Wednesday, December 27, 2017
"Take the Risk or Lose the Chance"
Hari dimana gue bisa menyebut diri gue sebagai manusia sukses. Gue bisa melakukan hal yang begitu mustahil bagi gue. Hal yang entah kapan gue bisa menaklukannya. Hal yang ga pernah bisa gue pikirkan bagaimana cara melakukannya. Yang pasti di otak gue cuma ada kata mustahil, mustahil dan mustahil.
Hari itu adalah hari yang ga akan pernah gue lupakan seumur hidup gue. Pencapaian terhebat yang pernah gue lakukan. Meskipun bagi sebagian orang menganggap hal yang gue lakukan saat itu adalah hal yang biasa. But, not for me.
Hal yang selama bertahun-tahun menggerogoti pikiran gue, menghantui gue, dan sempat menjadi pertanyaan besar di otak gue. "Why Can't I do that?" Dan hal itu juga selalu menjadi salah satu beban terbesar di hidup gue.
Mungkin gue terlalu takut mengambil resiko dan gue memang kurang percaya diri. Padahal mungkin keberanian gue melebihi apa yang selama ini gue pikirkan. Hanya saja karena gue belum terlalu mengenal diri gue sendiri yang akhirnya gue underestimate terhadap diri sendiri.
Gue memang masih jauh dari kata Sukses jika sukses diartikan sempurna entah itu dalam masalah finansial, mapan, atau hal-hal hebat lainnya. Sukses bagi gue adalah bisa melakukan hal-hal yang tidak pernah bisa gue lakukan sebelumnya. Sukses bagi gue adalah bisa bermanfaat untuk orang lain. Sukses bagi gue adalah bisa menghargai diri sendiri, mengakui kemampuan diri sendiri dan memperlakukan diri sendiri sebaik-baiknya. Sukses bagi gue adalah melawan rasa ragu, rasa takut, rasa kurang percaya diri dan rasa iri terhadap hidup orang lain.
Seperti judul pada tulisan ini.
"Take the Risk or Lose the Chance"
Hari itu gue melawan ketakutan gue. Kaki gue mulai bergetar, bahkan mungkin berdiri pun gue ga mampu. Gue setengah ingin pingsan. Keringat dingin bercucuran. Degup jantung meningkat lebih cepat. Gue lawan itu semua dengan satu pertanyaan "Kalau ga sekarang kapan lagi?".
Akhirnya gue sekuat tenaga berusaha berdiri kokoh melawan segala ketakutan yang begitu menyeramkan selama bertahun-tahun. Akhirnya dengan keberanian dan nekat mengambil resiko, gue mampu mengalahkan "hantu" yang selama ini bersemayam di tubuh gue. Gue berhasil. Gue bangga dan speechless. "Finally, I can do that." Teriak gue dalam hati.
Pencapaian ini bukan akhir, tapi awal. Akan banyak hal-hal yang menyeramkan lainnya yang musti gue taklukan. Gue merasa bisa mengakui diri gue sebagai manusia yang bisa berfaedah untuk orang lain. Menolong orang lain dengan tangan gue sendiri adalah hadiah terindah Allah SWT yang tidak akan pernah gue lupakan seumur hidup gue. Hadiah ini bisa gue ceritakan kepada semua orang termasuk anak-anak gue kelak. Kebesaran Allah itu luar biasa. Dan memang Allah selalu ada disetiap langkah manusia di muka bumi ini.
Gue tidak bermaksud sombong karena gue bisa membantu orang lain. Tapi, percaya atau engga. Membantu orang lain memiliki kepuasan tersendiri. Setidaknya gue di dunia ini masih ada faedah nya buat orang lain. Dan gue ingin menunjukkan bahwa Allah itu ada dan Allah ga pernah tidur. Karena Dia selalu mendengar doa-doa setiap makhluk-Nya.
Ok. Gue bukan lagi ceramah. Gue hanya bahagia. Gue takjub dengan semua hal yang terjadi pada hidup gue. Ternyata, hidup mengikuti arus itu seru. Meskipun gue ga tau di depan bakal ada apa dan situasi nya kaya gimana.
Jadi, bagi gue buat apa berdiam diri, membatasi diri kita terhadap satu kekhawatiran, ketakutan, terhadap hal-hal yang belum pernah dilakukan. Coba aja dulu. Awalnya mungkin butuh ribuan tenaga yang musti kita keluarkan demi melawan sebuah ketakutan. Tapi pada akhirnya hasil akan membuat kita puas. Kita bakal merasa semua yang dilakukan tidak sia-sia.
"elu ngomong sih gampang. ga ngerasain apa yang gue alami. Kalau dilakuin susah coy." Celetukan receh ini pun selalu gue ucapkan sama orang yang terlihat menganggap ketakutan gue ini sebagai hal yang biasa aja. Padahal justru mereka ini benar. Yang terpenting adalah tekad yang kuat. Berhenti memikirkan hal yang membuat tekad kita kendor.
Kita punya Tuhan yang selalu ada membantu kita. Tugas kita cuma berusaha dan berdoa. Tidak ada sesuatu yang Allah ciptakan tanpa resiko. Karena kalau hidup kita lurus lurus aja, anteng-anteng aja. Kita ga akan pernah mikir.
Kesempatan itu ibarat waktu. Ga bisa diulang. Kalau kita menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Sama aja kita membuang-buang waktu kita di dunia ini. Bukannya kita musti memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya?
Friday, December 15, 2017
I wanna be the same
Pernah merasa kalau hidup lu ga sama dengan kebanyakan orang? And then, lu merasa hopless, merasa menjadi manusia paling menyedihkan, atau kadang pura-pura menabahkan diri dengan bilang "udah lah, bersyukur aja sama apa yang elu punya". Padahal dalam hati ingin marah, nangis, merasa iri dengan manusia-manusia diluar sana yang hidup nya mulus-mulus aja. Hal itu juga yang terjadi pada diri gue. Saran-saran klise seperti "Bersyukur aja lah, jalani aja lah, sabar aja lah, semangat dong, dll" -terdengar sudah biasa bagi gue yang memang sedang mengalami kelabilan. Yang masih mencari arti dari hidup. (berat amat omongan lu feb)
Pernah merasa kalau dunia ini ga adil ga? "Dia aja bisa, masa iya gue ga bisa" Celetukan nakal dalam hati terkadang membakar emosi labil gue untuk melakukan hal yang sama dengan orang lain demi mendapatkan kebahagiaan yang sama. I wanna do the same. Padahal setiap manusia dalam mencapai kebahagiaan nya punya cara sendiri. dan tolak ukur bahagia tiap manusia pun beda-beda. Dasarnya labil ya ga pernah bisa mikir rasional.
Mungkin gue terlihat lebay sebagai "pemula" dalam hal menjalani lika-liku hidup. Mungkin keluhan dan omongan gue terlihat receh bagi manusia-manusia yang udah lebih dulu mencoba asam-garam nya, pahit-manis nya kehidupan. Balik lagi karena ke-labil-an gue ga bisa dipungkiri keberadaannya. Tapi, gue akui orang-orang yang sekarang sudah menjadi "besar" sangat luar biasa sabar dan tekun menjalani semua rintangan hingga mereka bisa mendapat apa yang telah mereka tanam. Hal ini mungkin belum bisa gue terapkan dalam diri gue. Ya, tekun. Gue masih labil.
Pernah mikir pengen banget hidup bisa instan kaya bikin mie ga? Gue sih pernah.
"Iyalah, dia sih orang tua nya punya ini-itu."
"Iyalah, dia sih hidup nya udah serba ada dari lahir "
"Iyalah, dia mah tinggal snap fingers doang, Vualaa. Semuanya terjadi. it's like a magic."
"Lah, terus apa kabar gue?"
"Yang cuma punya otak sama skill doang. Otak juga pas-pas-an, Skill juga biasa aja."
Sekali lagi, ocehan receh menggerogoti fikiran labil gue.
Yang ada di otak gue, dunia ini ga adil. Padahal Allah sudah seadil-adilnya sama hidup semua manusia. Cuma kadang manusia nya aja yang suka bikin ribet dan ga rasional.
Yang ada di otak gue, pengen bisa hidup enak kaya orang lain. Padahal hidup gue udah lebih dari enak. Gue nya aja yang ga pernah bersyukur.
Mau hidup kaya gimana sih yang gue mau?
Saat ini, gue merasa masih belum punya keberanian untuk menunjukkan pada langit luas bahwa gue layak punya kehidupan lebih baik di dunia ini. Gue masih ragu, gue punya apa?
Saat ini, gue hanya mengikuti arus. Mengikuti jalan yang sudah Allah buat untuk gue.
Gue sudah tidak berani berekspektasi apapun dengan hidup gue. Bahkan ingin menyamai yang lain pun- gue belum sanggup.
Gue lupa satu hal. Gue ga akan pernah sama dengan orang lain begitupun sebaliknya.
Gue pernah baca satu kalimat yang bilang "Jangan menyamai kisah hidup orang-orang sukses".
Yang berarti bahwa setiap manusia punya cerita hidup sukses masing-masing. Ga mungkin dong, gue memilih berhenti kuliah biar sukses kaya Mark Zuckerberg, atau gue harus melakukan banyak hal dimulai dari sebuah garasi biar sukses kaya Steve jobs.
I wanna do the same. Impossible but possible.
Impossible, Kalau kita melakukan cara yang sama dengan mereka yang sudah sukses.
Possible, Kalau kita akan jadi sukses sama kaya mereka.
Bukankah lebih keren kalau gue punya kisah hidup sukses yang berbeda dengan orang lain?
Bukankah berbeda itu lebih menyenangkan?
Okeh. Sekian ocehan manusia labil yang masih mencari jati diri di dunia yang fana ini.
Selamat menempuh jalan kesuksesan, kawan.
YOLO, You Only Live Once. So, just enjoy your life.
Friday, October 27, 2017
Three Thousand Rupiah/day
Judul nya ko gitu?
Ya. Karena gue akan cerita bagaimana bekerja dengan upah 3.000/hari.
Setaun yang lalu gue lulus dari akademi. Lalu akhirnya gue melamar pekerjaan dari satu gedung ke gedung berikunt nya. Sambil menunggu ada yang masuk jaring-jaring laba-laba gue, akhirnya gue memutuskan untuk bekerja di rumah orang.
Awalnya gue cuma iseng, karena gue berniat nyari ilmu baru dan "numpang" mengasah skill gue. Setelah 5 bulan gue bekerja sebagai seorang asisten, gue mikir, are you sure? Dengan pekerjaan sebanyak dan se-hectic ini gue dibayar cuma 3.000/hari. Ditambah dengan "molor" nya tanggal gajian. Gue masih yakin mau lanjut?
Gue terus mikir dan mikir. "Feb, Elu kuliah bukan pake daun, emak bapak lu juga nyari duit bukan hasil minta sama jin botol yang bisa ngasih 3 permintaan. Dan elu masih mau bertahan? Sama aja elu mendzolimi diri lu dan keringat emak bapak lu." Batin gue protes.
Finally, gue menyudahi pekerjaan gue yang terlihat memang tidak layak itu.
terus gue jobless dong? Yes. I was.
Pengangguran yang keluar kerja gara-gara di kasih upah 3.000/ hari. Gue lebih baik hidup sebagai pengangguran daripada gue kerja capek tapi gaji gue ga sepadan. Zaman sekarang, Asisten rumah tangga, cashier, waitress, OB di kasih upah lebih dari itu. Taro lah, upah mereka satu bulan satu juta yaa kurang lebih berarti mereka per hari 30.000. Sepuluh kali lipat dari upah gue. What the hack?
Gue sangat tahu, cari uang dijaman milenium ini ga gampang. Susah nya minta ampun. Dan gue malah melepas si 3.000/per hari ini.
Intinya begini, gue bukan manusia yang kurang bersyukur. Gue sangat faham, masih banyak orang diluar sana yang bekerja sekuat tenaga tapi upah ga sebanding. Masih banyak mereka yang rela kotor-kotor-an, yang rela panas-panas-an, yang rela ga tidur demi upah yang tidak seberapa - yang penting mereka bisa makan buat hari ini.
