Mencoba melatih diri gue untuk selalu bersyukur terhadap apapun nikmat yang sudah dikasih. Let it flow.

Kalau ada yang tanya, gue kerja apa sekarang?

I am a Freelance.

Disambung besok ya, guys. Terimakasih. Story telling bersambung dulu.


Saturday, July 21, 2018

MIMPI DAN CITA-CITA




Apa mimpi itu ?

Apa Cita-cita itu ?

Baiklah, disini gue akan bercerita bagaimana cara gue mewujudkan mimpi gue satu persatu,  bagaimana gue merealisasikan cita-cita gue dan bagaimana cara gue membagi waktu mewujudkan keduanya.

Sebentar, gue pernah cerita kalau gue tidak pernah punya cita-cita seperti kebanyakan orang. Itu memang benar. Sedari kecil yang gue lakukan hanya fokus belajar agar menjadi juara kelas dan membuat ibu dan ayah bangga. Gue tidak pernah tahu tujuan gue menjadi juara kelas kedepan nya bagaimana, hubungan nya dengan masa depan gue apa-gue gak pernah tahu. All I do is just for my Mom and Dad.

Sempat terlintas di hati kecil gue, I wanna be a translator (for president, Minister or just as a tour guide, maybe) but the point is I wanna be a person who can speak many language because for me seems like cool. I’ve been thinking that if I can be a translator- I can travel around the world. I can communicate with many people from another country with different language absolutely, and (again)  it seems like amazing.

Itu yang gue temukan di otak kecil gue. Entahlah, itu cita-cita atau mimpi. Yang jelas kenapa gue suka dengan bahasa karena sejak gue kelas 4 SD ibu sudah memasukkan gue ke english course yang tentunya disana gue bertemu dengan bahasa inggris. Dari situlah gue menemukan kemampuan diri gue adalah berbahasa asing. Meskipun gue sadar bahasa inggris gue masih berantakan.

Lambat laun, seiring berjalan nya waktu. Gue pun tentunya tumbuh dan berkembang. Semakin dewasa semakin gue mikir “Gue mau jadi apa?”. Yang tadinya cuma lurus-lurus aja, nyantai-nyantai ­ aja­, yang juga cuma mikir bagaimana besok gue bisa dapet nilai bagus pas pelajaran kimia, matematika, fisika atau yang lainnya-terpikir “Sebenernya yang gue lakukan selama ini, tidur malem ngerjain tugas, dapet nilai bagus lalu menjadi juara kelas, semuanya untuk apa? Sedangkan gue sama sekali tidak tahu ke depannya mau jadi seperti apa?”

THAT’S A BIG QUESTION OF MY LIFE.

Yang pastinya lebih memusingkan dari sekedar ditanya “Kapan Nikah?”

Oke, baiklah. Diawal gue bilang akan memberitahu bagaimana seorang gue mewujudkan mimpi-mimpi nya yang padahal sejak dulu sampai detik ini gue belum tahu apa mimpi gue.

Begini, sebagai seorang introvert yang kerjanya hanya melamun, mengurung diri dikamar, asik dengan dunia nya, malas bersosialisasi dan hanya memandang atap-atap langit sembari sesekali ketika bosan mengambil buku untuk dibaca. Gue merasa, hidup gue ini terlalu nyaman. Gue tidak pernah mencoba mem-push diri gue sendiri agar berani keluar bertemu dengan orang-orang baru. Gue hanya nyaman sendiri. Dari situlah gue mikir, kenapa gue tidak mencoba keluar dari zona nyaman gue sebagai seorang introvert? Gue setiap hari hanya melamun, berandai-andai bisa bertemu banyak orang baru yang akan membuat cerita dan pengalaman baru dalam hidup gue. Mungkin gue rasa itu bisa disebut sebagai mimpi gue. Mimpi yang berasal dari sebuah lamunan random.

Mimpi gue mungkin terlalu sederhana. Tapi, sangat bermakna.

Gue jadikan lamunan menjadi sebuah mimpi yang menjadi kenyataan.

