Thursday, September 28, 2017

Menjadi seorang Ambisius

Beberapa tahun yang lalu, ketika gue duduk dibangku SMA -gue adalah seorang yang ambisius. Setiap hari gue habiskan waktu dengan hal-hal yang membuat gue mudah untuk mendapatkan tujuan dan ambisi gue. Kala itu, gue sangat ambisius menjadi seorang yang nomer satu dikelas.

Gue selalu ingin menjadi juara kelas, menjadi siswa yang harus mendapatkan nilai paling tinggi dibanding yang lain, menjadi siswa yang lebih dikenal dikalangan guru-guru, menjadi siswa yang tidak ingin dilihat sebelah mata atau disepelekan oleh guru maupun teman sekelas, menjadi siswa yang lebih tahu duluan dalam hal apapun dibanding yang lain, dan menjadi-menjadi lainnya. Tapi, sangat disayangkan cara gue meraih nya kurang baik.

Gue merelakan diri gue sendiri menjadi orang yang sangat dibenci banyak orang. Gue menjadikan diri ini sebagai sosok yang egois, sombong, dan angkuh. Gue sama sekali tidak pernah peduli dengan siapapun. Entah itu sahabat gue sendiri bahkan teman satu meja sama gue pun -gue ga peduli. Orang-orang yang terlihat tidak ada benefit nya untuk visi misi gue menjadi nomor satu -gue geser bahkan gue buang dari deretan teman. Jahat? Ya. it was me.

Pemilih. Ya, gue adalah manusia pemilih.

Menjadi seorang ambisius. Gue harus hidup menjadi seorang yang sangat selektif. Dari berteman, bermain, bergaul, berbicara, dan seterusnya. Gue terlihat menyebalkan. Gue merasa orang-orang yang pikiran nya ga pas sama apa yang gue pikirkan -it means, orang itu bukan teman yang pantes buat gue deketin. Kadang Gue bergaul dengan orang-orang yang pandai hanya karena gue ingin "mencuri" ilmu nya. Gue memilih kegiatan yang tidak membuang-buang waktu. Gue ikut organisasi pun ya karena dulu sekolah gue mewajibkan setiap siswa setidaknya punya satu ekstrakulikuler. Yang sebenernya gue rada kurang suka berorganisasi. Gue anak nya ansos. Gue kurang bisa untuk bicara dengan banyak orang apalagi gue harus berdiri di depan ngomong panjang kali lebar depan banyak orang. Gud pasti akan terlihat awkward. Gue kurang suka dengan orang-orang yang ikut organisasi tapi hanya ingin terlihat famous. Bahasa kerennya "Nampang doang". Meskipun gue akui tidak semua begitu.

Menjadi seorang ambisius. Gue menjadi manusia buta sama yang namanya rasa peduli. Gue merasa meraih semuanya karena gue berusaha sendiri sehingga gue tidak pernah ingin memberi, mengajari atau berbaik hati sama orang dengan cuma-cuma tanpa usaha. Gue akan baik sama orang jika gue rasa mereka akan ada feedback nya buat gue. Take and Give. Don't just take but never give. Yang akhirnya gue pun menjadi orang yang egois dan perhitungan.

Menjadi seorang ambisius. Membuat gue menjadi manusia yang kurang bersyukur. Karena setiap hal yang gue inginkan harus sesuai dengan ekspektasi. Mengeluh, menggerutu dan marah adalah hal yang sering gue lakukan saat semuanya tak sesuai harapan. Gue tidak pernah merasa puas dengan apa yang sudah gue raih.

Menjadi seorang ambisius. Membuat gue menjadi orang yang ga pernah enjoy sama hidup gue sendiri. Gue jarang sekali main setelah pulang sekolah. Karena gue musti pulang tepat waktu dan belajar lebih giat dan lebih awal dibanding yang lain karena gue ga mau ada orang yang menggeser posisi gue. Gue jarang menghabiskan waktu dengan teman-teman yang lain. Gue hanya fokus dengan tugas-tugas sekolah demi mendapatkan nilai yang sempurna.

Sempurna. Ya, gue selalu ingin menjadi orang yang sempurna.

Padahal di dunia ini tidak ada yang sempurna kecuali Tuhan.

Ternyata menjadi seorang Ambisius adalah rugi. Gue kehilangan masa SMA yang musti nya diisi dengan banyak kenangan lucu, asik yang ga pernah bisa dilupakan.