Gue salut dengan mereka yang bekerja tanpa mengeluh dan protes dengan ketidakadilan yang mereka hadapi. Tapi bagi gue, pekerjaan itu bukan hanya dilihat dari mana dia asal, dilihat dari lulusan mana, dilihat dari cantik atau jelek, dilihat dari miskin atau kaya. Poinnya adalah bagaimana sikap dia pas bekerja, seberat apa resiko yang akan dia tanggung, dan hasil daripada pekerjaan nya seperti apa (rapihkah? bagus kah? - Intinya kepake apa enggak). Upah pun musti nya mengikuti. Kalau pekerjaan nya terlihat memiliki resiko banyak, atau orang yang bekerja itu terlihat bagus dalam bekerja, ya tidak ada salah nya upah sama besar nya dengan semua itu.
Gue memang belum pernah memperkerjakan orang. Gue tidak begitu faham bagaimana caranya, itung-itungannya seperti apa. Yang jelas gue sebagi pekerja merasa tidak adil dengan semua itu. Setidaknya memperkerjakan orang musti melihat bagaimana resiko dan seberat dan se-hectic apa pekerjaan nya. Dan kiranya, lebih menghargai tenaga dan kerja keras.
Gue hanya pekerja, Gue siap ditegur kalau pekerjaan gue banyak yang kurang atau tidak sesuai dengan standar ditempat kerja, gue siap menerima konsekuensi apapun dari pekerjaan gue. Itu kewajiban gue sebagai pekerja.
Nah, bukan cuma kewajiban dong tapi gue pun punya hak sebagai pekerja yaitu mendapat upah sesuai berat resiko yang ditanggung. Bukan hanya diambil tenaga nya. Oh, man. Menghasilkan tenaga butuh asupan, butuh makan dan makanan butuh dibeli, pake apa? ya jelas pake rupiah dong. That's it.
Tapi, hidup ini memang punya segudang rahasia. Dari kejadian si 3.000 rupiah/hari ini, gue jadi lebih menghargai "keringat" orang terutama orang tua gue. Ga ada pekerjaan rendahan atau hina. Semua pekerjaan sama. Punya konsekuensi masing-masing. Yang paling penting adalah bagaimana kita bersikap memanusiakan manusia. Karena kita manusia.
Sekian, ocehan receh dari seorang mantan pekerja 3.000 rupiah/hari, seorang mantan pengangguran, dan kini menjadi seorang freelance. (Masih mencari dan terus mencari)
Friday, October 13, 2017
Life is not a race (Makasih buku Rentang Kisah)
Bukan mau ngebahas soal Introvert, tapi gue disini mau me-review one of the favorite part of her book. Ya, Life is not a race -Hidup bukan sebuah ajang perlombaan.
Gue setuju sama apa yang dikatakan oleh buku Rentang Kisah ini. Hidup bukan untuk berlomba-lomba dapetin ini dan itu. Hidup bukan melulu soal cepet-cepet-an lulus, nikah, kerja, kaya, banyak uang, atau bahkan dulu-dulu-an punya anak. Hidup itu cukup dijalani, di ikhtiar-i dan di doa-i. Sisanya kita serahkan saja sama Allah swt.,. Toh, kita cuma manusia. Setiap kita pasti punya masa dimana kita merasakan / mendapatkan hal yang sama dengan orang lain meskipun dengan jalan yang berbeda - berliku, naik turun, atau lurus-lurus aja. Atau mungkin kita akan bisa mendapatkan yang lebih dari mereka karena kesabaran dan ikhtiar yang kita lakukan.
Gue pernah merasa kalau hidup gue gini-gini aja. Stuck ditempat yang itu-itu aja. Sedangkan orang lain udah lari, terbang kesana kemari. Gue masih belajar buat merangkak. Gue masih harus ngerasain yang namanya jatuh, bangun lagi, sakit, kecewa, lelah, dan bosen. Gue sangat ingin segera bisa berdiri supaya gue bisa lari -ngejar orang-orang yang udah duluan lari dari kapan tau. Gue juga sangat ingin meraih apa yang udah orang lain dapetin. Gue juga ingin segera menempati tempat yang lebih 'layak' sama hal nya orang lain.
Gue terus membandingkan hidup gue dengan hidup orang lain. Hidup gue gini, hidup dia begitu.
Setaun sudah gue menjadi seorang freelance. Kerjaan gue terlihat belum jelas. Bahkan bayaran yang gue dapatkan pun terlihat tidak sebanding dengan ijazah yang udah gue dapet. But, I am not a jobless. I have a job. Cuma mungkin penempatan nya saja yang belum jelas.
Tiap hari kerjaan gue selalu dan selalu ngeluh. Gue merasa ko Allah swt., ga adil sama gue. Gue merasa ko jalan hidup gue ga jelas kaya orang lain. Gue masih belum faham hidup ini mau dibuat kaya gimana. Sedangkan yang lain terlihat sangat ter-planning sekali hidup nya. Sedangkan hidup gue? Semrawut.
Orang lain tampak punya another choice kalau plan yang satu belum bisa dicapai. Sedangkan gue? Planning apa yang musti gue buat aja gue ga faham.
Teman-teman satu angkatan gue, teman seusia gue, mereka udah punya hidup yang jelas. Ada yang memutuskan buat menikah, ada yang diterima kerja, atau ada juga yang lanjut kuliah. Sedangkan gue? Menikah? sayangnya, otak gue belum nyampe ke arah situ. Kerja? Gue udah melamar kerja dari satu gedung ke gedung lain tapi alhasil belum ada yang masuk jaring laba-laba gue. Kuliah lagi? I don't have much money.
Jadi gue ini musti gimana dong?
Nah, part dari buku Rentang Kisah ini lah yang buat gue sadar kalau hidup bukan ajang lomba cepet-cepetan. Hidup itu musti ikhlas katanya. Inget, cuma satu. Gue cuma manusia. Bukan Tuhan yang udah punya skenario nya. Gue cuma musti menjalankan apa yang udah ada di depan mata. Tanpa harus protes atau mengeluh.
Saat gue mencoba belajar ikhlas, pasrah, rezeki Allah swt., layak nya air hujan yang ga pernah berhenti kalau Allah swt., belum merintah. Bahkan gue ga minta pun Allah swt., selalu kasih gue limpahan rezeki. Apalagi kalau gue dari dulu udah ikhlas. Allah swt., bakal ngasih lebih dari itu. Sebegitu sayang nya Allah swt., sama manusia tukang ngeluh kaya gue.
Hidup yang terlalu 'ngoyo', membuat gue menjadi manusia yang ga pernah bersyukur atas apa yang udah Allah swt., kasih. Hidup yang terlalu buru-buru bikin gue tidak menikmati setiap detik yang gue punya. Hidup yang terlalu mengikuti hawa nafsu bikin gue lelah. Hidup yang terlalu 'mendongak' membuat gue ga pernah melihat apa yang ada di bawah.
Akhirnya gue sadar. Mungkin, dari masa penantian menuju hidup yang lebih baik ini, Allah swt., memberikan banyak pelajaran, pengalaman agar gue bisa hidup lebih kuat dari pada orang lain. Gue dibentuk Allah swt., agar selalu bisa menjadi manusia yang lebih sabar dan tawakal. Gue percaya, hidup di dunia ini semua nya butuh proses. Yang instan kurang asik. Gue berusaha menuruti jalan yang udah Allah swt., gariskan. Kelak Allah swt., bakal ngasih gue kejutan dari setiap sabar, ikhtiar, ikhlas yang gue lakukan.
Jadi buat apa merasa paling belakang, merasa paling tertinggal, merasa paling terabaikan dibanding orang lain? Setiap manusia punya kisah, punya jalan hidup yang berbeda. Yang penting adalah ikhtiar, Doa, dan tawakkal.
Thursday, September 28, 2017
Menjadi seorang Ambisius
Gue selalu ingin menjadi juara kelas, menjadi siswa yang harus mendapatkan nilai paling tinggi dibanding yang lain, menjadi siswa yang lebih dikenal dikalangan guru-guru, menjadi siswa yang tidak ingin dilihat sebelah mata atau disepelekan oleh guru maupun teman sekelas, menjadi siswa yang lebih tahu duluan dalam hal apapun dibanding yang lain, dan menjadi-menjadi lainnya. Tapi, sangat disayangkan cara gue meraih nya kurang baik.
Gue merelakan diri gue sendiri menjadi orang yang sangat dibenci banyak orang. Gue menjadikan diri ini sebagai sosok yang egois, sombong, dan angkuh. Gue sama sekali tidak pernah peduli dengan siapapun. Entah itu sahabat gue sendiri bahkan teman satu meja sama gue pun -gue ga peduli. Orang-orang yang terlihat tidak ada benefit nya untuk visi misi gue menjadi nomor satu -gue geser bahkan gue buang dari deretan teman. Jahat? Ya. it was me.
Pemilih. Ya, gue adalah manusia pemilih.
Menjadi seorang ambisius. Gue harus hidup menjadi seorang yang sangat selektif. Dari berteman, bermain, bergaul, berbicara, dan seterusnya. Gue terlihat menyebalkan. Gue merasa orang-orang yang pikiran nya ga pas sama apa yang gue pikirkan -it means, orang itu bukan teman yang pantes buat gue deketin. Kadang Gue bergaul dengan orang-orang yang pandai hanya karena gue ingin "mencuri" ilmu nya. Gue memilih kegiatan yang tidak membuang-buang waktu. Gue ikut organisasi pun ya karena dulu sekolah gue mewajibkan setiap siswa setidaknya punya satu ekstrakulikuler. Yang sebenernya gue rada kurang suka berorganisasi. Gue anak nya ansos. Gue kurang bisa untuk bicara dengan banyak orang apalagi gue harus berdiri di depan ngomong panjang kali lebar depan banyak orang. Gud pasti akan terlihat awkward. Gue kurang suka dengan orang-orang yang ikut organisasi tapi hanya ingin terlihat famous. Bahasa kerennya "Nampang doang". Meskipun gue akui tidak semua begitu.
Menjadi seorang ambisius. Gue menjadi manusia buta sama yang namanya rasa peduli. Gue merasa meraih semuanya karena gue berusaha sendiri sehingga gue tidak pernah ingin memberi, mengajari atau berbaik hati sama orang dengan cuma-cuma tanpa usaha. Gue akan baik sama orang jika gue rasa mereka akan ada feedback nya buat gue. Take and Give. Don't just take but never give. Yang akhirnya gue pun menjadi orang yang egois dan perhitungan.
Menjadi seorang ambisius. Membuat gue menjadi manusia yang kurang bersyukur. Karena setiap hal yang gue inginkan harus sesuai dengan ekspektasi. Mengeluh, menggerutu dan marah adalah hal yang sering gue lakukan saat semuanya tak sesuai harapan. Gue tidak pernah merasa puas dengan apa yang sudah gue raih.
Menjadi seorang ambisius. Membuat gue menjadi orang yang ga pernah enjoy sama hidup gue sendiri. Gue jarang sekali main setelah pulang sekolah. Karena gue musti pulang tepat waktu dan belajar lebih giat dan lebih awal dibanding yang lain karena gue ga mau ada orang yang menggeser posisi gue. Gue jarang menghabiskan waktu dengan teman-teman yang lain. Gue hanya fokus dengan tugas-tugas sekolah demi mendapatkan nilai yang sempurna.
Sempurna. Ya, gue selalu ingin menjadi orang yang sempurna.
Padahal di dunia ini tidak ada yang sempurna kecuali Tuhan.
Ternyata menjadi seorang Ambisius adalah rugi. Gue kehilangan masa SMA yang musti nya diisi dengan banyak kenangan lucu, asik yang ga pernah bisa dilupakan.
