Wednesday, December 27, 2017

"Take the Risk or Lose the Chance"

Tanggal 18 Desember 2017.

Hari dimana gue bisa menyebut diri gue sebagai manusia sukses. Gue bisa melakukan hal yang begitu mustahil bagi gue. Hal yang entah kapan gue bisa menaklukannya. Hal yang ga pernah bisa gue pikirkan bagaimana cara melakukannya. Yang pasti di otak gue cuma ada kata mustahil, mustahil dan mustahil.

Hari itu adalah hari yang ga akan pernah gue lupakan seumur hidup gue. Pencapaian terhebat yang pernah gue lakukan. Meskipun bagi sebagian orang menganggap hal yang gue lakukan saat itu adalah hal yang biasa. But, not for me.

Hal yang selama bertahun-tahun menggerogoti pikiran gue, menghantui gue, dan sempat menjadi pertanyaan besar di otak gue. "Why Can't I do that?" Dan hal itu juga selalu menjadi salah satu beban terbesar di hidup gue.








Mungkin gue terlalu takut mengambil resiko dan gue memang  kurang percaya diri. Padahal mungkin keberanian gue melebihi apa yang selama ini gue pikirkan. Hanya saja karena gue belum terlalu mengenal diri gue sendiri yang akhirnya gue underestimate terhadap diri sendiri.

Gue memang masih jauh dari kata Sukses jika sukses diartikan sempurna entah itu dalam masalah finansial, mapan, atau hal-hal hebat lainnya. Sukses bagi gue adalah bisa melakukan hal-hal yang tidak pernah bisa gue lakukan sebelumnya. Sukses bagi gue adalah bisa bermanfaat untuk orang lain. Sukses bagi gue adalah bisa menghargai diri sendiri, mengakui kemampuan diri sendiri dan memperlakukan diri sendiri sebaik-baiknya. Sukses bagi gue adalah melawan rasa ragu, rasa takut, rasa kurang percaya diri dan rasa iri terhadap hidup orang lain.
Seperti judul pada tulisan ini.

"Take the Risk or Lose the Chance"

Hari itu gue melawan ketakutan gue. Kaki gue mulai bergetar, bahkan mungkin berdiri pun gue ga mampu. Gue setengah ingin pingsan. Keringat dingin bercucuran. Degup jantung meningkat lebih cepat. Gue lawan itu semua dengan satu pertanyaan "Kalau ga sekarang kapan lagi?".

Akhirnya gue sekuat tenaga berusaha berdiri kokoh melawan segala ketakutan yang begitu menyeramkan selama bertahun-tahun. Akhirnya dengan keberanian dan nekat mengambil resiko, gue mampu mengalahkan "hantu" yang selama ini bersemayam di tubuh gue. Gue berhasil. Gue bangga dan speechless. "Finally, I can do that." Teriak gue dalam hati.

Pencapaian ini bukan akhir, tapi awal. Akan banyak hal-hal yang menyeramkan lainnya yang musti gue taklukan. Gue merasa bisa mengakui diri gue sebagai manusia yang bisa berfaedah untuk orang lain. Menolong orang lain dengan tangan gue sendiri adalah hadiah terindah Allah SWT yang tidak akan pernah gue lupakan seumur hidup gue. Hadiah ini bisa gue ceritakan kepada semua orang termasuk anak-anak gue kelak. Kebesaran Allah itu luar biasa. Dan memang Allah selalu ada disetiap langkah manusia di muka bumi ini.

Gue tidak bermaksud sombong karena gue bisa membantu orang lain. Tapi, percaya atau engga. Membantu orang lain memiliki kepuasan tersendiri. Setidaknya gue di dunia ini masih ada faedah nya buat orang lain. Dan gue ingin menunjukkan bahwa Allah itu ada dan Allah ga pernah tidur. Karena Dia selalu mendengar doa-doa setiap makhluk-Nya.

Ok. Gue bukan lagi ceramah. Gue hanya bahagia. Gue takjub dengan semua hal yang terjadi pada hidup gue. Ternyata, hidup mengikuti arus itu seru. Meskipun gue ga tau di depan bakal ada apa dan situasi nya kaya gimana.

Jadi, bagi gue buat apa berdiam diri, membatasi diri kita terhadap satu kekhawatiran, ketakutan, terhadap hal-hal yang belum pernah dilakukan. Coba aja dulu. Awalnya mungkin butuh ribuan tenaga yang musti kita keluarkan demi melawan sebuah ketakutan. Tapi pada akhirnya hasil akan membuat kita puas. Kita bakal merasa semua yang dilakukan tidak sia-sia.

"elu ngomong sih gampang. ga ngerasain apa yang gue alami. Kalau dilakuin susah coy." Celetukan receh ini pun selalu gue ucapkan sama orang yang terlihat menganggap ketakutan gue ini sebagai hal yang biasa aja. Padahal justru mereka ini benar. Yang terpenting adalah tekad yang kuat. Berhenti memikirkan hal yang membuat tekad kita kendor.