Ketika gue sudah kuliah, gue mencoba menanyakan kepada teman-teman gue bagaimana seorang gue dulu bertingkah. Ya, sesuai dengan tebakan gue. Semua bilang gue jahat dan egois. It's funny enough. 

Wednesday, September 20, 2017

Nikah, Yuk!


Mau nikah tapi belum ada calon? 
Mau nikah tapi belum siap lahir batin?
Atau mau nikah tapi belum siap dana?
Jawaban nya. Udah lah. Jomblo aja dulu sampe semua nya siap.

Siapa yang bulan ini bahkan sebelum bulan ini udah banyak dapet undangan nikahan? Rasa nya nano-nano deh. Apalagi bagi jomblo macam gue ini. Baper, kepengen tapi gue belum mampu. Bahaya juga bagi jomblo yang ujung-ujung nya bakal kebanyakan ngayal.

Sepertinya jomblo musti tahan godaan dan memperkuat iman. Bukan cuma di baper-in sama dateng nya undangan tapi ketika gue sendiri melihat postingan di sosial media topik nya pasti semua tentang pernikahan. Apalagi pas liat Babang Hamish dan Raisa nikah. Aduh, baper parah.

Ko gue merasa menikah sekarang ini seperti ajang lomba 17-an ya? Dimana-mana ada yang nikah. Dimana-mana ada yang buru-buru tunangan bulan ini. Seperti tak mau kalah dan ingin ikut serta "nikah masal" bulan ini.

Mungkin bisa juga karena tradisi yang menganggap bahwa bulan yang lumrah dan berkah adalah setelah idul adha. Tradisi ini hebat sih. Dari jaman nya gue masih kecil sampe sekarang masih ada. Tapi apa musti kita memaksakan diri untuk menyegerakan menikah karena melihat orang lain menikah? Padahal belum punya persiapan yang mantap untuk kemudian siap memutuskan menikah.

Dibalik suka cita orang-orang yang menikah, ada banyak cerita yang gue rasa memang menikah butuh kesiapan yang mantap dan perhitungan yang pas. Bukan berarti menunda nikah sampe punya duit banyak atau kerjaan yang mumpuni. Menikah dengan penuh kesiapan disini adalah siap lahir dan batin. Sekiranya memang keputusan untuk seumur hidup ini tidak menjadi keputusan menyeramkan nantinya. Gue memang belum menikah. Tapi, gue faham betul tentang cerita sahabat gue bagaimana dia mempersiapkan diri sampai akhirnya mantap memutuskan menikah.

Lalu bagaimana maksud dari menikah musti punya perhitungan yang pas? Musti banyak duit? Musti punya kerjaan yang mumpuni? Terus orang yang belum punya kerjaan tidak berhak menikah? No. Bukan begitu maksud nya. Banyak kok orang yang pengangguran sudah menikah. Banyak juga orang yang punya penghasilan minim malah berani memutuskan menikah. Berarti mereka sudah punya perhitungan yang matang. Ko bisa? Bagaimana caranya? Nah, hal ini yang musti kita cari jawaban nya sebelum kita menikah.

Menikah musti tepat hitungan supaya kita bisa menghidupi diri kita sebagai pasangan pasca menikah nanti. Jangan sampe satu hari merusak hidup kita ke depan nya. Memang betul, Menikah adalah acara yang dilakukan sekali seumur hidup. Tapi apa harus kita menghabiskan penghasilan kita, tabungan kita hanya demi satu hari? Demi terlihat 'Wah' di mata orang lain? Ah, gue rasa itu bukan hitungan yang pas. Apakabar hidup kita setelah menikah?

Gue mungkin terdengar omong kosong. Menikah mah asal saling cinta cukup kali, feb.

Cinta memang fondasi dari suatu hubungan. Tapi, ya realistis aja sih, boy. Apa cinta bisa bayar MUA, bayar gedung, bayar ketring, bayar cetakan undangan, atau bayarin hidup ke depan nya? Semuanya tetap musti punya hitungan yang pas dan modal yang mencukupi.

Menikah bukan perihal ngomongin Cinta, boy.

Tapi memikirkan bagaimana kita bisa hidup bahagia lahir dan batin ke depan nya.

Mustahil kalau laki-laki datang ke rumah seorang perempuan untuk melamar dihadapan kedua orang tua nya tanpa punya perhitungan yang tepat.
  Mau dibawa kemana hidup neng, bang?  Mau dikasih makan apa anak gue (bapa nya calon), boy?