Pertama, gue bertemu dengan komunitas Gubuk Ide yang kegiatan nya mengajak anak-anak untuk hobi membaca, ya minimal suka membaca. Di Gubuk Ide ini-mereka mengumpulkan buku-buku dari donatur-donatur seperti dari sebuah penerbit buku mayor maupun minor. Gue suka kegiatan dari komunitas ini. Karena gue suka dengan hal-hal asik semacam ini. Tapi, sayang nya gue tidak terlalu lama disana karena waktu yang tidak memungkinkan gue terus berada disana. Dari sini lah, gue memberanikan diri bertemu orang yang baru pertama kali berkenalan-yang awalnya hanya saling sapa lewat jejaring sosial. Canggung? Pasti. Bingung harus bicara apa untuk memulai percakapan. Tapi setidaknya gue mulai berani keluar daro zona nyaman gue dan bertemu orang baru. Tambahannya, temen gue bertambah.

Lalu kemudian gue bertemu dengan Kelas Inspirasi Cirebon (KIC). Komunitas ini memiliki kegiatan mengunjungi sekolah-sekolah (SD terutama) untuk memberikan mereka motivasi dan juga saling berbagi cerita tentang cita-cita. Karena relawan yang hadir di komunitas ini dari berbagai profesi. Disana gue ikut sebagai divisi survey. Mekanisme kerjanya kurang lebih yang gue tangkap dari setiap kopdar (karena gue jarang ikut briefing)-menyurvei sekolah-sekolah yang akan didatangi relawan inspirator untuk diberikan beberapa motivasi, berbagi cerita dan pengalaman atau semangat kepada anak-anak. Lagi, karena satu dan lain hal gue tidak terlalu ikut serta atau aktif disini. Waktu luang gue kali ini hanya ada saat weekend  sedangkan divisi survey bergerak ketika hari-hari biasa. Bukan tentang tidak tepatnya waktu gue dengan komunitas ini, tapi manfaat nya yang gue rasakan itu banyak. Lagi dan lagi gue tidak pernah bosan bilang disini gue mendapat pengalaman dan teman baru pastinya. Ilmu baru dan pemahaman baru tentang orang-orang diluar sana.

Yang gue tangkap dari cerita dan kegiatan yang gue ikutin selama ini, ternyata mimpi gue adalah sesimpel bertemu orang baru, berkomunikasi dengan orang baru, bermanfaat untuk banyak orang, dan juga bisa menghirup udara luar bukan hanya menghirup udara dari pendingin ruangan.

Mewujudkan mimpi itu adalah dengan memberanikan diri keluar dari zona nyaman. Tidak meng-underestimate diri sendiri. Semua akan mungkin jika kita yakin itu akan terjadi. Berdiam diri bukan hanya membuat impian membeku tapi juga mencair sia-sia. Sesederhana apapun sebuah mimpi, tetap butuh sebuah keberanian untuk mewujudkannya.

Cerita gue akan berlanjut. Terimakasih telah membaca.

x

Wednesday, June 13, 2018

The Purpose of life

Menjadi seorang yang masih hidup mengikuti bagaimana arus yang sedang dibuat oleh Allah, gue banyak belajar bahwa arus hidup itu misterius, banyak kejutan, banyak jalan, asik. Meskipun terkadang adakalanya membosankan.

Sejak usia gue masih sebiji jagung sampai di titik  dimana gue udah banyak dipusingkan dengan pertanyaan “Kapan Nikah?”-gue masih belum mengerti sedang apakah gue? Mau jadi seperti apakah gue? Akan jadi sosok seperti apakah gue?

Mungkin karena hidup gue terlalu banyak di manage sama keinginan orang tua yang gue cuma musti manut dan melakukan apa yang harus dilakukan tanpa tahu apa yang sebenernya ingin gue lakukan. Mungkin gue agak terlambat di usia yang sudah seharusnya faham mau ngapain. Gue malah masih nyari jati diri, masih nyari the purpose of life. Ya, I think better late than never. Gue merasa masih jalan di tempat dibanding orang lain yang udah lari kesana-kemari. Gue masih stuck ditempat yang sama, dilingkungan yang sama, dihabitat yang sama, di comfort zone gue. Karena orang tua gue terlalu membatasi ruang gerak gue. I never blame them. I know, they wanna be good parents for me. Overprotective is mean that they love me. Cuma mungkin gue terkadang susah untuk meyakinkan mereka bahwa gue ingin melakukan apa yang gue suka. Just once tho.

