Gue selalu ingin menjadi juara kelas, menjadi siswa yang harus mendapatkan nilai paling tinggi dibanding yang lain, menjadi siswa yang lebih dikenal dikalangan guru-guru, menjadi siswa yang tidak ingin dilihat sebelah mata atau disepelekan oleh guru maupun teman sekelas, menjadi siswa yang lebih tahu duluan dalam hal apapun dibanding yang lain, dan menjadi-menjadi lainnya. Tapi, sangat disayangkan cara gue meraih nya kurang baik.
Gue merelakan diri gue sendiri menjadi orang yang sangat dibenci banyak orang. Gue menjadikan diri ini sebagai sosok yang egois, sombong, dan angkuh. Gue sama sekali tidak pernah peduli dengan siapapun. Entah itu sahabat gue sendiri bahkan teman satu meja sama gue pun -gue ga peduli. Orang-orang yang terlihat tidak ada benefit nya untuk visi misi gue menjadi nomor satu -gue geser bahkan gue buang dari deretan teman. Jahat? Ya. it was me.
Pemilih. Ya, gue adalah manusia pemilih.
Menjadi seorang ambisius. Gue harus hidup menjadi seorang yang sangat selektif. Dari berteman, bermain, bergaul, berbicara, dan seterusnya. Gue terlihat menyebalkan. Gue merasa orang-orang yang pikiran nya ga pas sama apa yang gue pikirkan -it means, orang itu bukan teman yang pantes buat gue deketin. Kadang Gue bergaul dengan orang-orang yang pandai hanya karena gue ingin "mencuri" ilmu nya. Gue memilih kegiatan yang tidak membuang-buang waktu. Gue ikut organisasi pun ya karena dulu sekolah gue mewajibkan setiap siswa setidaknya punya satu ekstrakulikuler. Yang sebenernya gue rada kurang suka berorganisasi. Gue anak nya ansos. Gue kurang bisa untuk bicara dengan banyak orang apalagi gue harus berdiri di depan ngomong panjang kali lebar depan banyak orang. Gud pasti akan terlihat awkward. Gue kurang suka dengan orang-orang yang ikut organisasi tapi hanya ingin terlihat famous. Bahasa kerennya "Nampang doang". Meskipun gue akui tidak semua begitu.
Menjadi seorang ambisius. Gue menjadi manusia buta sama yang namanya rasa peduli. Gue merasa meraih semuanya karena gue berusaha sendiri sehingga gue tidak pernah ingin memberi, mengajari atau berbaik hati sama orang dengan cuma-cuma tanpa usaha. Gue akan baik sama orang jika gue rasa mereka akan ada feedback nya buat gue. Take and Give. Don't just take but never give. Yang akhirnya gue pun menjadi orang yang egois dan perhitungan.
Menjadi seorang ambisius. Membuat gue menjadi manusia yang kurang bersyukur. Karena setiap hal yang gue inginkan harus sesuai dengan ekspektasi. Mengeluh, menggerutu dan marah adalah hal yang sering gue lakukan saat semuanya tak sesuai harapan. Gue tidak pernah merasa puas dengan apa yang sudah gue raih.
Menjadi seorang ambisius. Membuat gue menjadi orang yang ga pernah enjoy sama hidup gue sendiri. Gue jarang sekali main setelah pulang sekolah. Karena gue musti pulang tepat waktu dan belajar lebih giat dan lebih awal dibanding yang lain karena gue ga mau ada orang yang menggeser posisi gue. Gue jarang menghabiskan waktu dengan teman-teman yang lain. Gue hanya fokus dengan tugas-tugas sekolah demi mendapatkan nilai yang sempurna.
Sempurna. Ya, gue selalu ingin menjadi orang yang sempurna.
Padahal di dunia ini tidak ada yang sempurna kecuali Tuhan.
Ternyata menjadi seorang Ambisius adalah rugi. Gue kehilangan masa SMA yang musti nya diisi dengan banyak kenangan lucu, asik yang ga pernah bisa dilupakan.
Ketika gue sudah kuliah, gue mencoba menanyakan kepada teman-teman gue bagaimana seorang gue dulu bertingkah. Ya, sesuai dengan tebakan gue. Semua bilang gue jahat dan egois. It's funny enough.
No comments:
Post a Comment