Ketika gue sudah kuliah, gue mencoba menanyakan kepada teman-teman gue bagaimana seorang gue dulu bertingkah. Ya, sesuai dengan tebakan gue. Semua bilang gue jahat dan egois. It's funny enough.
Wednesday, September 20, 2017
Nikah, Yuk!
Mau nikah tapi belum ada calon?
Mau nikah tapi belum siap lahir batin?
Atau mau nikah tapi belum siap dana?
Jawaban nya. Udah lah. Jomblo aja dulu sampe semua nya siap.
Siapa yang bulan ini bahkan sebelum bulan ini udah banyak dapet undangan nikahan? Rasa nya nano-nano deh. Apalagi bagi jomblo macam gue ini. Baper, kepengen tapi gue belum mampu. Bahaya juga bagi jomblo yang ujung-ujung nya bakal kebanyakan ngayal.
Sepertinya jomblo musti tahan godaan dan memperkuat iman. Bukan cuma di baper-in sama dateng nya undangan tapi ketika gue sendiri melihat postingan di sosial media topik nya pasti semua tentang pernikahan. Apalagi pas liat Babang Hamish dan Raisa nikah. Aduh, baper parah.
Ko gue merasa menikah sekarang ini seperti ajang lomba 17-an ya? Dimana-mana ada yang nikah. Dimana-mana ada yang buru-buru tunangan bulan ini. Seperti tak mau kalah dan ingin ikut serta "nikah masal" bulan ini.
Mungkin bisa juga karena tradisi yang menganggap bahwa bulan yang lumrah dan berkah adalah setelah idul adha. Tradisi ini hebat sih. Dari jaman nya gue masih kecil sampe sekarang masih ada. Tapi apa musti kita memaksakan diri untuk menyegerakan menikah karena melihat orang lain menikah? Padahal belum punya persiapan yang mantap untuk kemudian siap memutuskan menikah.
Dibalik suka cita orang-orang yang menikah, ada banyak cerita yang gue rasa memang menikah butuh kesiapan yang mantap dan perhitungan yang pas. Bukan berarti menunda nikah sampe punya duit banyak atau kerjaan yang mumpuni. Menikah dengan penuh kesiapan disini adalah siap lahir dan batin. Sekiranya memang keputusan untuk seumur hidup ini tidak menjadi keputusan menyeramkan nantinya. Gue memang belum menikah. Tapi, gue faham betul tentang cerita sahabat gue bagaimana dia mempersiapkan diri sampai akhirnya mantap memutuskan menikah.
Lalu bagaimana maksud dari menikah musti punya perhitungan yang pas? Musti banyak duit? Musti punya kerjaan yang mumpuni? Terus orang yang belum punya kerjaan tidak berhak menikah? No. Bukan begitu maksud nya. Banyak kok orang yang pengangguran sudah menikah. Banyak juga orang yang punya penghasilan minim malah berani memutuskan menikah. Berarti mereka sudah punya perhitungan yang matang. Ko bisa? Bagaimana caranya? Nah, hal ini yang musti kita cari jawaban nya sebelum kita menikah.
Menikah musti tepat hitungan supaya kita bisa menghidupi diri kita sebagai pasangan pasca menikah nanti. Jangan sampe satu hari merusak hidup kita ke depan nya. Memang betul, Menikah adalah acara yang dilakukan sekali seumur hidup. Tapi apa harus kita menghabiskan penghasilan kita, tabungan kita hanya demi satu hari? Demi terlihat 'Wah' di mata orang lain? Ah, gue rasa itu bukan hitungan yang pas. Apakabar hidup kita setelah menikah?
Gue mungkin terdengar omong kosong. Menikah mah asal saling cinta cukup kali, feb.
Cinta memang fondasi dari suatu hubungan. Tapi, ya realistis aja sih, boy. Apa cinta bisa bayar MUA, bayar gedung, bayar ketring, bayar cetakan undangan, atau bayarin hidup ke depan nya? Semuanya tetap musti punya hitungan yang pas dan modal yang mencukupi.
Menikah bukan perihal ngomongin Cinta, boy.
Tapi memikirkan bagaimana kita bisa hidup bahagia lahir dan batin ke depan nya.
Mustahil kalau laki-laki datang ke rumah seorang perempuan untuk melamar dihadapan kedua orang tua nya tanpa punya perhitungan yang tepat.
Mau dibawa kemana hidup neng, bang? Mau dikasih makan apa anak gue (bapa nya calon), boy?
Sebagai perempuan pun, gue banyak mikir sih. Gue tidak ingin cuma mengandalkan calon pasangan gue. Yang namanya hidup bersama ya kita berusaha bareng tanpa saling mengandalkan. Bagaimana caranya? Mulai cari rupiah sendiri.
Sebelum menikah gue musti memantaskan diri, berusaha mandiri, membiayai hidup gue sendiri tanpa menyusahkan orang tua, mengatur segala keperluan hidup sendiri, hingga gue yakin kalau gue siap untuk menikah. Setidaknya ketika nikah, gue sudah faham bagaimana mengelola rumah tangga gue sendiri.
Bagi gue, menikah dengan membiayai segala keperluannya dengan hasil jerih payah sendiri itu keren sih. Gue banyak belajar dari orang-orang yang memutuskan untuk menikah dengan penghasilan sendiri tanpa minta se-peser pun sama orang tua.
Gue rasa cukup sih, orang tua kita membiayai hidup sampe lulus kuliah. Saatnya membuktikan pada mereka bahwa kita sudah bisa mandiri dan memang pantas buat menikah.
So, gimana nih tetep mau nikah tanpa ada nya persiapan yang matang?
Yuk, nikah! Jangan lupa cari pasangan yang mau belajar tentang bagaimana cara nya hidup dan sudah siap lahir maupun batin.
Balik lagi sih, sudut pandang tiap orang pasti nya berbeda. ok.
Friday, September 8, 2017
Siapa Bilang?
Baru-baru ini, gue kumpul bareng sahabat SMA yang udah hampir 7 tahun kita sahabatan. Salah satu sahabat kita ada yang menikah which is kita musti kumpul. Akhirnya, untuk pertama kalinya gue bisa punya foto bareng sama kembaran gue. Ya, salah satu dari mereka adalah kembaran gue. Tapi, kembaran ketemu pas SMA.
Entah sejak kapan kita mengklaim diri kita sebagai kembaran. Yang jelas, kita memang punya banyak kesamaan. Awalnya karena kita suka sama tokoh kartun Doraemon lalu berlanjut ke kesamaan kita berikutnya yaitu suka Kpop, drakor, meskipun bias kita beda (yang suka kpop pasti faham apa yang gue maksud).
7 tahun bukan lah waktu yang singkat. Banyak momen yang kita lakukan bersama. Gue merasa nyaman bercerita apapun sama si kembaran gue ini. Kalian tahu? Kembaran gue itu laki-laki. Banyak yang bilang kalau perempuan dan laki-laki susah buat jadi sahabat. Siapa bilang?
Gue rasa statement itu ga sepenuh nya benar. Gue dan dia merasa kita memang bisa jadi sahabat yang sekedar sahabat. Kita masing-masing punya orang spesial.
Monday, September 4, 2017
One Step Closer
Kemarin adalah hari bahagia sahabat gue. Dia akhirnya menemukan orang yang tepat -yang Allah kasih untuk senantiasa menemani hidup nya dan berjalan bersama menuju surga-Nya.
Gue bahagia sekaligus sedih. Bahagia karena melihat sahabat gue bahagia. Sedih karena gue belum bisa menemukan orang yang Allah janjikan buat menemani hidup gue. Di acara pernikahan kemarin gue menemukan banyak pelajaran tentang bagaimana keajaiban dan rencana Allah yang begitu Indah.
Pernikahan adalah suatu peristiwa penting dan terjadi sekali dalam seumur hidup. Memutuskan menikah bukan hal yang mudah. Banyak sekali yang memang musti dipertimbangkan hingga akhirnya mantap menikah. Selama perjalanan menuju pernikahan, ada beberapa hal yang musti dilakukan.
Bagi gue, yang masih jomblo pasti nya gue masih musti terus memperbaiki diri. Karena jodoh gue ingin menerima hal yang terbaik dari diri gue. Begitupun sebaliknya dengan jodoh gue. Dia pun masih harus terus memperbaiki diri. Kemarin, gue melihat sendiri bagaimana Allah mempertemukan orang yang baik dengan yang baik duduk di sebuah pelaminan. Ya, pernikahan sahabat gue. Percaya deh, Jodoh memang rahasia Tuhan yang paling keren. Perkara kriteria atau standar jodoh udah ga ada gunanya lagi ketika kita bertemu dengan orang yang tepat. Janji Allah perihal "yang baik untuk yang baik pula" memang sangat benar adanya.
Gue merasa nyaman, merasa adem ketika sahabat gue akhirnya menikah dengan jodoh nya. Mereka berdua sama-sama sholeh dan sholehah. Gue yakin banyak malaikat yang menyaksikan janji suci mereka pada hari itu. Kesederhanaan mereka yang patut di contoh. Tutur kata mereka yang sangat amat bijaksana dan lembut. Mereka menganggap dunia ini bukan ajang pamer tapi ladang mencari berkah dan pahala. Mereka dedikasikan hidup hanya demi Allah Ta'ala. Tak peduli siapa diri mereka, latar belakang mereka, atau sebanyak apa kekayaan yang mereka punya. Yang jelas ada rasa cinta yang tulus di kedua mata mereka. Mereka bahagia dengan segala apa yang mereka miliki.
Selangkah menuju pernikahan, meskipun entah waktunya kapan. Gue pasti bakal mengalami hal yang sama seperti mereka. Menikah.
Pernikahan yang penuh kesederhanaan dan cinta yang tulus.
Mencari pasangan bukan perkara seberapa tampan atau cantik. Tapi, mencari pasangan yang mau belajar dan berusaha. Sehingga sama-sama bisa memahami bagaimana esensi hidup dan cara kerja dunia.
Terimakasih sahabat atas semua pelajaran yang kau berikan di hari itu.
Semoga hidup mu dan keluarga kecil mu selalu berada dalam berkah dan lindungan-Nya.
Saturday, September 2, 2017
"Sepucuk Surat dari Stasiun Lempuyangan"
Seperti biasa, setiap pagi ku sempatkan memasak di dapur kecil rumah ku. Menu andalan pagi hari ku adalah nasi goreng teri. Aku tinggal di sebuah kontrakan kecil. Sebetulnya aku bukan orang yang dilahirkan di kota ini. Satu tahun yang lalu, aku diterima bekerja di salah satu sekolah SMA disini. Karena dulu aku lulusan salah satu universitas di kota pelajar, jadi aku memutuskan untuk bekerja disini. Keluarga ku tinggal di Bandung. Tapi, aku memilih hidup disini. Tempat yang sudah memberikan banyak pelajaran bagi hidup ku. Tempat yang sudah membuat ku jauh dari mu. Orang yang menyukai ku dan menunggu ku bertaun-taun di Bandung. Entah lah, apa kabar kamu sekarang. Aku tak pernah bertemu dengan mu lagi sejak aku memberikan jawaban terpahit dalam hidup -aku menolak mu.
Ku langkah kan kaki menuju tempat dimana ku mengais rezeki dan juga mengumpulkan pahala. Jarak antara kontrakan dengan tempat mengajar tidak terlalu jauh. Hanya butuh 10-15 menit.
Aku selalu datang lebih awal dibandingkan pengajar yang lain. Mungkin karena kebiasaan ku dulu sewaktu sekolah, Aku selalu datang lebih pagi dibanding guru dan teman-teman yang lain. Ayah ku bilang, kalau mau jadi orang sukses cobalah menjadi yang lebih awal dari orang lain. Begitulah bagaimana Ayah mendidik ku. Tapi, ayah ku tak pernah tau apa yang setiap hari nya aku lakukan di sekolah. Berangkat pagi hanya karena agar aku tak dimarahi Ayah hingga nanti nya aku tak diberi uang saku oleh ibu atas intruksi Ayah.
Aku mengajar mata pelajaran Bahasa Inggris. Yang sebetulnya adalah mata pelajaran yang paling aku benci sejak aku duduk dibangku kelas 5 SD. Entahlah, saat Aku duduk dibangku kelas 2 SMA, Aku mulai meyukai pelajaran ini. Ya, semua karena kamu.
Anggita Pratiwi. Seorang siswi terbaik di Sekolah , juara kelas, ketua kelas, anggota OSIS, pengumpul medali dalam segala hal yang berhubungan dengan bahasa inggris, dan siswi andalan sekolah. Begitu sempurna kamu bagi ku. Karena aku hanya siswa berkacamata, berkulit hitam dan penyuka club sepak bola Manchester United. Kegiatan ku di kelas hanya bergurau dan tidur. Sebab itulah aku memilih duduk di bangku paling belakang. Karena duduk di bangku depan membuat ku tak bisa berbuat apapun selain fokus dengan pelajaran. Lain dengan mu, yang selalu duduk di bangku paling depan. Aku merasa kamu seperti langit dan aku buminya. Perbedaan ku dengan mu begitu jauh. Maka mustahil jika aku pun bisa bersamamu.
"Ketika aku membayangkan dirimu. Aku terlalu kecil. Aku terlalu rendah dibandingkan dirimu. Apakah aku pantas bersatu dengan dirimu? Apakah aku pantas berdiri tegap disamping mu?"
Setiap malam ku selalu menuliskan resah ku di tiap helai buku harian. Ya, meskipun aku laki-laki tapi aku lebih suka menulis buku harian dibanding curhat dengan teman. Ku rasa curhat dengan laki-laki tak se asik layaknya kaum perempuan yang sedang curhat satu sama lain. Pernah suatu hari aku cerita pada teman-teman ku, Mereka kerap kali menyarankan ku mengungkapkan rasa ku pada mu. Sedangkan nyali ku terlalu kecil. Aku takut kamu menolak karena kekuranagan ku. Aku takut kalaupun kau menerima ku, hanya karena kau kasihan pada ku. Sebab itulah aku tak pernah memberitahukan perasaan ku pada mu sampai kita lulus dari SMA.
Hingga suatu hari di acara kelulusan SMA -Kau memberi sepucuk surat berwarna merah. Kamu meminta ku membacanya saat aku tiba di rumah. Dengan ekspresi bingung, perasaan yang campur aduk. Ku anggukan kepala ku -tanda aku setuju dengan permintaan mu. Lalu kau pergi meninggalkan ku dengan sepucuk surat merah di tanganku.
Malam nya, Aku memberanikan diri membaca surat dari mu. Dengan rasa penasaran yang tinggi, aku membaca kata demi kata, kalimat demi kalimat yang kau tulis dengan indah di kertas merah itu. Keringat ku mulai menetes sedikit demi sedikit. Bukan kepanasan, melainkan isi surat mu yang membuat ku berkeringat membaca nya.
Perasaan ku campur aduk. Aku tidak percaya dengan apa yang telah aku baca malam itu. Sepucuk surat merah yang bertuliskan isi hatimu kepada ku. Perasaan yang juga aku rasakan terhadap mu. Bagaimana aku bisa seberuntung itu di sukai oleh mu. Tapi, ada sesuatu yang mengganggu ku di sela tulisan mu. Kamu mengatakan ingin bersama ku setelah kita sama-sama sukses nanti. Kamu bilang akan mencari ku saat waktu nya tepat. Bukankah seharusnya aku senang karena kamu akan menunggu ku? Mengapa malam itu yang aku rasakan adalah rasa takut yang semakin besar? Ada apa dengan diriku?
Bandung, 10 januari 2012
Apa kabar teman sekelas ku? Kau Dikta Sahendra.
Hendra, panggilan akarab teman-teman mu. Meskipun aku terlihat acuh dikelas, tapi aku tak pernah memalingkan pandangan ku dari mu. Aku memang selalu sibuk dengan kegiatan-kegiatan ku di sekolah. Sebetulnya, Aku selalu ingin punya waktu hanya untuk menyapa mu. Entah sejak kapan aku mulai meyukai mu. Yang jelas, ketika kamu tertawa dengan teman-teman mu di pojokan kelas -ada rasa dimana aku melihat mu sebagai orang yang selalu terlihat bahagia. Kau manis saat tertawa.Tidak seperti diriku yang tak pernah ada waktu untuk sekedar mengobrol, menyapa atau bahkan bercanda dengan teman sekelas ku. Kamu adalah manusia yang ku sukai sejak lama. Tapi, dengan kesibukan ku dan ambisi-ambisi ku -aku memilih untuk menyimpan semuanya dari mu.
Aku merasa bukan orang yang pantas hadir dihadapan mu karena aku terlalu mementingkan hidup ku sendiri. Aku bukan orang yang selalu bisa membuat kamu bahagia, tertawa seperti kamu yang selalu membuat orang disekitar mu bahagia. Aku terlalu mengkhawatirkan masa depan hingga aku harus mengesampingkan rasa cinta ku padamu karena ku tak mau rencana masa depan ku jadi berantakan. Masih pantaskah aku mencintai orang sebaik dirimu? Yang selalu menikamati hidup dengan orang-orang sekitar. Yang selalu peduli dengan orang sekitar. Aku tak pernah peduli seberapa malas kau di kelas. Aku tahu kau pasti punya kemauan yang keras -yang orang lain tidak tahu.
Makadari itu, sejak hari itu -dimana aku mulai mencintai mu. Aku berjanji pada diriku akan menunggu mu hingga kita benar-benar siap untuk berdiri berdampingan bersama. Aku akan menunggu mu, Dikta Sahendra.
Tuesday, August 29, 2017
Realita Hidup "Nomaden"
In this case gue masih punya tempat tinggal tetap. Lah terus, kenapa gue menyebut hidup gue ini nomaden? Because, for some reason -gue menjadikan rumah hanya sebatas tempat singgah atau mungkin hanya sekadar say hello sama penghuni rumah and then gue pergi lagi.
Rutinitas "nomaden" dimulai sejak masuk SMP. Usia gue waktu itu sekitar 11 tahun kurang lebih. Manusia kecil tanpa pengalaman dan beribu kepolosan harus tinggal di sebuah asrama yang berisikan manusia asing dari berbagai daerah, latar belakang yang berbeda dan pribadi yang bervariasi pula. Gue dengan segenap keberanian diri mencoba bertahan hidup mandiri -jauh dari orang tua. Homesick -Pasti. Butuh berbulan-bulan gue menghadapi homesick. Hampir setiap menit gue nangis. Apapun yang gue lakukan, di otak gue cuma ada satu hal yang ingin sekali dilakukan -pulang ke rumah.
Anak sekecil itu hidup jauh dari orang tua dan musti mengerjakan segala sesuatu nya sendiri adalah hal paling sulit dijalani. Dulu gue masih belum faham bagaimana caranya nyuci baju, bagaimana caranya menata lemari gue sehingga bisa terlihat rapi dan yang paling penting bagaimana caranya mengatur uang saku. Mainset gue yang memang masih sangat anak-anak sekali membuat gue selalu menghabiskan uang ga jelas. Prinsip nya yang penting gue kenyang, bisa jajan enak, dan bisa main. Itu yang ada di otak gue kala itu. Terlebih lagi, personality gue yang introvert membuat gue susah beradaptasi dengan orang-orang baru.
Beberapa tahun berlalu, gue mulai berubah menjadi manusia yang siap untuk mandiri. Gue belajar bagaimana mengatur keuangan sehingga gue masih bisa menyisihkan untuk menabung, gue belajar bagaimana caranya bersosialisasi yang baik dan benar walaupun yang satu ini sampai sekarang masih belum menghasilkan progress, dan gue entah kenapa mulai memahami sifat manusia -mana yang tulus dan mana yang cuma sekedar haha-hihi didepan.
Kehidupan nomaden gue dilanjutkan ketika kuliah. Lagi, gue tinggal di sebuah asrama. Gue merasa sudah terbiasa dengan kehidupan asrama. Merasa homesick pernah. Sesekali, kalau kegiatan di asrama tidak terlalu padat. Kadang juga pas gue merasa homesick -gue nangis. Tapi sebetulnya, lebih banyak jenuh dibanding homesick. Pas kuliah, gue masih sempet pulang setiap sabtu dan minggu dikarenakan kuliah gue libur. Beda dengan asrama gue dulu yang pulang cuma satu atau dua kali dalam setahun.
Masa-masa hidup diasrama pas kuliah tidak terlalu berat. Gue merasa sudah bisa mengatur keuangan gue agar masih bisa menabung, membeli kebutuhan gue sehari-hari, tapi gue masih belajar bagaimana bersosialisasi yang baik dan benar. Problema manusia seperti gue adalah sosialisasi. Walaupun perlahan gue mulai berani ngomong di depan banyak orang. Tapi, satu yang sampai saat ini belum bisa gue lakukan - basa-basi.
Hidup nomaden membuat gue belajar banyak hal. Bukan cuma belajar mandiri, tapi juga time consuming -bagaimana mengelola waktu gue sendiri sehingga tidak ada sedikit pun waktu yang terbuang percuma. Segala urusan gue pun tidak ada yang terbengkalai. Hidup nomaden membuat gue menjadi orang yang bisa membaca keadaan sekitar. I mean, Hidup ga seenak jidat gue doang. Tapi musti mikirin sekitar juga.
Menjaga sikap. Bagaimana gue menjaga sikap dihadapan orang lain dengan tetap menjadi diri sendiri. Ajaib memang. Di dunia ini banyak sekali manusia-manusia yang survive dengan bermacam cara. Makanya timbul tuh istilah muka dua lah, penjilat lah, atau istilah-istilah lainnya yang lebih mengerikan.
Oh iya, satu lagi. Hidup nomaden bikin gus struggle sama omongan-omongan negatif orang lain. Kebiasaan orang-orang yang lebih suka nyinyir membuat gue merasa biasa aja dengan tradisi itu. Saking sering nya, saking banyak nya gue ketemu dengan manusia-manusia ajaib seperti itu. gue menjadikan hal itu sebagai cara untuk latihan bersabar. Menjadikan omongan negatif mereka sebagai motivasi hidup dan mungkin masih banyak lagi hikmah yang bisa gue ambil dari omongan mereka.
Kegalauan manusia yang hidup nomaden adalah kita kadang merasa tidak punya banyak waktu buat stay di rumah, atau sekadar spend time yang biasanya orang-orang menghabiskan waktu sore dengan meneguk secangkir teh sambil menikmati senja di teras rumah. Dan lagi, manusia yang hidup nomaden atau pada zaman ini lebih akrab dengan sebutan hidup merantau adalah manusia yang sangat awam dengan hal yang terjadi di rumahnya sendiri dan terkesan sombong hanya karena mereka kurang faham dengan daerah dimana dia dilahirkan.
Itu pula yang terjadi pada diri gue. Ketika gue mendapat surat dari kantor pos, gue ditanya posisi rumah dimana, dekat rumah siapa, dan hal detail lain nya tentang letak rumah gue. Kala itu gue tidak bisa menjelaskan detail posisi rumah gue dikarenakan gue jarang pulang ke rumah dan jarang bersosialisasi dengan orang sekitar. Dan hebatnya pak pos lebih tahu daerah rumah gue, nama tetangga gue dan bahkan nama Pak RT nya -dia tahu.
Begitulah, realita hidup nomaden yang selama ini gue alami.
Mungkin kalau gue tidak hidup "nomaden", gue tidak akan menjadi manusia yang sangat menghargai waktu, mandiri dan punya pikiran yang terbuka. Hidup gue akan terasa menjenuhkan sekali. Minim pengalaman. Alhasil jadi lembek ketika tahu bahwa hidup ini sebetulnya sangat kejam dan butuh mentalitas yang tinggi untuk menjalani nya.
Tuesday, August 22, 2017
Lea dan Pasar Giwangan
(Berdamai dengan mereka yang hilang)
Tak jauh dari kos-an -tempat dimana aku menghabiskan waktu selama hampir tiga tahun, ada sebuah pasar bernama pasar giwangan.
Sejak aku tiba di kota pelajar beberapa tahun lalu, hampir setiap pagi ku sempatkan berbelanja kebutuhan ku di pasar ini. Entah cuma sekadar beli jajanan pasar, peralatan mandi hingga sabun, atau kebutuhan untuk masak tiap hari nya. Pasar ini sudah menjadi destinasi harian ku, selain kampus.
Hidup di ruangan yang hanya muat kasur tanpa ranjang dan lemari plastik, tak lantas membuat ku menyerah. Tak mewah memang. Tak ada AC atau sekadar meja belajar. Hanya muat kipas angin kecil yang ku bawa sendiri dari tempat asal ku. Ku beli meja kecil kayu yang biasa dipakai anak-anak TK agar aku masih bisa merasakan belajar diatas meja. Ada yang istimewa di kos-an ku, yaitu kamar mandi dan dapur pribadi. Meskipun letak kamar mandi nya tidak di dalam kamar layaknya kos-an elit kebanyakan -setidaknya aku tak harus share dengan yang lain. Aku memang tidak suka melihat ruangan yang berantakan, apalagi kamar mandi yang kotor. Bersih tetap nomor satu. Karena bersih sebagian dari Iman. Semacam doktrin yang ibu tanamkan di pikiran ku sejak kecil.
Sebagai anak indekos yang tinggal jauh dari keluarga, tentunya semua musti serba sendiri. Dari mengatur keuangan sendiri, sampai mikirin mau makan apa setiap hari nya. Aku lebih sering masak sendiri. Sebetulnya, untuk makanan -Aku tidak musti pusing. Tempat kos ku sangat strategis. Supermarket, pasar, sampai penjual makanan pinggir jalan pun masih bisa dijangkau dengan hanya berjalan kaki. Tapi, karena Aku bukan mahasiswa yang sanggup makan tiap hari di luar, dan aku terlalu koret hanya untuk memuaskan hasrat diri, makan makanan enak. Aku lebih memilih membuat masakan sendiri. Awalnya, aku tidak bisa masak sama sekali. Setiap kali aku hendak memasak, ku telpon ibu -meminta resep. Keasinan, hambar, terlalu manis, kadang terlalu matang atau bahkan masih mentah, tak lantas membuat ku berhenti memasak. Setelah beberapa kali ku coba. Rasa masakan ku mulai bisa di nikmati. Meski tak senikmat masakan ibu di rumah.
Aku cukup perhitungan. Ya, maklum karena hidup ku tak seberuntung mahasiswa di luar sana. Orang tua yang setiap saat bisa dimintai uang transfer-an. Berbeda dengan ku, sejak seseorang yang harus nya menjadi tempat bergantung hidup dan menafkahi keluarga -justru malah pergi. Entah lah, tiga tahun lalu sudah tak ada kabar dari laki-laki itu.
Seakan dunia tengah menguji kesabaran, aku dihadapkan dengan ibu kos yang terlalu kepo dengan para penghuni kos, sedikit risih juga. Apalagi kalau suasan hati ku sedang runyam. Membuat ku tak ingin kembali kesini. Memang tak selamanya ibu kos menyebalkan. Ada sisi dimana omongan nya membuat aku merasa termotivasi.
"Kapan lulus?"
"Masih muda kok males !"
"Kenapa tiduran terus di kamar?"
Sebetulnya pertanyaan-pertanyaan itu kurang enak didengar. Tapi, setelah aku renungkan -itu motivasi. Benar juga kata ibu kos, Mau sampai kapan aku tidur sehingga tugas kuliah ku menumpuk. Bagaimana aku bisa bangkit dan membuktikan padanya bahwa aku bisa hidup tanpa ada dia. Akhirnya ku mulai berpikir ulang, membenahi semua yang dulu sempat rusak, terbengkalai dan tertunda.
Pagi ini, ku mulai melangkahkan kaki menuju pasar giwangan. Beberapa bulan yang lalu, aku mengundurkan diri dari kedai yang menjual jajanan pasar. Karena alasan klise sih, si pemilik pun mengerti dengan alasan ku. Dia sangat baik, dia bilang akan menerima ku kembali dengan senang hati jika suatu saat ku ingin kembali kesana. Mungkin karena kita sama-sama berasal dari kota yang sama, tahu bagaimana rasanya tinggal di kota yang jauh dari tempat asal.
"Pagi mas, bagaimana kabar mu hari ini?" Sapa ku.
"Lea! Sampean kemana saja?" Balas nya. Mas Rangga terlihat senang melihat ku kembali berkunjung ke kedai.
"Saya sibuk dengan tugas kuliah, mas." Jawab ku.Yang memang bukan jawaban sebenarnya.
"Sejak kapan kamu serius sama tugas kuliah? Biasa nya juga kamu cuma belajar pas mau ujian semester. Tugas kuliah pun kau tumpuk, sampai kau di omeli dosen. Kayaknya kamu mesti kena omel dulu baru sadar ya." Gurau nya. Mas Rangga memang sudah mengenal ku sejak dua tahun lalu. Ya, aku bekerja di kedai ini sudah dua tahun.
"Bagaimana kedai tanpa ku, mas? Rame gak?"
"Alhamdulillah rame. Kamu pikir gak ada kamu kedai ku jadi sepi. Jangan salah, kedai ini selalu rame karena yang jual nya kan good looking." Dia memang selalu membuat suasana terasa nyaman dan asik. Tinggal disini, tak begitu membuat ku merasa kesepian. Masih ada manusia seperti mas rangga yang membuat ku seperti tinggal di kota sendiri.
"Kita tak lantas menjadi kecil dan kesepian saat tak ada satu orang pun yang kita kenal." Katanya saat aku baru kerja di kedai nya. Dia sudah serasa kaka ku disini. Aku memang tak pernah punya kaka, karena aku anak pertama di keluarga ku. Aku merasa masih ada orang yang mau memberikan perhatian nya setelah lama ku tak merasakan perhatian dari seorang laki-laki.
"Apa kamu kembali mengingat nya? Sampai kamu harus uring-uringan beberapa bulan yang lalu." Tanya nya.
"Mungkin, butuh ribuan obat merah biar bisa nyembuhin luka ini, mas."
"Lebay kamu. Kamu cuma butuh satu obat merah yang isinya literan ikhlas."
"Kata Ikhlas tidak segampang bagaimana kita ngucapinnya."
"Apa salah nya di coba? Toh Selama ini kamu belum pernah mencoba nya kan?"
Aku terdiam. Membayangkan bagaimana caranya aku bisa ikhlas atas perbuatan lelaki itu dua tahun yang lalu.
"Bukan mikirin caranya, lakuin aja. Biar waktu yang jawab semua usaha mu. Perlahan semua kepahitan itu akan habis ludes dimakan waktu." Mas Rangga yang tahu kalau aku sedang berpikir -mencoba memberikan jawaban singkat.
"Kehilangan tidak harus terus-terusan di tangisi, cobalah kamu sambut kehilangan itu dengan senyum lebar. Karena setelah kehilangan, kamu akan mendapat hal baru. Mungkin kisah baru atau orang baru." Lanjutnya.
"Mereka yang hilang mungkin sudah tidak pantas lagi menorehkan sejarah di hidup kita. Mereka yang hilang sudah cukup mengisi hari-hari kita. Mereka yang hilang meninggalkan banyak pelajaran buat dijadikan perbaikan di kemudian hari. Tak banyak memang, mereka yang hilang meninggalkan tawa. Sepahit dan sekelam apapun kisah yang mereka kasih ke kita, coba lah sambut hadiah mereka dengan rasa ikhlas dan senyuman terbaik kita. Percaya suatu saat akan ada orang-orang yang lebih baik dari mereka yang bisa memulihkan luka di hati." Tambahnya.
Mas Rangga terlihat tegar mengatakannya. Tapi, ku tahu hati nya tampak lemah dan rapuh.Tepat di tahun yang sama dimana aku ditinggalkan oleh ayah, Mas Rangga ditinggal tanpa alasan yang jelas oleh kekasih nya yang sudah lima tahun menghabiskan waktu bersama, menorehkan kisah di hidup nya, meninggalkan jejak kenangan di ingatan nya.
Tidak mudah memang, mengikhlaskan orang yang dulu pernah ada dalam setiap goresan tinta yang menodai lembaran kertas hidup kita. Tapi entah bagaimana dia bisa bangkit dari kehilangan sepahit itu. Seperti katanya, kehilangan butuh di sambut bukan di tangisi.
Pasar giwangan inilah yang mempertemukan ku dengan orang yang pernah kehilangan. Rangga Adisaputra.
Wednesday, August 2, 2017
Celotehan "Garing" ( Pertanyaan Klise )
Ok. Gue mulai dari status. I mean, Seberapa penting status dimata orang-orang?
Yang gue bahas itu bukan status secara global, lebih spesifik. Status diri. Like, Single? Or Double? or triple? Bukan. Sorry kalau tetiba ngawur.
In this case, Gue mau bahas status as a Jomblo. Manusia yang terlihat mengenaskan karena tidak punya sandaran hati, tidak punya gandengan hanya untuk menghadiri nikahan teman, tidak punya cukup bahan "pamer" untuk di share di media sosial like kebanyakan manusia pada umumnya. But, I dont think so. If you think that Single as poor as like that. You guys are wrong at all.
Beralih ke pertanyaan klise, celotehan garing manusia jaman sekarang. Why people always ask me about boyfriend?
"Do you have boyfriend?" people said.
"No, I dont." I said.
Dan ketika gue manjawab bahwa gue tidak punya pacar sama sekali, people like (ekspresi) "Sure? Di jaman yang se-modern ini masa iya enggak punya pacar?"
Who cares? Memang nya masalah banget kalau gue ga notice sama pacaran? Sepenting itukah status pacar dalam hidup seseorang? Sehingga patut untuk dipertanyakan? Sorry, bukan gue merasa sewot dengan orang-orang yang bertanya perihal sesuatu klise itu. hanya saja bagi gue, masih banyak pertanyaan berfaedah yang bisa dilontarkan ke diri gue.
Membahas masalah jomblo. Surely, Gue merasa bangga sama diri gue yang masih single ini. Di jaman sekarang, akan terasa aneh kalau kita hidup tanpa ada nya si pacar. Anak SD aja udah kenal pacaran. Apa kabar masa SD gue yang cuma kenal sama maenan lompat tali?
Dikarenakan jaman yang sudah menganggap "Lumrah" si pacaran ini membuat banyak remaja "mengidap" penyakit galau. Penyakit yang bisa merusak segala-galanya. Bahkan masa depan pun bisa rusak hanya gara-gara galau. It's funny enough, dude.
Pacar. Pacaran. Kompleks sih. Pro Kontra. Banyak.
Cukup sampai sini buat bahas masalah pacar.
Okeh. Gue rasa orang-orang yang baca udah mulai mikir atau sewot sama pernyataan gue.
Kalau kalian berfikir karena gue jomblo, terus gue terasa tidak welcome dengan orang-orang yang punya pacar. No. That's your choice. Gue juga punya prinsip dan pilihan. Gue tidak harus men-judge atau mengintimidasi orang-orang yang punya pacar. For what? Ga ada opportunity nya sama sekali buat gue.
Gua hanya mencoba menjelaskan arti status pacar dari sudut pandang gue. Karena gue merasa annoying dengan pertanyaan-pertanyaan "garing" yang kerap kali terdengar di kuping gue. Hanya berusaha memberi pengertian kepada orang-orang, Gue bangga dengan gue yang sendiri ini. Gue tidak terlihat sangat kasian hanya karena tidak punya pacar. Intinya, I dont like when you ask me about boyfriend.
Jomblo itu prinsip, boy.
Gue tidak mengintimidasi orang-orang yang punya pacar, Kenapa jomblo diperlakukan seperti itu? why? Mungkin banyak juga jomblo yang bodo amat. Tapi, bagi gue annoying sih. Lagi, gue merasa orang-orang terlalu men-screening hidup orang lain as always. Walaupun niat nya cuma iseng, tapi ya menurut gue tetep, hal itu sensitif sekali buat dibahas bagi beberapa orang.
Satu lagi, pertanyaan klise dan terdengar garing. "Kapan Nikah?"
Okey. Lebih annoying sih buat gue as Jomblo.
Tidak cukup kalian bertanya 'Pacar'. Lalu sekarang apa, 'Nikah?' Perasaan nya dimana?
Jaman sekarang lagi-lagi, Nikah udah berasa ajang lomba lari. Gue tidak henti-henti nya dapat undangan nikahan. Keren sih. Yang membuat gue kurang faham adalah orang-oramg yang iri dengan teman nya yang nikah. Terus berusaha melakukan hal yang sama. Memang, jika sudah yakin maka segerakan. Tapi tidak dengan terburu-buru hanya karena ingin menyamai teman nya atau bisa upload foto nikahan.
Nikah itu butuh prepare. Lahir maupun batin. Bukan kayak beli martabak yang kapanpun bisa dilakukan. Gue banyak membaca, melihat dan mendengar orang-orang yang menikah di usia muda dengan hasil kerja keras sendiri, dari keringat sendiri tanpa menyusahkan orang tua.
Mereka yang memutuskan menikah sudah meyakinkan diri untuk bisa hidup mandiri. Diawali dengan membiayai sendiri pernikahan nya. Hebat sih. Bahkan beberapa dari mereka ada yang masih menyandang status mahasiswa, yang kerennya lagi mereka membiayai sendiri kuliah nya.
Mereka yang memutuskan menikah, harus siap dengan segala tanggung jawab yang ada. Ga ada lagi tuh perkara balik ke rumah orang tua cuma gegara hal sepele. Meminta saran sih masih boleh lah ya. (lagi, ini sudut pandang gue perihal menikah)
Buat manusia jomblo, Nikah biasanya hal yang sangat pelik buat dibahas. Ke-baper-an sering melanda kaum ini. Berangan-angan adalah hal yang sering dilakukan oleh segelintir manusia jomblo ini. Termasuk gue. Tapi, balik lagi. Kita musti banget sadar kalau kita masih harus berusaha memantaskan diri sebelum bertemu jodoh. that's why kita masih jomblo. Ga usah iri sama kebahagiaan orang lain. Setiap orang punya waktu nya masing-masing buat bahagia.
Jadi Jomblo memang serba salah.
Thursday, July 27, 2017
Bangga Jadi Koret
Dia baru baru ini membahas gimana dia diajarkan buat hidup prihatin. Dari cerita dia, gue sadar kenapa dulu gue harus merasa iri sama temen-temen gue yang bisa wara-wiri di mall, traveling sana-sini, koleksi barang-barang ber-merk, dan kemewahan lainnya. Gue mesti nya bersyukur jadi orang paling hemat, paling koret dan paling prihatin. Setidaknya gue bisa menghargai jerih payah orang tua gue buat nyari duit demi menghidupi gue dan kaka-kaka gue. Bisa lebih menghargai duit seperak-dua perak.
Gue pun mau berbagi cerita kenapa gue bangga jadi manusia koret.
Orang tua gue sedari jamannya kaka-kaka gue masih bocah udah menanamkan sedini mungkin untuk hidup prihatin. Hidup sesederhana mungkin. Makan cukup dengan apa yang emak gue masak. Uang jajan dikasih yang sekiranya cukup. Bahkan saking prihatinnya, emak gue seringkali membekali kita makanan bahkan sampai harus bawa botol minum biar kita enggak jajan sembarangan dan duit pun bisa utuh.
Gue sedari bocah udah doyan koleksi celengan, bukan cuma koleksi tapi di isi. Sisa duit dari uang jajan, gue wajibkan untuk mengisi celengan. Entah itu seperak atau dua perak. Gue bisa dibilang lebih beruntung daripada kaka-kaka gue. Mereka sih harus jualan es yang harga nya seratus atau gope gitu gue lupa, sebelum mereka berangkat sekolah. Meskipun emak gue ga pernah suruh kaka gue melakukan itu, tapi kita merasa perlu untuk melakukan itu.
Seprihatinnya emak gue, beliau selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Contohnya Pakaian. Meskipun kita jarang malah hampir tidak pernah memakai pakaian yang dijual di mall-mall, tapi emak gue selalu memberikan pakaian yang menurut nya paling bagus di pasar. Gengsi. Enggak sama sekali. Gue dan kaka-kaka gue pun merasa bersyukur setidaknya emak kita masih diberi rezeki lebih sama Allah, bisa beli baju yang lumayan harga nya meskipun standar pasar.
Ketika anak-anak lain setiap kenaikan kelas harus terlihat baru, head to toe. Buku-buku baru, tas dan peralatan sekolah baru. Tapi, gue dan kaka-kaka gue merasa itu tidak perlu. Selama semuanya masih layak untuk dipakai buat apa mubadzir membeli sesuatu yang baru demi terlihat tajir. Lebih hebatnya kita, seragam dan buku-buku pun turun temurun. Saking hidup memang harus menghemat.
Ketika gue kuliah, Ini lebih ekstrim sih. Karena gue manusia yang terlahir dari kampung kemudian gue pindah ke kota dan melihat kehidupan manusia-manusia kota yang menurut gue 'Wah'. Semuanya ber-merk. Yang gue punya saat itu cuma tas ransel merk export yang kaka gue beli 2 tahun yang lalu pas gue SMA. Tas ber-merk pun karena sudah bertaun-taun dipakai sudah tidak enak dilihat. Handphone android dan iOs menghiasi setiap genggaman mahasiswa-mahasiswa di kampus gue. Lagi, yang gue punya adalah nokia jadul warna hitam yang hanya punya kelebihan kamera belakang VGA. Lanjut dengan mereka yang kerap kali shopping, wara-wiri di mall cuma sekedar untuk makan sedangkan gue makan di kantin sudah merupakan tempat paling mahal untuk ukuran kantong minim kaya gue. Dan kala itu gue masih harus menyisihkan duit jajan gue untuk sekadar menabung.
Sekali lagi, gue bangga jadi manusia koret.
Ketika gue akhirnya mendapatkan sesuatu yang gue inginkan dari orang tua, lagi, mereka akan bilang kalau gue mesti sayang, mesti bisa jaga apa yang udah gue dapet. Karena dapetin nya susah. Akhirnya lah, gue mulai koret. Sebab gue ingin menjaga sesuatu entah itu barang atau apapun yang gue punya, yang memang buat dapetin nya pun setengah mokat. Gak instan. Hikmahnya dari gue koret itu, jadi bisa menghargai apa yang gue punya, bersyukur sama apa yang gue punya. Gue ga pernah peduli sama orang-orang yang ngomongin gue pelit.
Sampai kapanpun koret adalah sifat yang sudah melekat didalam diri gue. Karena dari koretlah gue belajar menghargai.
Hambur-hamburlah untuk hal yang sekiranya ada faedah nya untuk tabungan kita di akhirat. Bukankah Dunia ini ladang kita mencari bekal untuk di akhirat nanti? Apa yang bakal kita bawa setelah dunia ini hilang kalau semasa hidup hanya buang-buang uang untuk kesenangan dan kepuasan diri? Bukan. Lebih tepatnya memberikan kepuasan kepada orang lain yang melihat kita dengan segala apa yang kita punya. Hanya untuk sebuah pengakuan.
Kalau yang baca tulisan gue ini orang-orang yang hidup nya penuh dengan ke-koretan dan perhitungan. No problem. you must proud of yourself. Meskipun terkadang manusia pelit dan perhitungan kerap kali menjadi cibiran dan gunjingan banyak orang.
Emak gue pernah bilang, segala sesuatunya harus tepat hitungan nya. Segala sesuatunya harus selalu diperhitungkan. Karena setiap hitungan akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhir hidup kita.
Monday, July 24, 2017
Hijrah (Bercerita)
Hijrah.
Sesuatu yang lagi viral sekarang ini. Hijrah identik dengan berpakaian syar'i. Ok. Apakah hanya orang berpakaian syar'i yang boleh dikatakan sudah berhijrah?
Hijrah secara umum diartikan berpindah. Orang yang tadinya malas kemudian ia menjadi rajin, gue rasa itu bisa diartikan hijrah. Berpindah dari sesuatu hal yang buruk ke sesuatu hal yang lebih baik.
"Lalu bagaimana dengan orang yang berpakaian syar'i tapi masih memposting kebersamaan dengan lawan jenis yang bukan mahrom nya? Apakah masih bisa dikatakan sudah berhijrah?"
Pertanyaan-pertanyaan ini sangat annoying sekali dikuping gue. Manusia jaman sekarang kalau tidak komentar, tidak kepo, tidak bergunjing satu sama lain disebut nya ga kekinian. So, Pertanyaan nya adalah hijrah itu urusan siapa sih? Kenapa penting sekali kita men-screening hidup orang lain? Bisakah kita lebih "egois" terhadap hidup orang lain?
Manusia tak luput dari sifat salah faham. Ketika si Manusia satu niatnya adalah karena peduli tapi si Manuisa lain mengganggap itu sesuatu yang sangat mengganggu. Nah, mungkin hal nya seperti Kita yang merasa risih dengan orang-orang yang berpakaian syar'i masih berpacaran, atau yang mengaku sudah hijrah tapi masih punya sikap yang engga baik lalu kemudian kita menggunjing, men-judge, atau bahkan sampai menceramahi mereka dengan alasan mengingatkan. Tidak semua orang menerima maksud baik kita. Ok. balik lagi ke hijrah.
Hijrah adalah sesuatu yang sangat kompleks menurut gue. Banyak sekali hal-hal yang bisa kita artikan sebagai berhijrah. Hijrah bukan selalu diartikan memakai pakaian syar'i eventhough salah satu dari sekian banyak hal tentang berhijrah ada si pakaian syar'i ini. Sebetulnya manusia punya banyak cara untuk berhijrah. Hijrah bukan hal yang instan. Sama halnya, ketika kita ingin pintar atau ingin kaya, pasti banyak proses yang bakal dihadapin dan setiap proses nya itu berbeda antara si manusia satu dengan yang lain.
Gue pernah baca di Instagram, seorang ustadz pernah bilang bahwa hijrah itu bisa dari hal yang paling dekat dengan kita, contohnya berbakti kepada kedua orang tua. Nah, pernyataan si ustadz membuat gue mikir, ternyata dari hal sederhana itu gue bisa mulai berhijrah. Daripada kita terus menerus mikir kalau hijrah itu harus diawali dengan berpakain syar'i. Pertanyaannya mau kapan kita mulai berhijrah sedangkan kita tahu bahwa memakai pakaian syar'i tidaklah mudah bagi setiap orang. Kalau gitu kita ga hijrah-hijrah dong.
Mulailah berhijrah dari hal yang kiranya lebih mampu dilakukan oleh setiap kita. Bukankah kita tahu, as a muslim, Ridhollahu fii Ridholwalidain yang memiliki arti bahwa ridhonya Allah ada pada Ridho nya orang tua. Yang berarti pula, ketika kita berhijrah dimulai dari berbuat baik kepada orang tua, yakinlah kalau dari sini kita akan mendapatkan kemudahan untuk melakukan hijrah-hijrah yang lain. Hijrah as simple as like that, boy.
Hijrah itu bukan Trend. Hijrah itu bukan ajang pengakuan. Hijrah itu bukan sesuatu yang musti diteriakkan dengan lantang. Hijrah adalah soal keyakinan. Seperti sebuah janji pada Tuhan. Hijrah bukan topik untuk dijadikan update-an status di sosial media. Yang harus kita tunjukkan pada dunia ini, pada orang-orang sekitar adalah hasil dari berhijrah. Perbuatan. Berbuatlah lebih banyak kebaikan yang bisa bermanfaat untuk orang banyak. Dengan sendirinya kita sudah berhijrah. Meskipun orang tidak tahu bahwa kita sedang berproses untuk melakukan hijrah. Biarkan hanya Allah SWT yang tahu niatan kita.