Pada akhirnya gue hanya menghabiskan keseharian gue dengan menulis blog, baca berita di social media, nyari wadah (baca: komunitas atau organisasi) yang isinya orang-orang baik, kreatif dan pastinya peduli sama sosial. Gue banyak menemukan akun-akun bermanfaat di Instgaram maupun twitter atau kanal-kanal kreatif di Youtube. Gue “ketemu” banyak influencer disana. Kegiatan positif mereka yang gue ingin sekali hadir bersama mereka. But, I cant do that. Because I know my parents not allow me to join. Lalu gue bertemu Kelas Inspirasi Cirebon (KIC) lewat Instagram. Awalnya gue ikutan komunitas ini hanya ingin punya banyak kawan dan nambah pengalaman lalu sedikit ikut belajar memahami tujuan komunitas ini. Lalu akhirnya gue menyukai nya. Selain banyak bertemu orang baru juga komunitas ini masih ada hubungan nya dengan sosial. Lebih utamanya adalah bahwa komunitas ini memiliki tujuan yang keren yaitu menginspirasi banyak anak-anak akan pentingnya ilmu pengetahuan, akan penting nya sekolah, akan penting nya punya cita-cita setinggi mungkin. Terlepas dari siapa mereka atau latar belakang nya apa. Karena semua manusia berhak punya mimpi.

Meskipun gue gak bisa sepenuhnya hadir diacara-acara atau kegiatan penting yang diselenggarakan komuniats KIC ini, gue merasa bangga jadi bagian dari kaka-kaka hebat yang sudah lebih dulu “hidup” didalam komuintas ini. Telah banyak menginspirasi anak-anak di berbagai tempat. Komunitas ini telah membuat gue menemukan satu dari beberapa tujuan hidup gue. Bermanfaat untuk orang lain. Tak lupa juga, karena komunitas ini juga membawa gue kedalam dunia baru yaitu sosialisasi. Bagi manusia goa, manusia introvert, manusia cuek, bertemu dengan banyak orang asing membuat nyali gue ciut, males, kikuk karena gue tipikal manusia yang tidak mengerti bagaimana mengawali sebuah percakpan dengan orang asing.

Ketemu orang baru iu ternyata menyenangkan. Perbedaan sifat, sikap, dan kebiasaan yang sedikit banyak gue belajar bahwa hidup itu luas. Manusia itu banyak. Gak melulu yang itu-itu aja. Gak melulu yang begitu-begitu aja. Gak melulu yang haha-hihi aja. Masih banyak orang di dunia ini yang bisa diajak ngobrol tentang hidup. Masih banyak orang yang bisa diajak diskusi tentang hal yang berfaedah. Masih banyak orang yang peduli sama masa depan orang lain. Lalu selama ini gue masih egois dengan pikiran gue tentang masa depan yang gini-gini aja? Padahal orang lain malah banyak yang peduli dengan hidup orang lain.

Membahagiakan orang lain itu hal yang luar biasa. Menyemangati hidup orang lain itu keren. Menjadi bagian dari mereka yang butuh kehadiran kita itu sangat perlu. Bukan, bukan ikut campur. Hanya saja bertumbuh bersama mereka, belajar bersama mereka, berusaha berdiri dan bangkit meraih cita-cita bersama akan lebih menyenangkan dibanding hanya berjuang sendiri, memikirkan masa depan sendirian tapi bahkan kita tidak sama sekali memikirkan bisa bermanfaat buat sesama. Hidup kayak meaningless.

Diperjalanan gue mencari jati diri dan the purpose of life- mempertemukan gue dengan beberapa hal bahwa hidup musti bermanfaat untuk orang lain, sekecil apapun hal yang kita lakukan. Juga, hidup bukan melulu soal gue, gue dan gue. Tapi ada mereka yang masih menerima gue  untuk bergabung menjadi kita. Ada mereka yang siap mengajarkan gue bagaimana cara nya hidup, bagaimana caranya menemukan jati diri gue, dan bagaimana menemuka tujuan hidup gue.