Sebagai perempuan pun, gue banyak mikir sih. Gue tidak ingin cuma mengandalkan calon pasangan gue. Yang namanya hidup bersama ya kita berusaha bareng tanpa saling mengandalkan. Bagaimana caranya? Mulai cari rupiah sendiri.

Sebelum menikah gue musti memantaskan diri, berusaha mandiri, membiayai hidup gue sendiri tanpa menyusahkan orang tua, mengatur segala keperluan hidup sendiri, hingga gue yakin kalau gue siap untuk menikah. Setidaknya ketika nikah, gue sudah faham bagaimana mengelola rumah tangga gue sendiri.

Bagi gue, menikah dengan membiayai segala keperluannya dengan hasil jerih payah sendiri itu keren sih. Gue banyak belajar dari orang-orang yang memutuskan untuk menikah dengan penghasilan sendiri tanpa minta se-peser pun sama orang tua.

Gue rasa cukup sih, orang tua kita membiayai hidup sampe lulus kuliah. Saatnya membuktikan pada mereka bahwa kita sudah bisa mandiri dan memang pantas buat menikah.

So, gimana nih tetep mau nikah tanpa ada nya persiapan yang matang?

Yuk, nikah! Jangan lupa cari pasangan yang mau belajar tentang bagaimana cara nya hidup dan sudah siap lahir maupun batin.



Balik lagi sih, sudut pandang tiap orang pasti nya berbeda. ok.

Friday, September 8, 2017

Siapa Bilang?



Baru-baru ini, gue kumpul bareng sahabat SMA yang udah hampir 7 tahun kita sahabatan. Salah satu sahabat kita ada yang menikah which is kita musti kumpul. Akhirnya, untuk pertama kalinya gue bisa punya foto bareng sama kembaran gue. Ya, salah satu dari mereka adalah kembaran gue. Tapi, kembaran ketemu pas SMA.

Entah sejak kapan kita mengklaim diri kita sebagai kembaran. Yang jelas, kita memang punya banyak kesamaan. Awalnya karena kita suka sama tokoh kartun Doraemon lalu berlanjut ke kesamaan kita berikutnya yaitu suka Kpop, drakor, meskipun bias kita beda (yang suka kpop pasti faham apa yang gue maksud).

7 tahun bukan lah waktu yang singkat. Banyak momen yang kita lakukan bersama. Gue merasa nyaman bercerita apapun sama si kembaran gue ini. Kalian tahu? Kembaran gue itu laki-laki. Banyak yang bilang kalau perempuan dan laki-laki susah buat jadi sahabat. Siapa bilang?

Gue rasa statement itu ga sepenuh nya benar. Gue dan dia merasa kita memang bisa jadi sahabat yang sekedar sahabat. Kita masing-masing punya orang spesial.

Monday, September 4, 2017

One Step Closer


Kemarin adalah hari bahagia sahabat gue. Dia akhirnya menemukan orang yang tepat -yang Allah kasih untuk senantiasa menemani hidup nya dan berjalan bersama menuju surga-Nya.

Gue bahagia sekaligus sedih. Bahagia karena melihat sahabat gue bahagia. Sedih karena gue belum bisa menemukan orang yang Allah janjikan buat menemani hidup gue. Di acara pernikahan kemarin gue menemukan banyak pelajaran tentang bagaimana keajaiban dan rencana Allah yang begitu Indah.

Pernikahan adalah suatu peristiwa penting dan terjadi sekali dalam seumur hidup. Memutuskan menikah bukan hal yang mudah. Banyak sekali yang memang musti dipertimbangkan hingga akhirnya mantap menikah. Selama perjalanan menuju pernikahan, ada beberapa hal yang musti dilakukan.

 Bagi gue, yang masih jomblo pasti nya gue masih musti terus memperbaiki diri. Karena jodoh gue ingin menerima hal yang terbaik dari diri gue. Begitupun sebaliknya dengan jodoh gue. Dia pun masih harus terus memperbaiki diri. Kemarin, gue melihat sendiri bagaimana Allah mempertemukan orang yang baik dengan yang baik duduk di sebuah pelaminan. Ya, pernikahan sahabat gue. Percaya deh, Jodoh memang rahasia Tuhan yang paling keren. Perkara kriteria atau standar jodoh udah ga ada gunanya lagi ketika kita bertemu dengan orang yang tepat. Janji Allah perihal "yang baik untuk yang baik pula" memang sangat benar adanya.