Kita punya Tuhan yang selalu ada membantu kita. Tugas kita cuma berusaha dan berdoa. Tidak ada sesuatu yang Allah ciptakan tanpa resiko. Karena kalau hidup kita lurus lurus aja, anteng-anteng aja. Kita ga akan pernah mikir.

Kesempatan itu ibarat waktu. Ga bisa diulang. Kalau kita menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Sama aja kita membuang-buang waktu kita di dunia ini. Bukannya kita musti memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya?

Friday, December 15, 2017

I wanna be the same


Pernah merasa kalau hidup lu ga sama dengan kebanyakan orang? And then, lu merasa hopless, merasa menjadi manusia paling menyedihkan, atau kadang pura-pura menabahkan diri dengan bilang "udah lah, bersyukur aja sama apa yang elu punya". Padahal dalam hati ingin marah, nangis, merasa iri dengan manusia-manusia diluar sana yang hidup nya mulus-mulus aja. Hal itu juga yang terjadi pada diri gue. Saran-saran klise seperti "Bersyukur aja lah, jalani aja lah, sabar aja lah, semangat dong, dll" -terdengar sudah biasa bagi gue yang memang sedang mengalami kelabilan. Yang masih mencari arti dari hidup. (berat amat omongan lu feb)

Pernah merasa kalau dunia ini ga adil ga? "Dia aja bisa, masa iya gue ga bisa" Celetukan nakal dalam hati terkadang membakar emosi labil gue untuk melakukan hal yang sama dengan orang lain demi mendapatkan kebahagiaan yang sama. I wanna do the same. Padahal setiap manusia dalam mencapai kebahagiaan nya punya cara sendiri. dan tolak ukur bahagia tiap manusia pun beda-beda. Dasarnya labil ya ga pernah bisa mikir rasional.

Mungkin gue terlihat lebay sebagai "pemula" dalam hal menjalani lika-liku hidup. Mungkin keluhan dan omongan gue terlihat receh bagi manusia-manusia yang udah lebih dulu mencoba asam-garam nya, pahit-manis nya kehidupan. Balik lagi karena ke-labil-an gue ga bisa dipungkiri keberadaannya. Tapi, gue akui orang-orang yang sekarang sudah menjadi "besar" sangat luar biasa sabar dan tekun menjalani semua rintangan hingga mereka bisa mendapat apa yang telah mereka tanam. Hal ini mungkin belum bisa gue terapkan dalam diri gue. Ya, tekun. Gue masih labil.

Pernah mikir pengen banget hidup bisa instan kaya bikin mie ga? Gue sih pernah.

"Iyalah, dia sih orang tua nya punya ini-itu."

"Iyalah, dia sih hidup nya udah serba ada dari lahir "

"Iyalah, dia mah tinggal snap fingers doang, Vualaa. Semuanya terjadi. it's like a magic."

"Lah, terus apa kabar gue?"

"Yang cuma punya otak sama skill doang. Otak juga pas-pas-an, Skill juga biasa aja."

Sekali lagi, ocehan receh menggerogoti fikiran labil gue.

Yang ada di otak gue, dunia ini ga adil. Padahal Allah sudah seadil-adilnya sama hidup semua manusia. Cuma kadang manusia nya aja yang suka bikin ribet dan ga rasional.

Yang ada di otak gue, pengen bisa hidup enak kaya orang lain. Padahal hidup gue udah lebih dari enak. Gue nya aja yang ga pernah bersyukur.

Mau hidup kaya gimana sih yang gue mau?

Saat ini, gue merasa masih belum punya keberanian untuk menunjukkan pada langit luas bahwa gue layak punya kehidupan lebih baik di dunia ini. Gue masih ragu, gue punya apa?

Saat ini, gue hanya mengikuti arus. Mengikuti jalan yang sudah Allah buat untuk gue.

Gue sudah tidak berani berekspektasi apapun dengan hidup gue. Bahkan ingin menyamai yang lain pun- gue belum sanggup.

Gue lupa satu hal. Gue ga akan pernah sama dengan orang lain begitupun sebaliknya.
Gue pernah baca satu kalimat yang bilang "Jangan menyamai kisah hidup orang-orang sukses".

Yang berarti bahwa setiap manusia punya cerita hidup sukses masing-masing. Ga mungkin dong, gue memilih berhenti kuliah biar sukses kaya Mark Zuckerberg, atau gue harus melakukan banyak hal dimulai dari sebuah garasi biar sukses kaya Steve jobs.

I wanna do the same. Impossible but possible. 

Impossible, Kalau kita melakukan cara yang sama dengan mereka yang sudah sukses.

Possible, Kalau kita akan jadi sukses sama kaya mereka.

Bukankah lebih keren kalau gue punya kisah hidup sukses yang berbeda dengan orang lain?

Bukankah berbeda itu lebih menyenangkan?

Okeh. Sekian ocehan manusia labil yang masih mencari jati diri di dunia yang fana ini.

Selamat menempuh jalan kesuksesan, kawan.

YOLO, You Only Live Once. So, just enjoy your life.