Perjalanan ini bukan akhir atau pertengahan tapi awal. Dimana artinya masih banyak yang bakal Allah kasih ke gu, masih banyak pelajaran yang bakal gue dapet dari perjalanan hidup gue ini, masih banyak manusia yang bakal gue temuin diluar sana, sehingga nantinya bisa membentuk diri gue menjadi manusia yang seutuhnya. Manusia yang punya tujuan hidup sesuai apa yang Allah mau.

Baiklah, kawan-kawan. Hari ini segini dulu. Nanti gue lanjut lagi. Terimakasih sudah menyimak ocehan garing gue. Selamat malam.

Sunday, April 8, 2018

Ayo kenalan, sayang!

Beberapa hari yang lalu gue mencoba berdiskusi dengan otak gue tentang sebuah rasa yang sering disebut dengan rasa sayang.

“Dari mana datang nya sayang?”(dari mata mu mata mu.... ok skip)

“Katanya berawal dari rasa nyaman.”

“Berarti ketika nyaman sudah tidak ada lagi, maka begitu sajakah rasa sayang akan hilang?”

“Tergantung. Ada yang memilih mempertahankan untuk tetap sayang meski sudah tidak nyaman karena alasan yang kadang susah dimengerti.”

“Kalau begitu, nyaman bukan alasan yang akurat.”

Lalu gue mulai lelah dengan pertanyaan yang tak kunjung ada jawaban yang bisa membuat gue yakin. Semuanya masih terasa samar. Kapan gue menafsirkan bahwa gue sedang sayang? Bagaimana gue menyadari bahwa gue sedang sayang? Apakah sayang harus diikuti dengan sebuah alasan yang masuk akal?

Gue sayang sama orang tua. Gua sayang sama kaka-kaka gue. Apa alasan gue menyayangi mereka? Balas budi kah? gue rasa bukan. Tidak ada yang namanya hutang budi atau balas budi dalam ikatan keluarga. Lantas apa? Nyaman? Tidak juga. Ada kalanya keberadaan mereka membuat gue tidak nyaman. Lalu apa? Entahlah.

Menurut gue, rasa sayang tidak butuh sebuah alasan. Sayang ya sayang. Perhaps, they (who we love) just feel like happy, enjoy and can be themself in front of us. That’s love.

I am not an expressive person. If I love someone that means I really love him/her so much. But, sometimes Idk how I have to tell him/her about my feel. 

Mungkin gue takut ketika gue memberitahu orang yang gue sayang lalu dia bertanya kenapa gue bisa sayang. Because I have no idea with it. Semakin kita punya alasan entah itu berupa fisik, materi, atau bahkan mungkin karena sebuah kenyamanan-itu akan membuat kita akan semakin mudah meninggalkan orang yang kita sayang.

Semua akan ada masanya. Sedangkan bagi gue, sayang tidak pernah punya batas waktu. Dia abadi. Seperti rasa sayang kita terhadap sang pencipta, Allah SWT atau rasa sayang kita terhadap orang tua dan saudara kita.

“Padahal aku udah sayang sama kamu, tapi kamu mengecewakan ku untuk kesekian kalinya. Aku benci kamu.” Terlintas di otak gue sebuah percakapan klise disebuah sinetron.

Nah, inilah yang gue bilang bahwa sebenarnya sayang tidak perlu alasan. Karena akan berujung dengan sebuah kekecewaan.

Terlalu banyak alasan untuk menyayangi sehingga kita terkadang berekspektasi dan mengharapkan sesuatu yang lebih, menginginkan hal yang lebih terhadap orang yang kita sayang. Satu contoh rasa sayang yang dilandasi karena paras nya cantik/tampan. Dari sini, kita akan selalu berharap orang yang kita sayang tampak sempurna dimata kita. Memang nya tidak kasihan dengan mereka yang harus berusaha tampak sempurna didepan kita agar rasa sayang kita terhadap mereka tidak hilang? “Lelah dong disayangin kamu, Dek.”

