Tuesday, August 22, 2017
Lea dan Pasar Giwangan
(Berdamai dengan mereka yang hilang)
Tak jauh dari kos-an -tempat dimana aku menghabiskan waktu selama hampir tiga tahun, ada sebuah pasar bernama pasar giwangan.
Sejak aku tiba di kota pelajar beberapa tahun lalu, hampir setiap pagi ku sempatkan berbelanja kebutuhan ku di pasar ini. Entah cuma sekadar beli jajanan pasar, peralatan mandi hingga sabun, atau kebutuhan untuk masak tiap hari nya. Pasar ini sudah menjadi destinasi harian ku, selain kampus.
Hidup di ruangan yang hanya muat kasur tanpa ranjang dan lemari plastik, tak lantas membuat ku menyerah. Tak mewah memang. Tak ada AC atau sekadar meja belajar. Hanya muat kipas angin kecil yang ku bawa sendiri dari tempat asal ku. Ku beli meja kecil kayu yang biasa dipakai anak-anak TK agar aku masih bisa merasakan belajar diatas meja. Ada yang istimewa di kos-an ku, yaitu kamar mandi dan dapur pribadi. Meskipun letak kamar mandi nya tidak di dalam kamar layaknya kos-an elit kebanyakan -setidaknya aku tak harus share dengan yang lain. Aku memang tidak suka melihat ruangan yang berantakan, apalagi kamar mandi yang kotor. Bersih tetap nomor satu. Karena bersih sebagian dari Iman. Semacam doktrin yang ibu tanamkan di pikiran ku sejak kecil.
Sebagai anak indekos yang tinggal jauh dari keluarga, tentunya semua musti serba sendiri. Dari mengatur keuangan sendiri, sampai mikirin mau makan apa setiap hari nya. Aku lebih sering masak sendiri. Sebetulnya, untuk makanan -Aku tidak musti pusing. Tempat kos ku sangat strategis. Supermarket, pasar, sampai penjual makanan pinggir jalan pun masih bisa dijangkau dengan hanya berjalan kaki. Tapi, karena Aku bukan mahasiswa yang sanggup makan tiap hari di luar, dan aku terlalu koret hanya untuk memuaskan hasrat diri, makan makanan enak. Aku lebih memilih membuat masakan sendiri. Awalnya, aku tidak bisa masak sama sekali. Setiap kali aku hendak memasak, ku telpon ibu -meminta resep. Keasinan, hambar, terlalu manis, kadang terlalu matang atau bahkan masih mentah, tak lantas membuat ku berhenti memasak. Setelah beberapa kali ku coba. Rasa masakan ku mulai bisa di nikmati. Meski tak senikmat masakan ibu di rumah.
Aku cukup perhitungan. Ya, maklum karena hidup ku tak seberuntung mahasiswa di luar sana. Orang tua yang setiap saat bisa dimintai uang transfer-an. Berbeda dengan ku, sejak seseorang yang harus nya menjadi tempat bergantung hidup dan menafkahi keluarga -justru malah pergi. Entah lah, tiga tahun lalu sudah tak ada kabar dari laki-laki itu.
Seakan dunia tengah menguji kesabaran, aku dihadapkan dengan ibu kos yang terlalu kepo dengan para penghuni kos, sedikit risih juga. Apalagi kalau suasan hati ku sedang runyam. Membuat ku tak ingin kembali kesini. Memang tak selamanya ibu kos menyebalkan. Ada sisi dimana omongan nya membuat aku merasa termotivasi.
"Kapan lulus?"
"Masih muda kok males !"
"Kenapa tiduran terus di kamar?"
Sebetulnya pertanyaan-pertanyaan itu kurang enak didengar. Tapi, setelah aku renungkan -itu motivasi. Benar juga kata ibu kos, Mau sampai kapan aku tidur sehingga tugas kuliah ku menumpuk. Bagaimana aku bisa bangkit dan membuktikan padanya bahwa aku bisa hidup tanpa ada dia. Akhirnya ku mulai berpikir ulang, membenahi semua yang dulu sempat rusak, terbengkalai dan tertunda.
Pagi ini, ku mulai melangkahkan kaki menuju pasar giwangan. Beberapa bulan yang lalu, aku mengundurkan diri dari kedai yang menjual jajanan pasar. Karena alasan klise sih, si pemilik pun mengerti dengan alasan ku. Dia sangat baik, dia bilang akan menerima ku kembali dengan senang hati jika suatu saat ku ingin kembali kesana. Mungkin karena kita sama-sama berasal dari kota yang sama, tahu bagaimana rasanya tinggal di kota yang jauh dari tempat asal.
"Pagi mas, bagaimana kabar mu hari ini?" Sapa ku.
"Lea! Sampean kemana saja?" Balas nya. Mas Rangga terlihat senang melihat ku kembali berkunjung ke kedai.
"Saya sibuk dengan tugas kuliah, mas." Jawab ku.Yang memang bukan jawaban sebenarnya.
"Sejak kapan kamu serius sama tugas kuliah? Biasa nya juga kamu cuma belajar pas mau ujian semester. Tugas kuliah pun kau tumpuk, sampai kau di omeli dosen. Kayaknya kamu mesti kena omel dulu baru sadar ya." Gurau nya. Mas Rangga memang sudah mengenal ku sejak dua tahun lalu. Ya, aku bekerja di kedai ini sudah dua tahun.
"Bagaimana kedai tanpa ku, mas? Rame gak?"
"Alhamdulillah rame. Kamu pikir gak ada kamu kedai ku jadi sepi. Jangan salah, kedai ini selalu rame karena yang jual nya kan good looking." Dia memang selalu membuat suasana terasa nyaman dan asik. Tinggal disini, tak begitu membuat ku merasa kesepian. Masih ada manusia seperti mas rangga yang membuat ku seperti tinggal di kota sendiri.
"Kita tak lantas menjadi kecil dan kesepian saat tak ada satu orang pun yang kita kenal." Katanya saat aku baru kerja di kedai nya. Dia sudah serasa kaka ku disini. Aku memang tak pernah punya kaka, karena aku anak pertama di keluarga ku. Aku merasa masih ada orang yang mau memberikan perhatian nya setelah lama ku tak merasakan perhatian dari seorang laki-laki.
"Apa kamu kembali mengingat nya? Sampai kamu harus uring-uringan beberapa bulan yang lalu." Tanya nya.
"Mungkin, butuh ribuan obat merah biar bisa nyembuhin luka ini, mas."
"Lebay kamu. Kamu cuma butuh satu obat merah yang isinya literan ikhlas."
"Kata Ikhlas tidak segampang bagaimana kita ngucapinnya."
"Apa salah nya di coba? Toh Selama ini kamu belum pernah mencoba nya kan?"
Aku terdiam. Membayangkan bagaimana caranya aku bisa ikhlas atas perbuatan lelaki itu dua tahun yang lalu.
"Bukan mikirin caranya, lakuin aja. Biar waktu yang jawab semua usaha mu. Perlahan semua kepahitan itu akan habis ludes dimakan waktu." Mas Rangga yang tahu kalau aku sedang berpikir -mencoba memberikan jawaban singkat.
"Kehilangan tidak harus terus-terusan di tangisi, cobalah kamu sambut kehilangan itu dengan senyum lebar. Karena setelah kehilangan, kamu akan mendapat hal baru. Mungkin kisah baru atau orang baru." Lanjutnya.
"Mereka yang hilang mungkin sudah tidak pantas lagi menorehkan sejarah di hidup kita. Mereka yang hilang sudah cukup mengisi hari-hari kita. Mereka yang hilang meninggalkan banyak pelajaran buat dijadikan perbaikan di kemudian hari. Tak banyak memang, mereka yang hilang meninggalkan tawa. Sepahit dan sekelam apapun kisah yang mereka kasih ke kita, coba lah sambut hadiah mereka dengan rasa ikhlas dan senyuman terbaik kita. Percaya suatu saat akan ada orang-orang yang lebih baik dari mereka yang bisa memulihkan luka di hati." Tambahnya.
Mas Rangga terlihat tegar mengatakannya. Tapi, ku tahu hati nya tampak lemah dan rapuh.Tepat di tahun yang sama dimana aku ditinggalkan oleh ayah, Mas Rangga ditinggal tanpa alasan yang jelas oleh kekasih nya yang sudah lima tahun menghabiskan waktu bersama, menorehkan kisah di hidup nya, meninggalkan jejak kenangan di ingatan nya.
Tidak mudah memang, mengikhlaskan orang yang dulu pernah ada dalam setiap goresan tinta yang menodai lembaran kertas hidup kita. Tapi entah bagaimana dia bisa bangkit dari kehilangan sepahit itu. Seperti katanya, kehilangan butuh di sambut bukan di tangisi.
Pasar giwangan inilah yang mempertemukan ku dengan orang yang pernah kehilangan. Rangga Adisaputra.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment