Saturday, September 2, 2017

"Sepucuk Surat dari Stasiun Lempuyangan"

(Satu)

Seperti biasa, setiap pagi ku sempatkan memasak di dapur kecil rumah ku. Menu andalan pagi hari ku adalah nasi goreng teri. Aku tinggal di sebuah kontrakan kecil. Sebetulnya aku bukan orang yang dilahirkan di kota ini. Satu tahun yang lalu, aku diterima bekerja di salah satu sekolah SMA disini. Karena dulu aku lulusan salah satu universitas di kota pelajar, jadi aku memutuskan untuk bekerja disini. Keluarga ku tinggal di Bandung. Tapi, aku memilih hidup disini. Tempat yang sudah memberikan banyak pelajaran bagi hidup ku. Tempat yang sudah membuat ku jauh dari mu. Orang yang menyukai ku dan menunggu ku bertaun-taun di Bandung. Entah lah, apa kabar kamu sekarang. Aku tak pernah bertemu dengan mu lagi sejak aku memberikan jawaban terpahit dalam hidup  -aku menolak mu.

Ku langkah kan kaki menuju tempat dimana ku mengais rezeki dan juga mengumpulkan pahala. Jarak antara kontrakan dengan tempat mengajar tidak terlalu jauh. Hanya butuh 10-15 menit.

Aku selalu datang lebih awal dibandingkan pengajar yang lain. Mungkin karena kebiasaan ku dulu sewaktu sekolah, Aku selalu datang lebih pagi dibanding guru dan teman-teman yang lain. Ayah ku bilang, kalau mau jadi orang sukses cobalah menjadi yang lebih awal dari orang lain. Begitulah bagaimana Ayah mendidik ku. Tapi, ayah ku tak pernah tau apa yang setiap hari nya aku lakukan di sekolah. Berangkat pagi hanya karena agar aku tak dimarahi Ayah hingga nanti nya aku tak diberi uang saku oleh ibu atas intruksi Ayah.

Aku mengajar mata pelajaran Bahasa Inggris. Yang sebetulnya adalah mata pelajaran yang paling aku benci sejak aku duduk dibangku kelas 5 SD. Entahlah, saat Aku duduk dibangku kelas 2 SMA, Aku mulai meyukai pelajaran ini. Ya, semua karena kamu.

Anggita Pratiwi. Seorang siswi terbaik di Sekolah , juara kelas, ketua kelas, anggota OSIS, pengumpul medali dalam segala hal yang berhubungan dengan bahasa inggris, dan siswi andalan sekolah. Begitu sempurna kamu bagi ku. Karena aku hanya siswa berkacamata, berkulit hitam dan penyuka club sepak bola Manchester United.  Kegiatan ku di kelas hanya bergurau dan tidur. Sebab itulah aku memilih duduk di bangku paling belakang. Karena duduk di bangku depan membuat ku tak bisa berbuat apapun selain fokus dengan pelajaran. Lain dengan mu, yang selalu duduk di bangku paling depan. Aku merasa kamu seperti langit dan aku buminya. Perbedaan ku dengan mu begitu jauh. Maka mustahil jika aku pun bisa bersamamu.

"Ketika aku membayangkan dirimu. Aku terlalu kecil. Aku terlalu rendah dibandingkan dirimu. Apakah aku pantas bersatu dengan dirimu? Apakah aku pantas berdiri tegap disamping mu?"

Setiap malam ku selalu menuliskan resah ku di tiap helai buku harian. Ya, meskipun aku laki-laki tapi aku lebih suka menulis buku harian dibanding curhat dengan teman. Ku rasa curhat dengan laki-laki tak se asik layaknya kaum perempuan yang sedang curhat satu sama lain. Pernah suatu hari aku cerita pada teman-teman ku, Mereka kerap kali menyarankan ku mengungkapkan rasa ku pada mu. Sedangkan nyali ku terlalu kecil. Aku takut kamu menolak karena kekuranagan ku. Aku takut kalaupun kau menerima ku, hanya karena kau kasihan pada ku. Sebab itulah aku tak pernah memberitahukan perasaan ku pada mu sampai kita lulus dari SMA.