Ali bin Abi Thalib pernah berkata : "Tak perlu menjelaskan dirimu pada siapapun. Karena yang menyukaimu tak butuh itu, dan yang membencimu tak percaya itu."
Itulah kenapa gue bilang Hijrah bukan hal yang butuh pengakuan. Ketika menjelaskan pada orang lain bahwa kita akan mulai berhijrah tidak semua orang akan mengganggap niatan kita sebagai niatan yang positif. you know what I mean, dude.
Biarin manusia lain merasakan feedback berhijrahnya kita tanpa harus mengetahui kalau kita sedang berhijrah. Akan lebih fokus juga akhirnya pada tujuan kita, tanpa harus mendengarkan gunjingan-gunjingan orang diluar sana.
Selamat berhijrah.
Thursday, June 29, 2017
I have got Friend
we called "Gengges Tralala Trilili". (diambil dari grup watsap kita)
geng? gue rasa bukan.
Kita ini SAHABAT. bukan geng yang harus se-tipe, se-derajat, se-tujuan, se-prinsip, se-segala nya. Kita berbeda satu sama lain. hal ini yang bikin kita sama. Dari setiap perbedaan dan dari setiap pemikiran yang berbeda. Dengan banyak nya kepala dijadikan satu membuat kita perlahan menemukan keselarasan, kenyamanan, kesetiaan, layaknya saudara kandung. Sekalipun kita berbeda prinsip dan tujuan hidup.
Bagi gue...
Mereka adalah inspirasi terbesar. Banyak hal yang bisa gue pelajarin gimana cara hidup yang "bener". Role model kita bukan hanya Orang Tua, Sahabat atau bahkan orang yang baru kita temuin bisa kita jadikan Role Model selagi positif. why Not??
Dari setiap mereka punya kisah, punya cara, punya semangat, punya hal positif yang bisa gue ambil. Mereka membuat gue selalu sadar bahwa dunia ini ga sekecil biji kacang, dunia ini ga sesempit pikiran gue, dunia ga melulu soal materi, dunia ga melulu soal siap lo-siapa gue, tapi dunia ini adalah tempat dimana lo bisa melakukan hal yang lo suka, dunia ini adalah ladang dimana lo nyari beukel buat tabungan di akhirat, dunia ini adalah tempat dimana lo punya kesempatan at least buat bersyukur.
Bagi gue...
Manusia kaya mereka adalah manusia yang ajaib.
why? Karena mereka masih mau mengerti gue yang nyebelinnya. super duper ga banget. Entah mereka menerimanya karna yaa terpaksa, gue tetep bersyukur. Karna selama ini gue menganggap mereka tulus mengerti gue.
Hampir 7 taun kita saling mengerti, saling share masalah satu sama lain. Kita tetep sama. Walaupun status kita masing-masing berbeda, profesi kita berbeda-beda, dipisahkan oleh jarak, tapi Kita tetap Kita yang dulu. Para Makhluk yang polos, makhluk yang ceplas-ceplos, makhluk yang sederhana, makhluk yang Koret, Makhluk yang suka gratisan, makhluk yang selalu banyak komentar, makhluk yang kepo, makhluk yang lebay, dan makhluk yang apa adanya.
Mengerti.
Adalah sikap yang kita pake untuk menghargai setiap keputusan yang diambil oleh masing-masing kita. Ini pula yang membuat kita bertahan selama itu. Sebuah Relation tanpa pengertian adalah omong kosong.
Ketika kumpul, menyesuaikan jadwal adalah kebiasaan kita agar kita bisa kumpul utuh. Meski harus merelakan hal ini-itu. Menunggu dengan ikhlas sering kita lakukan demi keutuhan hubungan persahabatan ini. sekuat mungkin kita menahan ego agar tidak terjadi pertengkaran.
Ke-asik-an yang selalu kita buat sendiri. Meski harus mengganggu orang-orang sebelah. doesnt matter. yang penting kita Happy.
bagi gue...
Mereka, manusia yang selalu ingin gue temuin pas gue punya banyak waktu luang. walau cuma 30 menit atau bahkan beberapa detik. gue merasa bahagia. Mereka, manusia yang gue ingin selalu tau kabar nya. Mereka separuh jiwa gue.
Setidaknya gue masih punya tempat untuk berteduh selain rumah gue. Ya. Kalian. Rumah kedua gue.
Akhirnya, selama bertaun-taun gue hidup, masih ada segelintir orang yang bisa percaya, dan bisa mengandalkan gue.
Friday, June 23, 2017
Rindu Era 90-an (Ngomongin sosial media)
Nokia tipe 2100 adalah hp andalan gua, merasa paling keren meskipun cuma dipake buat maen ular-ular-an yang bakal mati kalau nabrak badan sendiri. Ga kenal tuh yang nama nya selfie, upload, mention, dll. Ga pernah mikirin hp gua ada kamera nya atau engga. Yang penting gua bisa pamer sama temen berapa score maenan ular-ular-an gua. hal-hal klise itu yang justru gua merasa ingin kembali.
Memasuki taun 2000-an, tepat nya ketika gua sudah mulai menikmati bangku SMP. udah mulai dah tuh virus sosial media merasuki kalangan bocah-bocah polos kala itu. di awali dengan munculnya facebook (meskipun sebenernya kita udah pernah kenal sama yang nama nya friendster atau sejenisnya) tapi jangkauan si platform yang satu ini jauh lebih luas, jauh lebih meng-influence dibanding sebuah aplikasi chatting yang selama ini kita kenal. Banyak nya platform yang masuk kaya facebook, twitter, atau bahkan youtube membuat bocah-bocah yang tadi nya polos jadi berubah drastis. Entah itu dari penampilan, gaya bicara, cara berfikir atau dari segi bersosialisasi.
Yang nama nya buatan manusia pasti ada baik dan buruk nya. termasuk si sosial media ini. dampak nya ada positif dan negatif. Yang gua lihat di sekitaran sih, lebih banyak negatifnya yang diambil. karena gua hidup di kota kecil, pengetahuan masyarakat yang kurang mengenai sosial media membuat mereka tidak mengerti batasan, mana yang layak untuk kita konsumsi mana yang tidak, mana hal yang bisa kita "pakai" mana yang tidak sampe akhirnya lahir tuh kata Trend. Ya. Mengikuti Trend masa kini dengan tidak melihat dampak baik dan buruk nya. Walaupun sebagian masih ada juga yang lebih bijak menggunakan si sosial media ini.
Ngomongin gaya hidup, gua merasa diri sendiri pun mulai berubah menjadi "budak" sosial media. temen-temen dan orang-orang disekeliling gua pun begitu. Ketidakmampuan menyaring content membuat kita salah kaprah. oh man, tiba tiba aja tanpa sadar role model kita adalah sosial media. Apa yang ada di sosial media kita turutin, contoh kecil kaya cara berpakaian. Model yang lagi hits apa nih, terus pas keluar model baru kita juga beli lagi terus aja sampe baju numpuk di lemari yang akhirnya mubadzir.
sebenernya itu juga yang membuat kita tidak bisa menjadi diri sendiri, apa adanya, dan kadang tidak punya prinsip. Lah, baju aja harus ngeliat atau ikut-ikut-an orang lain. Hidup kita mana sama sih dengan orang lain. Beda dari yang lain itu lebih menarik.
Sosial media kini menjadi ajang pamer yang seakan butuh pengakuan. Kaya banyak nih, orang-orang beli baju atau tas ber-merk, beli mobil baru, liburan kesana kesini, bahkan hal kecil kaya kita beli kuaci aja sekarang di upload di sosial media. what the???
Coba lah, kita liat sedikit kearah lain. Dimana banyak sekali hal-hal berfaedah yang sosial media tawarkan. Dari situ kita bisa sadar nih kalau kita bisa juga membantu orang-orang yang kiranya perlu bantuan entah itu berupa dana ataupun doa. kita bisa menyumbang untuk manusia dibelahan manapun lewat sosial media ini.
Balik lagi dah ke era 90-an yang lebih mementingkan kepentingan bersama daripada personal. Lebih mementingkan bersosialisasi daripada apatis depan layar gadget. Rasa solidaritas yang masih kuat. Rasa empati yang lebih besar dibandingkan cuek dengan hal yang terjadi disekitar.
Rindu era 90-an.
Thursday, June 8, 2017
"Do what you love, Love what you do"
Pasti ga asing lah sama kalimat yang satu ini.
Kalimat yang terdengar simple tapi susah buat direalisasikan. gue masih belum sepenuhnya faham dengan esensi si kalimat ini. Hanya faham sepenggal dari kalimat ini, "Love what you Do".
Mencintai apa yang lo lakukan. it means, even lo ga suka you have to Love it. ya, it's like stupid. untuk apa bersusah payah mencintai hal yang jelas jelas kita ga suka.
Hal itu yang sedang terjadi sama diri Gue. Gua merasa entah sedang menjadi siapa saat ini. Ga jelas. Gua hanya melakukan seauatu yang ada di hadapan gua sekarang. Mencoba mencintai apa yang sudah gua dapat sekarang. Meskipun hati gua terus menerus denying. Gua sebenernya selalu percaya banyak banget jalan di dunia ini untuk mendapatkan apa yang di inginkan. Yang susah adalah membuat orang di sekeliling gue yakin dengan jalan yang akan gue tempuh.
Sedikit ngomongin tentang cita-cita.
Cita-cita adalah salah satu bentuk realisasi dari kalimat diatas. Diawali dengan berani bermimpi hingga akan sampai ke titik bagaimana kita merancang mimpi itu, langkah apa yang harus di pilih hingga akhirnya terwujud. Menurut gue, Cita-cita adalah sesuatu yang kita suka, yang kita ingin lakuin dan impian yang seharusnya bisa diwujudkan. Banyak orang yang punya cita-cita, tapi mereka ga bisa menjadi apa yang mereka cita-citakan karena satu dan lain hal. sangat di sayangkan.
bagaimana dengan orang yang ga sama sekali punya cita-cita?
bisakah merealisasikan kalimat diatas?
Gua terlahir tanpa cita-cita. ga faham sama sekali besar nanti mau jadi apa. anak-anak seumuran gue, SD nih. mereka udah punya planning. Meskipun masih belum terlalu kompleks tapi which is mereka udah ada gambaran lah ya mau jadi apa. sedangkan gue, lagi, hanya mengerjakan apa yang ada di hadapan gue. Yang gua tahu cuma satu, tujuan gue hidup adalah bikin orang tua bahagia, entah jalan nya bakal mengorbankan "kesenangan" gue, entah bakal menjadikan gue people without decision. Gue ga peduli. Toh, kesuksesan gue ga bakal berarti kalau orang tua gue sama sekali ga bahagia karena decision yang gue buat.
Keabstrakan otak gue, membuat gue bertaun-taun hidup just Love what I Do. Pertanyaan nya sampai kapan gua hidup like a fool. Bimbang antara keukeuh dengan purpose hidup gua dulu atau mencoba membuat purpose hidup baru. Gua merasa bertaun-taun hidup dengan mendzolimi diri sendiri.
Akhirnya nih, gue sampe di tahap dimana gue harus berubah. Merubah pola fikir gue. Bagaimana cara nya gue bisa melakukan dua hal yaitu gua tetep melakukan hal yang gua sama sekali ga suka tapi masih bisa melakukan apa yang gua suka. Bagaimana caranya gue masih bisa membuat orang tua gue bahagia tanpa mengorbankan kebahagiaan gue.
Gue akhirnya, menggali lagi potensi dan passion yang gua punya. Menangkap beberapa peluang yang memungkinkan gue bisa melakukan hal yang gue suka. Meskipun dengan waktu yang lebih sedikit dibandingkan dengan waktu yang gue habiskan untuk melakukan hal yang gue benci. at least, ada kepuasan tersendiri dimana gue bisa jadi diri gue sendiri tanpa harus memikirkan keganjalan-keganjalan di hati gue, tanpa harus menemukan ketidaknyamanan yang gue rasain saat gue berada dalam hal yang gue benci. Alhamdulillah.
