Thursday, June 29, 2017

I have got Friend






we called "Gengges Tralala Trilili". (diambil dari grup watsap kita)

geng? gue rasa bukan.

Kita ini SAHABAT. bukan geng yang harus se-tipe, se-derajat, se-tujuan, se-prinsip, se-segala nya. Kita berbeda satu sama lain. hal ini yang bikin kita sama. Dari setiap perbedaan dan dari setiap pemikiran yang berbeda. Dengan banyak nya kepala dijadikan satu membuat kita perlahan menemukan keselarasan, kenyamanan, kesetiaan, layaknya saudara kandung. Sekalipun kita berbeda prinsip dan tujuan hidup.

Bagi gue...
Mereka adalah inspirasi terbesar. Banyak hal yang bisa gue pelajarin gimana cara hidup yang "bener". Role model kita bukan hanya Orang Tua, Sahabat atau bahkan orang yang baru kita temuin bisa kita jadikan Role Model selagi positif. why Not??

Dari setiap mereka punya kisah, punya cara, punya semangat, punya hal positif yang bisa gue ambil. Mereka membuat gue selalu sadar bahwa dunia ini ga sekecil biji kacang, dunia ini ga sesempit pikiran gue, dunia ga melulu soal materi, dunia ga melulu soal siap lo-siapa gue, tapi dunia ini adalah tempat dimana lo bisa melakukan hal yang lo suka, dunia ini adalah ladang dimana lo nyari beukel buat tabungan di akhirat, dunia ini adalah tempat dimana lo punya kesempatan at least buat bersyukur.






Bagi gue...
Manusia kaya mereka adalah manusia yang ajaib.      
why? Karena mereka masih mau mengerti gue yang nyebelinnya. super duper ga banget. Entah mereka menerimanya karna yaa terpaksa, gue tetep bersyukur. Karna selama ini gue menganggap mereka tulus mengerti gue.

Hampir 7 taun kita saling mengerti, saling share masalah satu sama lain. Kita tetep sama. Walaupun status kita masing-masing berbeda, profesi kita berbeda-beda, dipisahkan oleh jarak, tapi Kita tetap Kita yang dulu. Para Makhluk yang polos, makhluk yang ceplas-ceplos, makhluk yang sederhana, makhluk yang Koret, Makhluk yang suka gratisan, makhluk yang selalu banyak komentar, makhluk yang kepo, makhluk yang lebay, dan makhluk yang apa adanya.




Mengerti.
Adalah sikap yang kita pake untuk menghargai setiap keputusan yang diambil oleh masing-masing kita. Ini pula yang membuat kita bertahan selama itu. Sebuah Relation tanpa pengertian adalah omong kosong.

Ketika kumpul, menyesuaikan jadwal adalah kebiasaan kita agar kita bisa kumpul utuh. Meski harus merelakan hal ini-itu. Menunggu dengan ikhlas sering kita lakukan demi keutuhan hubungan persahabatan ini. sekuat mungkin kita menahan ego agar tidak terjadi pertengkaran.

Ke-asik-an yang selalu kita buat sendiri. Meski harus mengganggu orang-orang sebelah. doesnt matter. yang penting kita Happy.

bagi gue...
Mereka, manusia yang selalu ingin gue temuin pas gue punya banyak waktu luang. walau cuma 30 menit atau bahkan beberapa detik. gue merasa bahagia. Mereka, manusia yang gue ingin selalu tau kabar nya. Mereka separuh jiwa gue.

Setidaknya gue masih punya tempat untuk berteduh selain rumah gue. Ya. Kalian. Rumah kedua gue.

Akhirnya, selama bertaun-taun gue hidup, masih ada segelintir orang yang bisa percaya, dan bisa mengandalkan gue.

Friday, June 23, 2017

Rindu Era 90-an (Ngomongin sosial media)

Sebagai manusia yang dilahirkan di taun 90-an, detik ini gua merasa rindu dengan masa-masa "alamiah" tanpa campur tangan sosial media.

Nokia tipe 2100 adalah hp andalan gua, merasa paling keren meskipun cuma dipake buat maen ular-ular-an yang bakal mati kalau nabrak badan sendiri. Ga kenal tuh yang nama nya selfie, upload, mention, dll. Ga pernah mikirin hp gua ada kamera nya atau engga. Yang penting gua bisa pamer sama temen berapa score maenan ular-ular-an gua. hal-hal klise itu yang justru gua merasa ingin kembali.

