Sunday, April 8, 2018

Ayo kenalan, sayang!

Beberapa hari yang lalu gue mencoba berdiskusi dengan otak gue tentang sebuah rasa yang sering disebut dengan rasa sayang.

“Dari mana datang nya sayang?”(dari mata mu mata mu.... ok skip)

“Katanya berawal dari rasa nyaman.”

“Berarti ketika nyaman sudah tidak ada lagi, maka begitu sajakah rasa sayang akan hilang?”

“Tergantung. Ada yang memilih mempertahankan untuk tetap sayang meski sudah tidak nyaman karena alasan yang kadang susah dimengerti.”

“Kalau begitu, nyaman bukan alasan yang akurat.”

Lalu gue mulai lelah dengan pertanyaan yang tak kunjung ada jawaban yang bisa membuat gue yakin. Semuanya masih terasa samar. Kapan gue menafsirkan bahwa gue sedang sayang? Bagaimana gue menyadari bahwa gue sedang sayang? Apakah sayang harus diikuti dengan sebuah alasan yang masuk akal?

Gue sayang sama orang tua. Gua sayang sama kaka-kaka gue. Apa alasan gue menyayangi mereka? Balas budi kah? gue rasa bukan. Tidak ada yang namanya hutang budi atau balas budi dalam ikatan keluarga. Lantas apa? Nyaman? Tidak juga. Ada kalanya keberadaan mereka membuat gue tidak nyaman. Lalu apa? Entahlah.

Menurut gue, rasa sayang tidak butuh sebuah alasan. Sayang ya sayang. Perhaps, they (who we love) just feel like happy, enjoy and can be themself in front of us. That’s love.

I am not an expressive person. If I love someone that means I really love him/her so much. But, sometimes Idk how I have to tell him/her about my feel. 

Mungkin gue takut ketika gue memberitahu orang yang gue sayang lalu dia bertanya kenapa gue bisa sayang. Because I have no idea with it. Semakin kita punya alasan entah itu berupa fisik, materi, atau bahkan mungkin karena sebuah kenyamanan-itu akan membuat kita akan semakin mudah meninggalkan orang yang kita sayang.

Semua akan ada masanya. Sedangkan bagi gue, sayang tidak pernah punya batas waktu. Dia abadi. Seperti rasa sayang kita terhadap sang pencipta, Allah SWT atau rasa sayang kita terhadap orang tua dan saudara kita.

“Padahal aku udah sayang sama kamu, tapi kamu mengecewakan ku untuk kesekian kalinya. Aku benci kamu.” Terlintas di otak gue sebuah percakapan klise disebuah sinetron.

Nah, inilah yang gue bilang bahwa sebenarnya sayang tidak perlu alasan. Karena akan berujung dengan sebuah kekecewaan.

Terlalu banyak alasan untuk menyayangi sehingga kita terkadang berekspektasi dan mengharapkan sesuatu yang lebih, menginginkan hal yang lebih terhadap orang yang kita sayang. Satu contoh rasa sayang yang dilandasi karena paras nya cantik/tampan. Dari sini, kita akan selalu berharap orang yang kita sayang tampak sempurna dimata kita. Memang nya tidak kasihan dengan mereka yang harus berusaha tampak sempurna didepan kita agar rasa sayang kita terhadap mereka tidak hilang? “Lelah dong disayangin kamu, Dek.”

Just the way you are. (harusnya gitu ga, sih?)

Begitulah kiranya gue sedang mengenal jauh dengan si “sayang” ini.

Lama-lama gue lelah juga. Gue lagi sayang siapa sih? Ko tiba-tiba gue mikirin rasa sayang? Terus gue tau darimana kalau gue lagi ngerasa sayang?

Mungkin gue kambuh. Overthinking terhadap sesuatu yang orang bahkan males buat mikirin. Buang-buang waktu. Tapi, justru gue selalu senang memikirkan hal-hal waste kayak barusan.

Setelah gue telaah, ketika gue merasa menyayangi seseorang maka gue tidak berharap apapun kepada nya. Membebaskan nya menjadi siapapun, melakukan hal apapun, berkata apapun tanpa merasa terbatasi atau tertekan karena keberadaan gue. Sayang itu dari hati, ya ga sih? Bukan dari mulut.

Ketika gue merasa menyayangi seseorang maka gue akan “memperhatikan nya” dari jauh. Gue tidak mau ruang geraknya semakin sempit karena keberadaan gue.

Ketika gue merasa menyayangi seseorang maka gue akan men-support apapun yang dia lakukan selama itu positif. Ketika gue merasa gue menyayangi seseorang maka gue akan berusaha menegur tanpa merasa diintimidasi, memberikan saran tanpa harus merasa digurui dan yang terpenting adalah gue akan berdiskusi dengan dia tentang banyak hal sehingga dia merasa bahwa keberadaan gue tidak menyudutkan atau membebani nya ketika dia melakukan sebuah kesalahan.

Menyayangi bukan membuat mereka yang kita sayang menjadi manusia versi kita.
Agar tidak ada yang merasa kecewa atau dikecewakan.

Terkadang kita bersikap terlalu overprotective  dibalik tameng sayang.

Biarkan mereka hidup dengan versi nya. Rasa sayang kita terhadap mereka yang kita cintai adalah hadiah tambahan yang Tuhan kasih terhadap hidupnya.

Let’s just be fun.