Hingga suatu hari di acara kelulusan SMA -Kau memberi sepucuk surat berwarna merah. Kamu meminta ku membacanya saat aku tiba di rumah. Dengan ekspresi bingung, perasaan yang campur aduk. Ku anggukan kepala ku -tanda aku setuju dengan permintaan mu. Lalu kau pergi meninggalkan ku dengan sepucuk surat merah di tanganku.

Malam nya, Aku memberanikan diri membaca surat dari mu. Dengan rasa penasaran yang tinggi, aku membaca kata demi kata, kalimat demi kalimat yang kau tulis dengan indah di kertas merah itu. Keringat ku mulai menetes sedikit demi sedikit. Bukan kepanasan, melainkan isi surat mu yang membuat ku berkeringat membaca nya.

 Perasaan ku campur aduk. Aku tidak percaya dengan apa yang telah aku baca malam itu. Sepucuk surat merah yang bertuliskan isi hatimu kepada ku. Perasaan yang juga aku rasakan terhadap mu. Bagaimana aku bisa seberuntung itu di sukai oleh mu. Tapi, ada sesuatu yang mengganggu ku di sela tulisan mu. Kamu mengatakan ingin bersama ku setelah kita sama-sama sukses nanti. Kamu bilang akan mencari ku saat waktu nya tepat. Bukankah seharusnya aku senang karena kamu akan menunggu ku? Mengapa malam itu yang aku rasakan adalah rasa takut yang semakin besar? Ada apa dengan diriku?

Bandung, 10 januari 2012

Apa kabar teman sekelas ku? Kau Dikta Sahendra. 

Hendra, panggilan akarab teman-teman mu. Meskipun aku terlihat acuh dikelas, tapi aku tak pernah memalingkan pandangan ku dari mu. Aku memang selalu sibuk dengan kegiatan-kegiatan ku di sekolah. Sebetulnya, Aku selalu ingin punya waktu hanya untuk menyapa mu. Entah sejak kapan aku mulai meyukai mu. Yang jelas, ketika kamu tertawa dengan teman-teman mu di pojokan kelas -ada rasa dimana aku melihat mu sebagai orang yang selalu terlihat bahagia. Kau manis saat tertawa.Tidak seperti diriku yang tak pernah ada waktu untuk sekedar mengobrol, menyapa atau bahkan bercanda dengan teman sekelas ku. Kamu adalah manusia yang ku sukai sejak lama. Tapi, dengan kesibukan ku dan ambisi-ambisi ku -aku memilih untuk menyimpan semuanya dari mu.

Aku merasa bukan orang yang pantas hadir dihadapan mu karena aku terlalu mementingkan hidup ku sendiri. Aku bukan orang yang selalu bisa membuat kamu bahagia, tertawa seperti kamu yang selalu membuat orang disekitar mu bahagia. Aku terlalu mengkhawatirkan masa depan hingga aku harus mengesampingkan rasa cinta ku padamu karena ku tak mau rencana masa depan ku jadi berantakan. Masih pantaskah aku mencintai orang sebaik dirimu? Yang selalu menikamati hidup dengan orang-orang sekitar. Yang selalu peduli dengan orang sekitar. Aku tak pernah peduli seberapa malas kau di kelas. Aku tahu kau pasti punya kemauan yang keras -yang orang lain tidak tahu. 

Makadari itu, sejak hari itu -dimana aku mulai mencintai mu. Aku berjanji pada diriku akan menunggu mu hingga kita benar-benar siap untuk berdiri berdampingan bersama. Aku akan menunggu mu, Dikta Sahendra. 

No comments:

Post a Comment