Memasuki taun 2000-an, tepat nya ketika gua sudah mulai menikmati bangku SMP. udah mulai dah tuh virus sosial media merasuki kalangan bocah-bocah polos kala itu. di awali dengan munculnya facebook (meskipun sebenernya kita udah pernah kenal sama yang nama nya friendster atau sejenisnya) tapi jangkauan si platform yang satu ini jauh lebih luas, jauh lebih meng-influence dibanding sebuah aplikasi chatting yang selama ini kita kenal. Banyak nya platform yang masuk kaya facebook, twitter, atau bahkan youtube membuat bocah-bocah yang tadi nya polos jadi berubah drastis. Entah itu dari penampilan, gaya bicara, cara berfikir atau dari segi bersosialisasi.

Yang nama nya buatan manusia pasti ada baik dan buruk nya. termasuk si sosial media ini. dampak nya ada positif dan negatif. Yang gua lihat di sekitaran sih, lebih banyak negatifnya yang diambil. karena gua hidup di kota kecil, pengetahuan masyarakat yang kurang mengenai sosial media membuat mereka tidak mengerti batasan, mana yang layak untuk kita konsumsi mana yang tidak, mana hal yang bisa kita "pakai" mana yang tidak sampe akhirnya lahir tuh kata Trend. Ya. Mengikuti Trend masa kini dengan tidak melihat dampak baik dan buruk nya. Walaupun sebagian masih ada juga yang lebih bijak menggunakan si sosial media ini.

Ngomongin gaya hidup, gua merasa diri sendiri pun mulai berubah menjadi "budak" sosial media. temen-temen dan orang-orang disekeliling gua pun begitu. Ketidakmampuan menyaring content membuat kita salah kaprah. oh man, tiba tiba aja tanpa sadar role model kita adalah sosial media. Apa yang ada di sosial media kita turutin, contoh kecil kaya cara berpakaian. Model yang lagi hits apa nih, terus pas keluar model baru kita juga beli lagi terus aja sampe baju numpuk di lemari yang akhirnya mubadzir.

sebenernya itu juga yang membuat kita tidak bisa menjadi diri sendiri, apa adanya, dan kadang tidak punya prinsip. Lah, baju aja harus ngeliat atau ikut-ikut-an orang lain. Hidup kita mana sama sih dengan orang lain. Beda dari yang lain itu lebih menarik.

Sosial media kini menjadi ajang pamer yang seakan butuh pengakuan. Kaya banyak nih, orang-orang beli baju atau tas ber-merk, beli mobil baru, liburan kesana kesini, bahkan hal kecil kaya kita beli kuaci aja sekarang di upload di sosial media. what the??? 

Coba lah, kita liat sedikit kearah lain. Dimana banyak sekali hal-hal berfaedah yang sosial media tawarkan. Dari situ kita bisa sadar nih kalau kita bisa juga membantu orang-orang yang kiranya perlu bantuan entah itu berupa dana ataupun doa. kita bisa menyumbang untuk manusia dibelahan manapun lewat sosial media ini.

Balik lagi dah ke era 90-an yang lebih mementingkan kepentingan bersama daripada personal. Lebih mementingkan bersosialisasi daripada apatis depan layar gadget. Rasa solidaritas yang masih kuat. Rasa empati yang lebih besar dibandingkan cuek dengan hal yang terjadi disekitar.

Rindu era 90-an.

Thursday, June 8, 2017

"Do what you love, Love what you do"


Pasti ga asing lah sama kalimat yang satu ini.

Kalimat yang terdengar simple tapi susah buat direalisasikan. gue masih belum sepenuhnya faham dengan esensi si kalimat ini. Hanya faham sepenggal dari kalimat ini, "Love what you Do".

Mencintai apa yang lo lakukan. it means, even lo ga suka you have to Love it. ya, it's like stupid. untuk apa bersusah payah mencintai hal yang jelas jelas kita ga suka.

Hal itu yang sedang terjadi sama diri Gue. Gua merasa entah sedang menjadi siapa saat ini. Ga jelas. Gua hanya melakukan seauatu yang ada di hadapan gua sekarang. Mencoba mencintai apa yang sudah gua dapat sekarang. Meskipun hati gua terus menerus denying. Gua sebenernya selalu percaya banyak banget jalan di dunia ini untuk mendapatkan apa yang di inginkan. Yang susah adalah membuat orang di sekeliling gue yakin dengan jalan yang akan gue tempuh.

Sedikit ngomongin tentang cita-cita.