Gue merasa nyaman, merasa adem ketika sahabat gue akhirnya menikah dengan jodoh nya. Mereka berdua sama-sama sholeh dan sholehah. Gue yakin banyak malaikat yang menyaksikan janji suci mereka pada  hari itu. Kesederhanaan mereka yang patut di contoh. Tutur kata mereka yang sangat amat bijaksana dan lembut. Mereka menganggap dunia ini bukan ajang pamer tapi ladang mencari berkah dan pahala. Mereka dedikasikan hidup hanya demi Allah Ta'ala. Tak peduli siapa diri mereka, latar belakang mereka, atau sebanyak apa kekayaan yang mereka punya. Yang jelas ada rasa cinta yang tulus di kedua mata mereka. Mereka bahagia dengan segala apa yang mereka miliki.

Selangkah menuju pernikahan, meskipun entah waktunya kapan. Gue pasti bakal mengalami hal yang sama seperti mereka. Menikah.

Pernikahan yang penuh kesederhanaan dan cinta yang tulus.

Mencari pasangan bukan perkara seberapa tampan atau cantik. Tapi, mencari pasangan yang mau belajar dan berusaha. Sehingga sama-sama bisa memahami bagaimana esensi hidup dan cara kerja dunia.

Terimakasih sahabat atas semua pelajaran yang kau berikan di hari itu.
Semoga hidup mu dan keluarga kecil mu selalu berada dalam berkah dan lindungan-Nya.

Saturday, September 2, 2017

"Sepucuk Surat dari Stasiun Lempuyangan"

(Satu)

Seperti biasa, setiap pagi ku sempatkan memasak di dapur kecil rumah ku. Menu andalan pagi hari ku adalah nasi goreng teri. Aku tinggal di sebuah kontrakan kecil. Sebetulnya aku bukan orang yang dilahirkan di kota ini. Satu tahun yang lalu, aku diterima bekerja di salah satu sekolah SMA disini. Karena dulu aku lulusan salah satu universitas di kota pelajar, jadi aku memutuskan untuk bekerja disini. Keluarga ku tinggal di Bandung. Tapi, aku memilih hidup disini. Tempat yang sudah memberikan banyak pelajaran bagi hidup ku. Tempat yang sudah membuat ku jauh dari mu. Orang yang menyukai ku dan menunggu ku bertaun-taun di Bandung. Entah lah, apa kabar kamu sekarang. Aku tak pernah bertemu dengan mu lagi sejak aku memberikan jawaban terpahit dalam hidup  -aku menolak mu.

Ku langkah kan kaki menuju tempat dimana ku mengais rezeki dan juga mengumpulkan pahala. Jarak antara kontrakan dengan tempat mengajar tidak terlalu jauh. Hanya butuh 10-15 menit.

Aku selalu datang lebih awal dibandingkan pengajar yang lain. Mungkin karena kebiasaan ku dulu sewaktu sekolah, Aku selalu datang lebih pagi dibanding guru dan teman-teman yang lain. Ayah ku bilang, kalau mau jadi orang sukses cobalah menjadi yang lebih awal dari orang lain. Begitulah bagaimana Ayah mendidik ku. Tapi, ayah ku tak pernah tau apa yang setiap hari nya aku lakukan di sekolah. Berangkat pagi hanya karena agar aku tak dimarahi Ayah hingga nanti nya aku tak diberi uang saku oleh ibu atas intruksi Ayah.

Aku mengajar mata pelajaran Bahasa Inggris. Yang sebetulnya adalah mata pelajaran yang paling aku benci sejak aku duduk dibangku kelas 5 SD. Entahlah, saat Aku duduk dibangku kelas 2 SMA, Aku mulai meyukai pelajaran ini. Ya, semua karena kamu.

Anggita Pratiwi. Seorang siswi terbaik di Sekolah , juara kelas, ketua kelas, anggota OSIS, pengumpul medali dalam segala hal yang berhubungan dengan bahasa inggris, dan siswi andalan sekolah. Begitu sempurna kamu bagi ku. Karena aku hanya siswa berkacamata, berkulit hitam dan penyuka club sepak bola Manchester United.  Kegiatan ku di kelas hanya bergurau dan tidur. Sebab itulah aku memilih duduk di bangku paling belakang. Karena duduk di bangku depan membuat ku tak bisa berbuat apapun selain fokus dengan pelajaran. Lain dengan mu, yang selalu duduk di bangku paling depan. Aku merasa kamu seperti langit dan aku buminya. Perbedaan ku dengan mu begitu jauh. Maka mustahil jika aku pun bisa bersamamu.

