Wednesday, September 20, 2017
Nikah, Yuk!
Mau nikah tapi belum ada calon?
Mau nikah tapi belum siap lahir batin?
Atau mau nikah tapi belum siap dana?
Jawaban nya. Udah lah. Jomblo aja dulu sampe semua nya siap.
Siapa yang bulan ini bahkan sebelum bulan ini udah banyak dapet undangan nikahan? Rasa nya nano-nano deh. Apalagi bagi jomblo macam gue ini. Baper, kepengen tapi gue belum mampu. Bahaya juga bagi jomblo yang ujung-ujung nya bakal kebanyakan ngayal.
Sepertinya jomblo musti tahan godaan dan memperkuat iman. Bukan cuma di baper-in sama dateng nya undangan tapi ketika gue sendiri melihat postingan di sosial media topik nya pasti semua tentang pernikahan. Apalagi pas liat Babang Hamish dan Raisa nikah. Aduh, baper parah.
Ko gue merasa menikah sekarang ini seperti ajang lomba 17-an ya? Dimana-mana ada yang nikah. Dimana-mana ada yang buru-buru tunangan bulan ini. Seperti tak mau kalah dan ingin ikut serta "nikah masal" bulan ini.
Mungkin bisa juga karena tradisi yang menganggap bahwa bulan yang lumrah dan berkah adalah setelah idul adha. Tradisi ini hebat sih. Dari jaman nya gue masih kecil sampe sekarang masih ada. Tapi apa musti kita memaksakan diri untuk menyegerakan menikah karena melihat orang lain menikah? Padahal belum punya persiapan yang mantap untuk kemudian siap memutuskan menikah.
Dibalik suka cita orang-orang yang menikah, ada banyak cerita yang gue rasa memang menikah butuh kesiapan yang mantap dan perhitungan yang pas. Bukan berarti menunda nikah sampe punya duit banyak atau kerjaan yang mumpuni. Menikah dengan penuh kesiapan disini adalah siap lahir dan batin. Sekiranya memang keputusan untuk seumur hidup ini tidak menjadi keputusan menyeramkan nantinya. Gue memang belum menikah. Tapi, gue faham betul tentang cerita sahabat gue bagaimana dia mempersiapkan diri sampai akhirnya mantap memutuskan menikah.
Lalu bagaimana maksud dari menikah musti punya perhitungan yang pas? Musti banyak duit? Musti punya kerjaan yang mumpuni? Terus orang yang belum punya kerjaan tidak berhak menikah? No. Bukan begitu maksud nya. Banyak kok orang yang pengangguran sudah menikah. Banyak juga orang yang punya penghasilan minim malah berani memutuskan menikah. Berarti mereka sudah punya perhitungan yang matang. Ko bisa? Bagaimana caranya? Nah, hal ini yang musti kita cari jawaban nya sebelum kita menikah.
Menikah musti tepat hitungan supaya kita bisa menghidupi diri kita sebagai pasangan pasca menikah nanti. Jangan sampe satu hari merusak hidup kita ke depan nya. Memang betul, Menikah adalah acara yang dilakukan sekali seumur hidup. Tapi apa harus kita menghabiskan penghasilan kita, tabungan kita hanya demi satu hari? Demi terlihat 'Wah' di mata orang lain? Ah, gue rasa itu bukan hitungan yang pas. Apakabar hidup kita setelah menikah?
Gue mungkin terdengar omong kosong. Menikah mah asal saling cinta cukup kali, feb.
Cinta memang fondasi dari suatu hubungan. Tapi, ya realistis aja sih, boy. Apa cinta bisa bayar MUA, bayar gedung, bayar ketring, bayar cetakan undangan, atau bayarin hidup ke depan nya? Semuanya tetap musti punya hitungan yang pas dan modal yang mencukupi.
Menikah bukan perihal ngomongin Cinta, boy.
Tapi memikirkan bagaimana kita bisa hidup bahagia lahir dan batin ke depan nya.
Mustahil kalau laki-laki datang ke rumah seorang perempuan untuk melamar dihadapan kedua orang tua nya tanpa punya perhitungan yang tepat.
Mau dibawa kemana hidup neng, bang? Mau dikasih makan apa anak gue (bapa nya calon), boy?
Sebagai perempuan pun, gue banyak mikir sih. Gue tidak ingin cuma mengandalkan calon pasangan gue. Yang namanya hidup bersama ya kita berusaha bareng tanpa saling mengandalkan. Bagaimana caranya? Mulai cari rupiah sendiri.
Sebelum menikah gue musti memantaskan diri, berusaha mandiri, membiayai hidup gue sendiri tanpa menyusahkan orang tua, mengatur segala keperluan hidup sendiri, hingga gue yakin kalau gue siap untuk menikah. Setidaknya ketika nikah, gue sudah faham bagaimana mengelola rumah tangga gue sendiri.
Bagi gue, menikah dengan membiayai segala keperluannya dengan hasil jerih payah sendiri itu keren sih. Gue banyak belajar dari orang-orang yang memutuskan untuk menikah dengan penghasilan sendiri tanpa minta se-peser pun sama orang tua.
Gue rasa cukup sih, orang tua kita membiayai hidup sampe lulus kuliah. Saatnya membuktikan pada mereka bahwa kita sudah bisa mandiri dan memang pantas buat menikah.
So, gimana nih tetep mau nikah tanpa ada nya persiapan yang matang?
Yuk, nikah! Jangan lupa cari pasangan yang mau belajar tentang bagaimana cara nya hidup dan sudah siap lahir maupun batin.
Balik lagi sih, sudut pandang tiap orang pasti nya berbeda. ok.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment