Tuesday, August 29, 2017

Realita Hidup "Nomaden"

Ternyata hidup nomaden bukan cuma ada di zaman pra sejarah. Hidup berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain karena tidak punya tempat tinggal tetap. Sekarang, di zaman yang sudah modern ini, gue masih hidup nomaden.

In this case gue masih punya tempat tinggal tetap. Lah terus, kenapa gue menyebut hidup gue ini nomaden? Because, for some reason -gue menjadikan rumah hanya sebatas tempat singgah atau mungkin hanya sekadar say hello sama penghuni rumah and then gue pergi lagi.

Rutinitas "nomaden" dimulai sejak masuk SMP. Usia gue waktu itu sekitar 11 tahun kurang lebih. Manusia kecil tanpa pengalaman dan beribu kepolosan harus tinggal di sebuah asrama yang berisikan manusia asing dari berbagai daerah, latar belakang yang berbeda dan pribadi yang bervariasi pula. Gue dengan segenap keberanian diri mencoba bertahan hidup mandiri -jauh dari orang tua. Homesick -Pasti. Butuh berbulan-bulan gue menghadapi homesick. Hampir setiap menit gue nangis. Apapun yang gue lakukan, di otak gue cuma ada satu hal yang ingin sekali dilakukan -pulang ke rumah.

Anak sekecil itu hidup jauh dari orang tua dan musti mengerjakan segala sesuatu nya sendiri adalah hal paling sulit dijalani. Dulu gue masih belum faham bagaimana caranya nyuci baju, bagaimana caranya menata lemari gue sehingga bisa terlihat rapi dan yang paling penting bagaimana caranya mengatur uang saku. Mainset gue yang memang masih sangat anak-anak sekali membuat gue selalu menghabiskan uang ga jelas. Prinsip nya yang penting gue kenyang, bisa jajan enak, dan bisa main. Itu yang ada di otak gue kala itu. Terlebih lagi, personality gue yang introvert membuat gue susah beradaptasi dengan orang-orang baru.

Beberapa tahun berlalu, gue mulai berubah menjadi manusia yang siap untuk mandiri. Gue belajar bagaimana mengatur keuangan sehingga gue masih bisa menyisihkan untuk menabung, gue belajar bagaimana caranya bersosialisasi yang baik dan benar walaupun yang satu ini sampai sekarang masih belum menghasilkan progress, dan gue entah kenapa mulai memahami sifat manusia -mana yang tulus dan mana yang cuma sekedar haha-hihi didepan.

Kehidupan nomaden gue dilanjutkan ketika kuliah. Lagi, gue tinggal di sebuah asrama. Gue merasa sudah terbiasa dengan kehidupan asrama. Merasa homesick pernah. Sesekali, kalau kegiatan di asrama tidak terlalu padat. Kadang juga pas gue merasa homesick -gue nangis. Tapi sebetulnya, lebih banyak jenuh dibanding homesick. Pas kuliah, gue masih sempet pulang setiap sabtu dan minggu dikarenakan kuliah gue libur. Beda dengan asrama gue dulu yang pulang cuma satu atau dua kali dalam setahun.

Masa-masa hidup diasrama pas kuliah tidak terlalu berat. Gue merasa sudah bisa mengatur keuangan gue agar masih bisa menabung, membeli kebutuhan gue sehari-hari, tapi gue masih belajar bagaimana bersosialisasi yang baik dan benar. Problema manusia seperti gue adalah sosialisasi. Walaupun perlahan gue mulai berani ngomong di depan banyak orang. Tapi, satu yang sampai saat ini belum bisa gue lakukan - basa-basi.

Hidup nomaden membuat gue belajar banyak hal. Bukan cuma belajar mandiri, tapi juga time consuming -bagaimana mengelola waktu gue sendiri sehingga tidak ada sedikit pun waktu yang terbuang percuma. Segala urusan gue pun tidak ada yang terbengkalai. Hidup nomaden membuat gue menjadi orang yang bisa membaca keadaan sekitar. I mean, Hidup ga seenak jidat gue doang. Tapi musti mikirin sekitar juga.

Menjaga sikap. Bagaimana gue menjaga sikap dihadapan orang lain dengan tetap menjadi diri sendiri. Ajaib memang. Di dunia ini banyak sekali manusia-manusia yang survive dengan bermacam cara. Makanya timbul tuh istilah muka dua lah, penjilat lah, atau istilah-istilah lainnya yang lebih mengerikan.

Oh iya, satu lagi. Hidup nomaden bikin gus struggle sama omongan-omongan negatif orang lain. Kebiasaan orang-orang yang lebih suka nyinyir membuat gue merasa biasa aja dengan tradisi itu. Saking sering nya, saking banyak nya gue ketemu dengan manusia-manusia ajaib seperti itu. gue menjadikan hal itu sebagai cara untuk latihan bersabar. Menjadikan omongan negatif mereka sebagai motivasi hidup dan mungkin masih banyak lagi hikmah yang bisa gue ambil dari omongan mereka.

Kegalauan manusia yang hidup nomaden adalah kita kadang merasa tidak punya banyak waktu buat stay di rumah, atau sekadar spend time yang biasanya orang-orang menghabiskan waktu sore dengan meneguk secangkir teh sambil menikmati senja di teras rumah. Dan lagi, manusia yang hidup nomaden atau pada zaman ini lebih akrab dengan sebutan hidup merantau adalah manusia yang sangat awam dengan hal yang terjadi di rumahnya sendiri dan terkesan sombong hanya karena mereka kurang faham dengan daerah dimana dia dilahirkan.

Itu pula yang terjadi pada diri gue. Ketika gue mendapat surat dari kantor pos, gue ditanya posisi rumah dimana, dekat rumah siapa, dan hal detail lain nya tentang letak rumah gue. Kala itu gue tidak bisa menjelaskan detail posisi rumah gue dikarenakan gue jarang pulang ke rumah dan jarang bersosialisasi dengan orang sekitar. Dan hebatnya pak pos lebih tahu daerah rumah gue, nama tetangga gue dan bahkan nama Pak RT nya -dia tahu.

Begitulah, realita hidup nomaden yang selama ini gue alami.

Mungkin kalau gue tidak hidup "nomaden", gue tidak akan menjadi manusia yang sangat menghargai waktu, mandiri dan punya pikiran yang terbuka. Hidup gue akan terasa menjenuhkan sekali. Minim pengalaman. Alhasil jadi lembek ketika tahu bahwa hidup ini sebetulnya sangat kejam dan butuh mentalitas yang tinggi untuk menjalani nya.

Tuesday, August 22, 2017

Lea dan Pasar Giwangan


(Berdamai dengan mereka yang hilang)

Tak jauh dari kos-an -tempat dimana aku menghabiskan waktu selama hampir tiga tahun, ada sebuah pasar bernama pasar giwangan.

Sejak aku tiba di kota pelajar beberapa tahun lalu, hampir setiap pagi ku sempatkan berbelanja kebutuhan ku di pasar ini. Entah cuma sekadar beli jajanan pasar, peralatan mandi hingga sabun, atau kebutuhan untuk masak tiap hari nya. Pasar ini sudah menjadi destinasi harian ku, selain kampus.

Hidup di ruangan yang hanya muat kasur tanpa ranjang dan lemari plastik, tak lantas membuat ku menyerah. Tak mewah memang. Tak ada AC atau sekadar meja belajar. Hanya muat kipas angin kecil yang ku bawa sendiri dari tempat asal ku. Ku beli meja  kecil  kayu yang biasa dipakai anak-anak TK agar aku masih bisa merasakan belajar diatas meja. Ada yang istimewa di kos-an ku, yaitu kamar mandi dan dapur pribadi. Meskipun letak kamar mandi nya tidak di dalam kamar layaknya kos-an elit kebanyakan -setidaknya aku tak harus share dengan yang lain.  Aku memang tidak suka melihat ruangan yang berantakan, apalagi kamar mandi yang kotor. Bersih tetap nomor satu. Karena bersih sebagian dari Iman. Semacam doktrin yang ibu tanamkan di pikiran ku sejak kecil.

Sebagai anak indekos yang tinggal jauh dari keluarga, tentunya semua musti serba sendiri. Dari mengatur keuangan sendiri, sampai mikirin mau makan apa setiap hari nya. Aku lebih sering masak sendiri. Sebetulnya, untuk makanan -Aku tidak musti pusing. Tempat kos ku sangat strategis. Supermarket, pasar, sampai penjual makanan pinggir jalan pun masih bisa dijangkau dengan hanya berjalan kaki. Tapi, karena Aku bukan mahasiswa yang sanggup makan tiap hari di luar, dan aku terlalu koret hanya untuk memuaskan hasrat diri, makan makanan enak. Aku lebih memilih membuat masakan sendiri. Awalnya, aku tidak bisa masak sama sekali. Setiap kali aku hendak memasak, ku telpon ibu -meminta resep. Keasinan, hambar, terlalu manis, kadang terlalu matang atau bahkan masih mentah, tak lantas membuat ku berhenti memasak. Setelah beberapa kali ku coba. Rasa masakan ku mulai bisa di nikmati. Meski tak senikmat masakan ibu di rumah.

Aku cukup perhitungan. Ya, maklum karena hidup ku tak seberuntung mahasiswa di luar sana. Orang tua yang setiap saat bisa dimintai uang transfer-an. Berbeda dengan ku, sejak seseorang yang harus nya menjadi tempat bergantung hidup dan menafkahi keluarga -justru malah pergi. Entah lah, tiga tahun lalu sudah tak ada kabar dari laki-laki itu.

Seakan dunia tengah menguji kesabaran, aku dihadapkan dengan ibu kos yang terlalu kepo dengan para penghuni kos, sedikit risih juga. Apalagi kalau suasan hati ku sedang runyam. Membuat ku tak ingin kembali kesini. Memang tak selamanya ibu kos menyebalkan. Ada sisi dimana omongan nya membuat aku merasa termotivasi.

"Kapan lulus?"

"Masih muda kok males !"

"Kenapa tiduran terus di kamar?"

Sebetulnya pertanyaan-pertanyaan itu kurang enak didengar. Tapi, setelah aku renungkan -itu motivasi. Benar juga kata ibu kos, Mau sampai kapan aku tidur sehingga tugas kuliah ku menumpuk. Bagaimana aku bisa bangkit dan membuktikan padanya bahwa aku bisa hidup tanpa ada dia. Akhirnya ku mulai berpikir ulang, membenahi semua yang dulu sempat rusak, terbengkalai dan tertunda.

Pagi ini, ku mulai melangkahkan kaki menuju pasar giwangan. Beberapa bulan yang lalu, aku mengundurkan diri dari kedai yang menjual jajanan pasar. Karena alasan klise sih, si pemilik pun mengerti dengan alasan ku. Dia sangat baik, dia bilang akan menerima ku kembali dengan senang hati jika suatu saat ku ingin kembali kesana. Mungkin karena kita sama-sama berasal dari kota yang sama, tahu bagaimana rasanya tinggal di kota yang jauh dari tempat asal.

"Pagi mas, bagaimana kabar mu hari ini?" Sapa ku.

"Lea!  Sampean kemana saja?" Balas nya. Mas Rangga terlihat senang melihat ku kembali berkunjung ke kedai.

"Saya sibuk dengan tugas kuliah, mas." Jawab ku.Yang memang bukan jawaban sebenarnya.

"Sejak kapan kamu serius sama tugas kuliah? Biasa nya juga kamu cuma belajar pas mau ujian semester. Tugas kuliah pun kau tumpuk, sampai kau di omeli dosen. Kayaknya kamu mesti kena omel dulu baru sadar ya." Gurau nya. Mas Rangga memang sudah mengenal ku sejak dua tahun lalu. Ya, aku bekerja di kedai ini sudah dua tahun.

"Bagaimana kedai tanpa ku, mas? Rame gak?" 

"Alhamdulillah rame. Kamu pikir gak ada kamu kedai ku jadi sepi. Jangan salah, kedai ini selalu rame karena yang jual nya kan good looking." Dia memang selalu membuat suasana terasa nyaman dan asik. Tinggal disini, tak begitu membuat ku merasa kesepian. Masih ada manusia seperti mas rangga yang membuat ku seperti tinggal di kota sendiri.

"Kita tak lantas menjadi kecil dan kesepian saat tak ada satu orang pun yang kita kenal." Katanya saat aku baru kerja di kedai nya. Dia sudah serasa kaka ku disini. Aku memang tak pernah punya kaka, karena aku anak pertama di keluarga ku. Aku merasa masih ada orang yang mau memberikan perhatian nya setelah lama ku tak merasakan perhatian dari seorang laki-laki.