Cita-cita adalah salah satu bentuk realisasi dari kalimat diatas. Diawali dengan berani bermimpi hingga akan sampai ke titik bagaimana kita merancang mimpi itu, langkah apa yang harus di pilih hingga akhirnya terwujud. Menurut gue, Cita-cita adalah sesuatu yang kita suka, yang kita ingin lakuin dan impian yang seharusnya bisa diwujudkan. Banyak orang yang punya cita-cita, tapi mereka ga bisa menjadi apa yang mereka cita-citakan karena satu dan lain hal. sangat di sayangkan.

bagaimana dengan orang yang ga sama sekali punya cita-cita?

bisakah merealisasikan kalimat diatas?

Gua terlahir tanpa cita-cita. ga faham sama sekali besar nanti mau jadi apa. anak-anak seumuran gue, SD nih. mereka udah punya planning. Meskipun masih belum terlalu kompleks tapi which is mereka udah ada gambaran lah ya mau jadi apa. sedangkan gue, lagi, hanya mengerjakan apa yang ada di hadapan gue. Yang gua tahu cuma satu, tujuan gue hidup adalah bikin orang tua bahagia, entah jalan nya bakal mengorbankan "kesenangan" gue, entah bakal menjadikan gue people without decision. Gue ga peduli. Toh, kesuksesan gue ga bakal berarti kalau orang tua gue sama sekali ga bahagia karena decision yang gue buat.

Keabstrakan otak gue, membuat gue bertaun-taun hidup just Love what I Do. Pertanyaan nya sampai kapan gua hidup like a fool. Bimbang antara keukeuh dengan purpose hidup gua dulu atau mencoba membuat purpose hidup baru. Gua merasa bertaun-taun hidup dengan mendzolimi diri sendiri.

Akhirnya nih, gue sampe di tahap dimana gue harus berubah. Merubah pola fikir gue. Bagaimana cara nya gue bisa melakukan dua hal yaitu gua tetep melakukan hal yang gua sama sekali ga suka tapi masih bisa melakukan apa yang gua suka. Bagaimana caranya gue masih bisa membuat orang tua gue bahagia tanpa mengorbankan kebahagiaan gue.

Gue akhirnya, menggali lagi potensi dan passion yang gua punya. Menangkap beberapa peluang yang memungkinkan gue bisa melakukan hal yang gue suka. Meskipun dengan waktu yang lebih sedikit dibandingkan dengan waktu yang gue habiskan untuk melakukan hal yang gue benci. at least, ada kepuasan tersendiri dimana gue bisa jadi diri gue sendiri tanpa harus memikirkan keganjalan-keganjalan di hati gue, tanpa harus menemukan ketidaknyamanan yang gue rasain saat gue berada dalam hal yang gue benci. Alhamdulillah.

Ikhlas dan selalu bersyukur. Kedua hal yang harus dilakukan Manusia termasuk gue. Dikarenakan gue sering kali mengeluh. Gue belajar lagi. Ga selamanya gue terus mengeluh dan selalu denying atas apa yang gue hadapin. Jalanin aja dah.

Gua yakin sesuatu yang selama ini gua lakuin walaupun itu hal yang gue benci at least masih ada manfaat nya buat orang banyak. Ga peduli seberapa lelah gue survive adakalanya semua itu Tuhan balas dengan sesuatu yang lebih baik. Dari hal yang gue benci akhirnya gue bisa melakukan hal yang gue suka. ya. balik lagi ke pepatah jaman dulu " berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senag kemudian."

Pada hakikatnya, Seberapa egois nya Manusia, se bagus bagus nya rencana manusia, Kembali lagi kita mesti bercermin diri. Kita ini Siapa? kita cuma Manusia. Yang diciptakan. which is punya Pencipta. Ke-engganan kita sebagai manusia terhadap jalan hidup yang sudah digariskan membuat kita menjadi manusia yang tak pernah bersyukur dan selalu mengeluh. tetaplah yakin bahwa itu adalah jalan terbaik yang Dia kasih. Mencoba berdamai dengan keadaan adalah langkah yang sering coba gue lakuin. seperih apapun, se-lelah apapun. gua lakuin. Mungkin bukan sekarang, gue melakukan hal yang gue suka. Dibalik hal yang gue benci akan banyak banget pelajaran yang bisa diambil.

Belum tentu yang terlihat baik menurut kita, baik pula menurut-Nya.

So, "Love what I Do"  mungkin adalah kalimat terpahit sepanjang hidup gue demi mendapatkan kalimat "Do What I Love".