Just the way you are. (harusnya gitu ga, sih?)

Begitulah kiranya gue sedang mengenal jauh dengan si “sayang” ini.

Lama-lama gue lelah juga. Gue lagi sayang siapa sih? Ko tiba-tiba gue mikirin rasa sayang? Terus gue tau darimana kalau gue lagi ngerasa sayang?

Mungkin gue kambuh. Overthinking terhadap sesuatu yang orang bahkan males buat mikirin. Buang-buang waktu. Tapi, justru gue selalu senang memikirkan hal-hal waste kayak barusan.

Setelah gue telaah, ketika gue merasa menyayangi seseorang maka gue tidak berharap apapun kepada nya. Membebaskan nya menjadi siapapun, melakukan hal apapun, berkata apapun tanpa merasa terbatasi atau tertekan karena keberadaan gue. Sayang itu dari hati, ya ga sih? Bukan dari mulut.

Ketika gue merasa menyayangi seseorang maka gue akan “memperhatikan nya” dari jauh. Gue tidak mau ruang geraknya semakin sempit karena keberadaan gue.

Ketika gue merasa menyayangi seseorang maka gue akan men-support apapun yang dia lakukan selama itu positif. Ketika gue merasa gue menyayangi seseorang maka gue akan berusaha menegur tanpa merasa diintimidasi, memberikan saran tanpa harus merasa digurui dan yang terpenting adalah gue akan berdiskusi dengan dia tentang banyak hal sehingga dia merasa bahwa keberadaan gue tidak menyudutkan atau membebani nya ketika dia melakukan sebuah kesalahan.

Menyayangi bukan membuat mereka yang kita sayang menjadi manusia versi kita.
Agar tidak ada yang merasa kecewa atau dikecewakan.

Terkadang kita bersikap terlalu overprotective  dibalik tameng sayang.

Biarkan mereka hidup dengan versi nya. Rasa sayang kita terhadap mereka yang kita cintai adalah hadiah tambahan yang Tuhan kasih terhadap hidupnya.

Let’s just be fun.

Monday, February 19, 2018

BANDUNG


-Part 1-

Egois tidak selamanya menang

Bandung adalah salah satu destinasi kota yang ingin sekali aku jelajahi dengan kaki ku sendiri. Bukan pertama kali nya aku kesini. Mungkin bisa dibilang ini ketiga kali nya. Mengapa harus Bandung? Karena banyak harapan yang aku sematkan dulu di kota ini. Dulu, aku ingin sekali kuliah di kota Bandung. Hidup disini - melebur - dengan segala kesibukannya. Bandung bagi ku, kota yang sangat ingin aku tinggali. Kota yang ingin aku tulis cerita nya di buku harian ku setiap hari nya. Apa yang aku lakukan, apa yang aku temukan, apa yang terjadi, dan apa-apa lainnya. Intinya, aku ingin membuat kisah di kota ini.

Sekali lagi, angan ku terpatahkan oleh keputusan yang sudah dibuat. Egois ku menjadi-jadi ketika semua angan ku harus rela ku tenggelamkan. Kenapa? Kenapa tidak bisa? Apa alasannya? Padahal aku mampu. Batin ku berontak.

Biasa nya, Aku selalu berhasil meyakinkan dengan sejuta egois ku. Aku selalu berjuang bersama egois ku agar bisa membuahkan hasil. Tapi, untuk sekarang egois ku tak bisa melakukan nya. Kata Tidak yang semestinya selalu membulatkan egois pada hati, seketika melemah dan menyerah. Inikah yang disebut egois tak selamanya menang. Karena Aku selalu melakukan hal yang aku inginkan dengan dasar keegoisan.

Setelah itu, Aku merasa menjadi manusia yang hidup tanpa arah. Angan ku yang sekaligus menjadi kompas hidup ku harus rela aku buang dengan percuma. Aku merenung. Berpikir tapi tak menemukan solusi. Hanya berpikir yang entah dimana titik berhenti nya. Seperti mengayuh sepeda di kala hujan lebat. Terus mengayuh tanpa tahu dimana tempat tujuan. Jarak pandang yang menjadi sempit karena jalan yang di tuju tertutup jutaan air hujan.