"Apa kamu kembali mengingat nya? Sampai kamu harus uring-uringan beberapa bulan yang lalu." Tanya nya.

"Mungkin, butuh ribuan obat merah biar bisa nyembuhin luka ini, mas."

"Lebay kamu. Kamu cuma butuh satu obat merah yang isinya literan ikhlas."

"Kata Ikhlas tidak segampang bagaimana kita ngucapinnya."

"Apa salah nya di coba? Toh Selama ini kamu belum pernah mencoba nya kan?"

Aku terdiam. Membayangkan bagaimana caranya aku bisa ikhlas atas perbuatan lelaki itu dua tahun yang lalu.

"Bukan mikirin caranya, lakuin aja. Biar waktu yang jawab semua usaha mu. Perlahan semua kepahitan itu akan habis ludes dimakan waktu." Mas Rangga yang tahu kalau aku sedang berpikir -mencoba memberikan jawaban singkat.

"Kehilangan tidak harus terus-terusan di tangisi, cobalah kamu sambut kehilangan itu dengan senyum lebar. Karena setelah kehilangan, kamu akan mendapat hal baru. Mungkin kisah baru atau orang baru." Lanjutnya.

"Mereka yang hilang mungkin sudah tidak pantas lagi menorehkan sejarah di hidup kita. Mereka yang hilang sudah cukup mengisi hari-hari kita. Mereka yang hilang meninggalkan banyak pelajaran buat dijadikan perbaikan di kemudian hari. Tak banyak memang, mereka yang hilang meninggalkan tawa. Sepahit dan sekelam apapun kisah yang mereka kasih ke kita, coba lah sambut hadiah mereka dengan rasa ikhlas dan senyuman terbaik kita. Percaya suatu saat akan ada orang-orang yang lebih baik dari mereka yang bisa memulihkan luka di hati." Tambahnya.

Mas Rangga terlihat tegar mengatakannya. Tapi, ku tahu hati nya tampak lemah dan rapuh.Tepat di tahun yang sama dimana aku ditinggalkan oleh ayah, Mas Rangga ditinggal tanpa alasan yang jelas oleh kekasih nya yang sudah lima tahun menghabiskan waktu bersama, menorehkan kisah di hidup nya, meninggalkan jejak kenangan di ingatan nya.

Tidak mudah memang, mengikhlaskan orang yang dulu pernah ada dalam setiap goresan tinta yang menodai lembaran kertas hidup kita. Tapi entah bagaimana dia bisa bangkit dari kehilangan sepahit itu. Seperti katanya, kehilangan butuh di sambut bukan di tangisi.

Pasar giwangan inilah yang mempertemukan ku dengan orang yang pernah kehilangan. Rangga Adisaputra.

Wednesday, August 2, 2017

Celotehan "Garing" ( Pertanyaan Klise )

Gue mulai dari mana ya?

Ok. Gue mulai dari status. I mean, Seberapa penting status dimata orang-orang?

Yang gue bahas itu bukan status secara global, lebih spesifik. Status diri. Like, Single? Or Double? or triple? Bukan. Sorry kalau tetiba ngawur.

In this case, Gue mau bahas status as a Jomblo. Manusia yang terlihat mengenaskan karena tidak punya sandaran hati, tidak punya gandengan hanya untuk menghadiri nikahan teman, tidak punya cukup bahan "pamer" untuk di share di media sosial like kebanyakan manusia pada umumnya. But, I dont think so. If you think that Single as poor as like that. You guys are wrong at all. 

Beralih ke pertanyaan klise, celotehan garing manusia jaman sekarang. Why people always ask me about boyfriend? 

"Do you have boyfriend?" people said.

"No, I dont." I said. 

Dan ketika gue manjawab bahwa gue tidak punya pacar sama sekali, people like (ekspresi) "Sure? Di jaman yang se-modern ini masa iya enggak punya pacar?"

Who cares? Memang nya masalah banget kalau gue ga notice sama pacaran? Sepenting itukah status pacar dalam hidup seseorang? Sehingga patut untuk dipertanyakan? Sorry, bukan gue merasa sewot dengan orang-orang yang bertanya perihal sesuatu klise itu. hanya saja bagi gue, masih banyak pertanyaan berfaedah yang bisa dilontarkan ke diri gue.

Membahas masalah jomblo. Surely, Gue merasa bangga sama diri gue yang masih single ini. Di jaman sekarang, akan terasa aneh kalau kita hidup tanpa ada nya si pacar. Anak SD aja udah kenal pacaran. Apa kabar masa SD gue yang cuma kenal sama maenan lompat tali?

Dikarenakan jaman yang sudah menganggap "Lumrah" si pacaran ini membuat banyak remaja "mengidap" penyakit galau. Penyakit yang bisa merusak segala-galanya. Bahkan masa depan pun bisa rusak hanya gara-gara galau. It's funny enough, dude. 

Pacar. Pacaran. Kompleks sih. Pro Kontra. Banyak.

Cukup sampai sini buat bahas masalah pacar.

Okeh. Gue rasa orang-orang yang baca udah mulai mikir atau sewot sama pernyataan gue.

Kalau kalian berfikir karena gue jomblo, terus gue terasa tidak welcome dengan orang-orang yang punya pacar. No. That's your choice. Gue juga punya prinsip dan pilihan. Gue tidak harus men-judge atau mengintimidasi orang-orang yang punya pacar. For what? Ga ada opportunity nya sama sekali buat gue.

Gua hanya mencoba menjelaskan arti status pacar dari sudut pandang gue. Karena gue merasa annoying dengan pertanyaan-pertanyaan "garing" yang kerap kali terdengar di kuping gue. Hanya berusaha memberi pengertian kepada orang-orang, Gue bangga dengan gue yang sendiri ini. Gue tidak terlihat sangat kasian hanya karena tidak punya pacar. Intinya, I dont like when you ask me about boyfriend. 

Jomblo itu prinsip, boy.

Gue tidak mengintimidasi orang-orang yang punya pacar, Kenapa jomblo diperlakukan seperti itu? why? Mungkin banyak juga jomblo yang bodo amat. Tapi, bagi gue annoying sih. Lagi, gue merasa orang-orang terlalu men-screening hidup orang lain as always. Walaupun niat nya cuma iseng, tapi ya menurut gue tetep, hal itu sensitif sekali buat dibahas bagi beberapa orang.

Satu lagi, pertanyaan klise dan terdengar garing. "Kapan Nikah?"

Okey. Lebih annoying sih buat gue as Jomblo.

Tidak cukup kalian bertanya 'Pacar'. Lalu sekarang apa, 'Nikah?' Perasaan nya dimana?

Jaman sekarang lagi-lagi, Nikah udah berasa ajang lomba lari. Gue tidak henti-henti nya dapat undangan nikahan. Keren sih. Yang membuat gue kurang faham adalah orang-oramg yang iri dengan teman nya yang nikah. Terus berusaha melakukan hal yang sama. Memang, jika sudah yakin maka segerakan. Tapi tidak dengan terburu-buru hanya karena ingin menyamai teman nya atau bisa upload foto nikahan.

Nikah itu butuh prepare. Lahir maupun batin. Bukan kayak beli martabak yang kapanpun bisa dilakukan. Gue banyak membaca, melihat dan mendengar orang-orang yang menikah di usia muda dengan hasil kerja keras sendiri, dari keringat sendiri tanpa menyusahkan orang tua.

Mereka yang memutuskan menikah sudah meyakinkan diri untuk bisa hidup mandiri. Diawali dengan membiayai sendiri pernikahan nya. Hebat sih. Bahkan beberapa dari mereka ada yang masih menyandang status mahasiswa, yang kerennya lagi mereka membiayai sendiri kuliah nya.

Mereka yang memutuskan menikah, harus siap dengan segala tanggung jawab yang ada. Ga ada lagi tuh perkara balik ke rumah orang tua cuma gegara hal sepele. Meminta saran sih masih boleh lah ya. (lagi, ini sudut pandang gue perihal menikah)

Buat manusia jomblo, Nikah biasanya hal yang sangat pelik buat dibahas. Ke-baper-an sering melanda kaum ini. Berangan-angan adalah hal yang sering dilakukan oleh segelintir manusia jomblo ini. Termasuk gue. Tapi, balik lagi. Kita musti banget sadar kalau kita masih harus berusaha memantaskan diri sebelum bertemu jodoh. that's why kita masih jomblo. Ga usah iri sama kebahagiaan orang lain. Setiap orang punya waktu nya masing-masing buat bahagia.

Jadi Jomblo memang serba salah.