Ikhlas dan selalu bersyukur. Kedua hal yang harus dilakukan Manusia termasuk gue. Dikarenakan gue sering kali mengeluh. Gue belajar lagi. Ga selamanya gue terus mengeluh dan selalu denying atas apa yang gue hadapin. Jalanin aja dah.
Gua yakin sesuatu yang selama ini gua lakuin walaupun itu hal yang gue benci at least masih ada manfaat nya buat orang banyak. Ga peduli seberapa lelah gue survive adakalanya semua itu Tuhan balas dengan sesuatu yang lebih baik. Dari hal yang gue benci akhirnya gue bisa melakukan hal yang gue suka. ya. balik lagi ke pepatah jaman dulu " berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senag kemudian."
Pada hakikatnya, Seberapa egois nya Manusia, se bagus bagus nya rencana manusia, Kembali lagi kita mesti bercermin diri. Kita ini Siapa? kita cuma Manusia. Yang diciptakan. which is punya Pencipta. Ke-engganan kita sebagai manusia terhadap jalan hidup yang sudah digariskan membuat kita menjadi manusia yang tak pernah bersyukur dan selalu mengeluh. tetaplah yakin bahwa itu adalah jalan terbaik yang Dia kasih. Mencoba berdamai dengan keadaan adalah langkah yang sering coba gue lakuin. seperih apapun, se-lelah apapun. gua lakuin. Mungkin bukan sekarang, gue melakukan hal yang gue suka. Dibalik hal yang gue benci akan banyak banget pelajaran yang bisa diambil.
Belum tentu yang terlihat baik menurut kita, baik pula menurut-Nya.
So, "Love what I Do" mungkin adalah kalimat terpahit sepanjang hidup gue demi mendapatkan kalimat "Do What I Love".
Friday, May 5, 2017
HOW AN INTROVERT SURVIVE AS A MIDWIFE ?
Dalam tulisan gua disini, membahas dari segi personality gua. Mungkin banyak yang nggak tahu kalau gua itu adalah seorang Introvert. For know about Introvert you can search on internet. Karena kebanyakan di society gua masih banyak yang nggak tahu apa itu Introvert atau tipe-tipe kepribadian yang ada pada manusia menjadi salah satu sebab mereka sulit buat mengerti diri gua. Gua exactly tidak penah menyalahkan orang lain yang nggak tahu kepribadian gua atau ga maksa buat mereka faham siapa gua. But, yang buat gua merasa annoying adalah mereka mereka yang menyebut gua ga bisa ngomong atau bahkan menganggap gua berada di level rendah cuma gara-gara gua jarang ngomong dan ga banyak basa-basi. What the???
"sometimes people judge without one trying to understand the reason"
Gua kuliah di bidang kesehatan yang semua orang tahu ini adalah bidang pelayanan jasa. As you know, yang namanya pelayanan jasa harus banyak ngomong ini dan itu, komunikasi dengan berbagai tipe “pelanggan”, kalau kita si pelayanan jasa ini nggak bisa ngomong buat nawarin “produk jasa” nya ya ibarat kita jualan kacang kalau kita diem nggak nawarin kacang sampai kapanpun itu kacang nggak bakal ke jual. Menjadi seorang pelayan jasa harus bisa menarik perhatian orang-orang dengan memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Keharusan itu yang membuat gua ngerasa ”kecil”, gua ngerasa it’s not my way. Karena gua adalah tipikal orang anti sosial dan gua ngerasa susah untuk ngomong panjang kali lebar sama orang yang baru gua kenal apalagi gua harus banyak basa-basi dan haha-hihi.
Selama menjadi mahasiswa, gua jarang sekali ngomong dan bahkan gua merasa susah untuk presentasi di depan kelas karena gua selalu ngerasa “lo ga bakal ngerti maksud gua apa” (sedikit songong memang) terus gua itu akan ngomong ketika memang gua “harus” ngomong( you know what i mean, lah ) bukan just talk without content. Lagi, gua nggak banyak punya teman dekat karena satu dan lain hal. Ga pernah peduli dengan ocehan orang yang bilang gua pelit, sok-sok-an, egois. Absolutely, I dont care because you never know me anything.
Pressure gua udah banyak, buat apa gua tambahin dengan memperdulikan ocehan orang yang ga ada untung nya sama sekali. Is pretty much rubbish. Gua juga bukan Tipikal manusia yang asik diajak hangout tiap waktu karena semua itu gua rasa cuma buang-buang waktu. Sekali-kali mungkin wajar. Gua lebih sering menghabiskan waktu dengan laptop dan hp, not with Human. Mungkin sebagian orang menilai gua aneh. Justru keanehan dalam diri gua ini adalah hal yang membuat gua tetap survive. Berterimakasih sekali dengan diri gua yang seperti ini. Dan hal lain yang ngebuat gua harus survive adalah orang tua.
Selama gua kuliah, ada praktek lapangan dan saat itulah dimana gua harus ngobrol sama pasien. Gua pertama kali nya ngomong panjang kali lebar sama orang “asing”, dan itu butuh energi ekstra buat mengerahkan sejuta keberanian diri gua hanya untuk sekedar konseling. Terdengar berlebihan memang. In fact, memang begitu. Mungkin sebagian orang bakal bilang “apa sih? Gitu doang” tapi ini adalah langkah awal gua untuk melanjutkan langkah-langkah selanjutnya yang mungkin bahkan lebih sulit. I am so greatful and proud of myself.
Gua terus mencoba belajar dan belajar. Mencoba menyesuaikan diri dengan keadaan bahkan gua sering sharing dengan orang yang pengalaman nya lebih banyak. Untuk motivasi tambahan karena memotivasi diri sendiri memang lebih sulit dibanding memotivasi orang lain. Ngerasa salut sama teman-teman gua yang selangkah lebih maju daripada gua. Sedangkan gua masih disini-sini aja.
Membayangkan gimana nantinya gua setelah lulus kalau gua masih gini-gini aja, ngebuat gua mulai mikir, bisakah gua keluar dari comfort zone as an introvert? Dan pertanyaan itu yang berulang-ulang kali terbersit di otak gua even sampai detik ini. Aneh memang, ketika lo udah punya label tapi masih belum tahu apa yang harus dilakuin dan masih belum yakin. It’s really funny enough, dude.
Everytime gua selalu ngeluh, ngeluh dan ngeluh. Gua selalu menjadikan kepribadian gua yang introvert ini sebagai tembok pembatas bagi gua untuk bisa melakukan apa yang orang lain bisa lakukan. Dan ujung-ujungnya gua minder dan kurang percaya diri. Padahal Gua tahu kapasitas otak dan kemampuan diri gua ini tidak se-kecil yang gua bayangin. Bahkan mungkin gua bisa lebih daripada apa yang selama ini gua khawatirkan. Gua masih terus belajar untuk meyakinkan hati dan nurani gua. Think positive , berusaha berdamai dengan keadaan, not underestimate diri sendiri atau even sampai blaming choice of God, Astaghfirulloh.
Karena gua yakin Allah SWT kasih pilihan yang menurut-Nya baik.
Monday, February 20, 2017
Ekspektasi Kerja Pasca Kuliah
Apa sih yang ada dibenak kalian pas denger kata "Kerja" ?
sedikit banyak orang ataupun gua sendiri beranggapan bahwa kerja itu identik dengan sukses, menghasilkan banyak materi, atau bahkan dengan kerja kalian bisa beli ini-itu, traveling sana-sini.
Suka nya atau manis-manis nya kerja mungkin bisa diartikan seperti itu. tapi ga tau gimana duka nya atau pahit-pahitnya kerja. Gua sendiri baru pertama kali mengalami yang nama nya bekerja itu seperti apa. Ekspektasi gua lumayan bagus dulu. Gua pernah berangan-angan lulus kuliah, bakal kerja di tempat A atau di pelayanan ini-itu lah karena kerja disini pengahasilan menjanjikan misalnya, gua bisa nikmatin hidup, bisa jalan sana-sini, poko nya yang bagus-bagus dah gua bayangin. Kebanyakan yang ada di fikiran mahasiswa tingkat akhir yang pusing sama tugas akhir atau skripsinya kadang suka nyeletuk "ah, gua pengen banget cepet lulus, terus kerja di tempat A, B atau C. dapet penghasilan banyak, ga cape, ga pusing, ga harus bolak balik ruang dosen karena revisi terus. ga di php-in dosen." oh man. kenyataan nya ga se simple yang di fikir.
Analogi nya sama kaya naik pohon, makin atas lo naik bakal banyak banget angin gedenya dan bikin lo nambah susah lagi naik . Nah, tahap lo kuliah ke kerja itu semakin tinggi dong, berarti "angin" yang bakal lo rasain juga bakal lebih gede. it means tanggung jawab lo yang tadi nya kuliah cuma belajar, belajar dan belajar, pas kerja bukan cuma tanggung jawab tapi konsekuensi yang bakal lo hadepin bakal lebih banyak. Lo harus tanggung jawab sama ilmu yang lo dapet semasa kuliah biar ilmunya ga mubadzir, Lo harus bisa mencukupi kebutuhan lo sendiri, Lo harus mandiri ga bergantung sama orang tua, Lo harus menyesuaikan diri sama lingkungan kerja, Lo sampe harus lembur demi kerjaan beres, waktu dan tenaga Lo sampe terkuras habis misalnya, dan mungkin akan lebih banyak lagi tanggung jawab dan konsekuensi yang lain.
Keindahan kerja yang banyak sekali di fikirkan mahasiswa sebetulnya bukan keindahan kerja yang haqiqi. itu cuma kaya lo memikirkan hal indah agar lo terlepas dari kejenuhan dan kelelahan lo akan tugas akhir. Keindahan itu semacam pelarian atau pelampiasan semata. Karena gua ngerasain dan mengalami itu. Karena kenyataannya...
Yang gua rasain adalah Kerja itu butuh kesabaran yang ekstra. Mau lo di posisi apapun kerja itu ga ada yang enak, man. setinggi atau serendah apapun posisi lo sama-sama punya tanggung jawab ekstra. Mau lo enterpreneur atau lo pekerja sekalipun enak dan ga enak nya pasti ada. Kalau lo liat orang-orang yang udah kerja itu hidup nya enak, punya ini-itu, lo harus liat perjalanan nya mereka-mereka yang bisa kaya sekarang itu pasti mereka ngelewatin hal-hal yang ga enak dulu sebelum akhirnya mereka menikmati hasil manis nya.
Kerja itu ga ada yang instan. harus bener-bener niatin Kerja bukan hanya mau banyakin penghasilan doang tapi juga banyakin pengalaman, atau niatin buat bantu banyak orang dengan ilmu dan pengalaman yang kita punya. karena kalau niatin cuma buat banyakin penghasilan gua yakin bakal banyak ngeluh, banyak males kalau pengahasilannya ga mencukupi. Kerja yang bener-bener kerja adalah yang dilakukan dari 0, yang kita bisa ngerasain pahit nya, dukanya, gagalnya, nangis-nangisnya, bukan cuma manis nya doang.
sooo, gua yang dulu berekspektasi sangat tinggi perihal kerja ternyata kenyataan nya yaaah ga seindah dan se gampang yang gua fikir. Mahasiswa-mahasiswa semester akhir yang berekspektasi kalau kerja itu "Enak". Kalian sepertinya harus berfikir ribuan kali lagi deh. Jangan mikir enak nya dulu. segala sesuatu itu dimulai dari yang ga enak dulu. Kadang Gua suka rindu, masa-masa Kuliah itu lebih enak ya, masa-masa kuliah yang cuma mikirin belajar.
the last, sorry kalau pendapat gua terkesan lebay atau berlebihan. tapi ya yang gua fikir sih gitu.