Semua berlalu begitu saja. Tiga tahun berlalu sejak hari itu, hari dimana egois ku kalah dengan kenyataan. Tapi, hati ku masih punya harapan untuk berada di kota ini. Berbagai kesempatan selalu aku pikirkan, sekecil apapun kesempatan itu aku selalu berpikir bisa berangkat sendiri ke kota ini. Mungkin Tuhan belum mengizinkan ku untuk berkunjung ke kota ini. Meskipun di otak ku sudah terancang strategi yang sangat terlihat mulus - tapi selalu gagal.

12 februari 2018.

Akhirnya, keinginan ku yang menggebu-gebu selama ratusan hari agar bisa berpijak di kota ini-terlaksana. Pertama kali, aku menghirup udara Bandung-merasa de javu-tapi ini nyata. Indah, sejuk, dingin, bersih dan keren. Mungkin aku tampak norak. Sepupu laki-laki ku menatap ku heran. Dia memang sudah tinggal di kota ini sekitar 5 tahun lebih. Bandung baginya biasa saja. Tidak seperti ku. Berada disini seperti berada di dunia mimpi.

Sebelum ke Bandung, ada hal yang membuat ku berpikir. Ayah yang selalu melarang ku untuk berkunjung ke kota ini akhirnya mengizinkan ku. Awalnya aku tidak percaya. Tapi akhirnya aku sadar. Semua nya butuh proses. Semuanya butuh hal yang biasa disebut dengan sabar. Egois bukan solusi di setiap masalah. Sejak dulu, Egois selalu menjadikan ku manusia yang ambisius-apapun ingin aku dapatkan. Tapi kali ini, tanpa egois aku bisa mendapatkan apa yang aku inginkan.

Mengesampingkan egois, meredam egois demi orang lain memang sangat dibutuhkan. Karena hidup tidak melulu soal diri sendiri tapi ada orang lain. Semua ada masa nya. Aku sadar kalau ke egoisan ku bukan segala nya. Kadang kala dia harus di redam, di kalahkan, di abaikan. Jangan jadikan dia sebagai kebutuhan atau teman mencari solusi.

Perjalanan ku untuk berada di kota ini memang sangat biasa. Perjuangan ku untuk berada di kota ini meski satu hari mungkin terdengar tidak menarik. Tapi bagi ku, ini adalah bagian perjalan hidup yang tidak musti begitu saja aku abaikan. Semua orang mungkin bisa kapan saja datang dan pergi ke kota ini. Tapi tidak bagiku. Butuh ribuan ikhlas demi bisa menginjakkan kaki di kota ini. Butuh ribuan ikhlas karena semua rencana mulus ku kadang gagal dan selalu gagal.

Yang pada intinya adalah, egois tidak selamanya menang. Dia perlu di kontrol untuk bisa memuluskan segala rencana. Semua ada masa nya. Seperti bayi yang punya tahap untuk tumbuh dan berkembang. Kapan dia merangkak, kapan dia mulai berdiri. Bayi tidak butuh egois untuk kemudian bisa lari. Tapi dia hanya butuh sabar dan ikhlas. Menjalani setiap proses yang Tuhan buat.

Tuhan selalu mendengar kata hati setiap manusia. Tuhan tahu kapan waktu yang tepat untuk hamba-Nya melakukan ini dan itu. Begitulah hidup. Yang katanya hasil tidak akan mengkhianati proses. Begitulah aku. Si egois yang selalu mengedepankan otak batu ku dalam segala hal tapi kalah dengan kenyataan, kalah hanya dengan kata "Tidak".

Apa yang aku lakukan di kota ini selama satu hari?

Berlanjut ke cerita selanjutnya.

-Part 2-

Terimaksih sudah membaca.

Thursday, January 11, 2018

Apa Kabar Masa Depan?


Beberapa hari ini, gue merasa terganggu dengan statement orang tentang hidup gue. Lah, dasar nya manusia zaman sekarang kebanyakan mengurusi hidup orang sampai-sampai dia lupa kalau hidup nya juga perlu dibenahi.