"Ketika aku membayangkan dirimu. Aku terlalu kecil. Aku terlalu rendah dibandingkan dirimu. Apakah aku pantas bersatu dengan dirimu? Apakah aku pantas berdiri tegap disamping mu?"

Setiap malam ku selalu menuliskan resah ku di tiap helai buku harian. Ya, meskipun aku laki-laki tapi aku lebih suka menulis buku harian dibanding curhat dengan teman. Ku rasa curhat dengan laki-laki tak se asik layaknya kaum perempuan yang sedang curhat satu sama lain. Pernah suatu hari aku cerita pada teman-teman ku, Mereka kerap kali menyarankan ku mengungkapkan rasa ku pada mu. Sedangkan nyali ku terlalu kecil. Aku takut kamu menolak karena kekuranagan ku. Aku takut kalaupun kau menerima ku, hanya karena kau kasihan pada ku. Sebab itulah aku tak pernah memberitahukan perasaan ku pada mu sampai kita lulus dari SMA.

Hingga suatu hari di acara kelulusan SMA -Kau memberi sepucuk surat berwarna merah. Kamu meminta ku membacanya saat aku tiba di rumah. Dengan ekspresi bingung, perasaan yang campur aduk. Ku anggukan kepala ku -tanda aku setuju dengan permintaan mu. Lalu kau pergi meninggalkan ku dengan sepucuk surat merah di tanganku.

Malam nya, Aku memberanikan diri membaca surat dari mu. Dengan rasa penasaran yang tinggi, aku membaca kata demi kata, kalimat demi kalimat yang kau tulis dengan indah di kertas merah itu. Keringat ku mulai menetes sedikit demi sedikit. Bukan kepanasan, melainkan isi surat mu yang membuat ku berkeringat membaca nya.

 Perasaan ku campur aduk. Aku tidak percaya dengan apa yang telah aku baca malam itu. Sepucuk surat merah yang bertuliskan isi hatimu kepada ku. Perasaan yang juga aku rasakan terhadap mu. Bagaimana aku bisa seberuntung itu di sukai oleh mu. Tapi, ada sesuatu yang mengganggu ku di sela tulisan mu. Kamu mengatakan ingin bersama ku setelah kita sama-sama sukses nanti. Kamu bilang akan mencari ku saat waktu nya tepat. Bukankah seharusnya aku senang karena kamu akan menunggu ku? Mengapa malam itu yang aku rasakan adalah rasa takut yang semakin besar? Ada apa dengan diriku?

Bandung, 10 januari 2012

Apa kabar teman sekelas ku? Kau Dikta Sahendra. 

Hendra, panggilan akarab teman-teman mu. Meskipun aku terlihat acuh dikelas, tapi aku tak pernah memalingkan pandangan ku dari mu. Aku memang selalu sibuk dengan kegiatan-kegiatan ku di sekolah. Sebetulnya, Aku selalu ingin punya waktu hanya untuk menyapa mu. Entah sejak kapan aku mulai meyukai mu. Yang jelas, ketika kamu tertawa dengan teman-teman mu di pojokan kelas -ada rasa dimana aku melihat mu sebagai orang yang selalu terlihat bahagia. Kau manis saat tertawa.Tidak seperti diriku yang tak pernah ada waktu untuk sekedar mengobrol, menyapa atau bahkan bercanda dengan teman sekelas ku. Kamu adalah manusia yang ku sukai sejak lama. Tapi, dengan kesibukan ku dan ambisi-ambisi ku -aku memilih untuk menyimpan semuanya dari mu.

Aku merasa bukan orang yang pantas hadir dihadapan mu karena aku terlalu mementingkan hidup ku sendiri. Aku bukan orang yang selalu bisa membuat kamu bahagia, tertawa seperti kamu yang selalu membuat orang disekitar mu bahagia. Aku terlalu mengkhawatirkan masa depan hingga aku harus mengesampingkan rasa cinta ku padamu karena ku tak mau rencana masa depan ku jadi berantakan. Masih pantaskah aku mencintai orang sebaik dirimu? Yang selalu menikamati hidup dengan orang-orang sekitar. Yang selalu peduli dengan orang sekitar. Aku tak pernah peduli seberapa malas kau di kelas. Aku tahu kau pasti punya kemauan yang keras -yang orang lain tidak tahu. 

Makadari itu, sejak hari itu -dimana aku mulai mencintai mu. Aku berjanji pada diriku akan menunggu mu hingga kita benar-benar siap untuk berdiri berdampingan bersama. Aku akan menunggu mu, Dikta Sahendra.