Gue kadang bingung dah, memang ada keuntungan yang bisa bikin hidup dia kaya misalnya dengan kepo sama hidup orang? Kan ga ada. Kenapa sih mindset manusia zaman sekarang terlalu ribet. Semakin canggih teknologi, semakin bertambah ilmu pengetahuan bukankah semestinya kita harus bisa lebih memilah hal yang kiranya bermanfaat atau cuma buang-buang waktu.

Kemarin-kemarin gue di kejutkan dengan statement yang menyatakan bahwa bekerja sebagai swasta atau wiraswasta akan punya masa depan yang ga jelas dibanding sama orang yang bekerja di negeri.  I mean, pegawai pemerintahan atau bekerja di tempat pemerintahan. Intinya yang punya tempat pemerintah lah ya. Pegawai negeri misalnya. Why?  people why? Kata siapa? Memang ada jaminan nya atau ada tolak ukurnya kalau ingin sukses dan punya masa depan cerah musti jadi pegawai negeri? Yang bikin aturan itu siapa? Ga ada.

Gue memang bukan pegawai pemerintahan atau pegawai negeri. Gue seorang pekerja swasta yang memang terlihat belum jelas sama sekitar. Gue memang tidak punya seragam atau pin, papan nama yang di tempel berjejer di seragam. Tapi, gue tetap seorang pekerja sama kaya mereka yang pake seragam. Gue pake tenaga gue buat menghasilkan pundi-pundi rupiah. Gue pake otak gue disetiap pekerjaan yang gue kerjakan. Gue bangga setidaknya gue sudah bisa menghasilkan rupiah dari keringat gue sendiri, dari kemampuan gue sendiri. It's not Important thing to you to judge me or my job. Apa kabar sama masa depan lu? Udah lebih hebat daripada gue? Atau Udah lebih layak daripada hidup gue?

Gue merasa ga perlu menjelaskan apapun tentang diri gue, pekerjaan gue atau apapun sama semua orang. Toh, untung nya buat gue atau buat mereka apa? Ga ada. Jadi, buat kalian yang udah sibuk sekali mengurusi hidup gue. Terimakasih.

Bagi gue sukses atau masa depan yang cerah bukan dilihat dari pekerjaan kita dimana dan apa. Banyak orang diluar sana yang pekerjaan nya "semrawut", pekerjaan "kasar", tapi bisa menghidupi keluarga atau bisa mandiri dengan penghasilan yang tidak seberapa dari pekerjaan yang kadang di pandang sebelah mata sama sekitar.

Please! Jangan terlalu mendewakan pegawai pemerintahan atau pegawai negeri. Bukankah menjadi seorang swatsa atau wiraswasta pun kita masih bisa hidup mandiri?

Gue rasa apapun pekerjaan nya, ga ada yang salah. Selagi pekerjaan itu tidak merugika.n orang lain, halal. Sah-sah aja. Ga ada pekerjaan rendah atau lebih mulia. Semua nya sama. Tujuan nya pun sama. Ya, sama-sama menginginkan hasill yang bisa membahagiakan dan memuaskan dari setiap pekerjaan yang kita lakukan.

Ga usah jauh-jauh dah. Emak bapa gue bukan sarjana, bukan pegawai negeri. Mereka cuma seorang Wiraswasta yang penghasilan nya kadang ga menentu. Tapi, alhamdulillah mereka bisa menyekolahkan anak-anak nya sampe perguruan tinggi. Masih ada masalah dengan seorang swasta atau wiraswata?

Orang yang sukses dan ingin punya masa depan adalah orang yang tekun, cerdas dan pekerja keras. Terlepas dari siapa mereka, pekerjaan nya apa, lulusan mana. Itu ga penting.

So, yah. Dont judge book by its cover. Siapa sangka orang yang elu ragukan, yang elu pandang sebelah mata akan lebih sukses dari lu di kemudian hari. Mereka yang di pandang sebelah mata punya kekutan dan kegigihan lebih besar karena mereka merasa tidak ada yang boleh menganggap mereka rendah.

Okeh. Begitulah kiranya.