Baru-baru ini gue baca buku karya Gita Savitri Devi. Dia adalah seorang blogger, vlogger, dan mahasiswa (sekarang udah lulus S1 tapi katanya mau lanjut S2). Yang buat gue suka adalah dia seorang Introvert yang keren. Yang notabene seorang introvert kadang di lihat aneh karena mereka yang ansos. Because, I am an Introvert too.
Bukan mau ngebahas soal Introvert, tapi gue disini mau me-review one of the favorite part of her book. Ya, Life is not a race -Hidup bukan sebuah ajang perlombaan.
Gue setuju sama apa yang dikatakan oleh buku Rentang Kisah ini. Hidup bukan untuk berlomba-lomba dapetin ini dan itu. Hidup bukan melulu soal cepet-cepet-an lulus, nikah, kerja, kaya, banyak uang, atau bahkan dulu-dulu-an punya anak. Hidup itu cukup dijalani, di ikhtiar-i dan di doa-i. Sisanya kita serahkan saja sama Allah swt.,. Toh, kita cuma manusia. Setiap kita pasti punya masa dimana kita merasakan / mendapatkan hal yang sama dengan orang lain meskipun dengan jalan yang berbeda - berliku, naik turun, atau lurus-lurus aja. Atau mungkin kita akan bisa mendapatkan yang lebih dari mereka karena kesabaran dan ikhtiar yang kita lakukan.
Gue pernah merasa kalau hidup gue gini-gini aja. Stuck ditempat yang itu-itu aja. Sedangkan orang lain udah lari, terbang kesana kemari. Gue masih belajar buat merangkak. Gue masih harus ngerasain yang namanya jatuh, bangun lagi, sakit, kecewa, lelah, dan bosen. Gue sangat ingin segera bisa berdiri supaya gue bisa lari -ngejar orang-orang yang udah duluan lari dari kapan tau. Gue juga sangat ingin meraih apa yang udah orang lain dapetin. Gue juga ingin segera menempati tempat yang lebih 'layak' sama hal nya orang lain.
Gue terus membandingkan hidup gue dengan hidup orang lain. Hidup gue gini, hidup dia begitu.
Setaun sudah gue menjadi seorang freelance. Kerjaan gue terlihat belum jelas. Bahkan bayaran yang gue dapatkan pun terlihat tidak sebanding dengan ijazah yang udah gue dapet. But, I am not a jobless. I have a job. Cuma mungkin penempatan nya saja yang belum jelas.
Tiap hari kerjaan gue selalu dan selalu ngeluh. Gue merasa ko Allah swt., ga adil sama gue. Gue merasa ko jalan hidup gue ga jelas kaya orang lain. Gue masih belum faham hidup ini mau dibuat kaya gimana. Sedangkan yang lain terlihat sangat ter-planning sekali hidup nya. Sedangkan hidup gue? Semrawut.
Orang lain tampak punya another choice kalau plan yang satu belum bisa dicapai. Sedangkan gue? Planning apa yang musti gue buat aja gue ga faham.
Teman-teman satu angkatan gue, teman seusia gue, mereka udah punya hidup yang jelas. Ada yang memutuskan buat menikah, ada yang diterima kerja, atau ada juga yang lanjut kuliah. Sedangkan gue? Menikah? sayangnya, otak gue belum nyampe ke arah situ. Kerja? Gue udah melamar kerja dari satu gedung ke gedung lain tapi alhasil belum ada yang masuk jaring laba-laba gue. Kuliah lagi? I don't have much money.
Jadi gue ini musti gimana dong?
Nah, part dari buku Rentang Kisah ini lah yang buat gue sadar kalau hidup bukan ajang lomba cepet-cepetan. Hidup itu musti ikhlas katanya. Inget, cuma satu. Gue cuma manusia. Bukan Tuhan yang udah punya skenario nya. Gue cuma musti menjalankan apa yang udah ada di depan mata. Tanpa harus protes atau mengeluh.
Saat gue mencoba belajar ikhlas, pasrah, rezeki Allah swt., layak nya air hujan yang ga pernah berhenti kalau Allah swt., belum merintah. Bahkan gue ga minta pun Allah swt., selalu kasih gue limpahan rezeki. Apalagi kalau gue dari dulu udah ikhlas. Allah swt., bakal ngasih lebih dari itu. Sebegitu sayang nya Allah swt., sama manusia tukang ngeluh kaya gue.
Hidup yang terlalu 'ngoyo', membuat gue menjadi manusia yang ga pernah bersyukur atas apa yang udah Allah swt., kasih. Hidup yang terlalu buru-buru bikin gue tidak menikmati setiap detik yang gue punya. Hidup yang terlalu mengikuti hawa nafsu bikin gue lelah. Hidup yang terlalu 'mendongak' membuat gue ga pernah melihat apa yang ada di bawah.
Akhirnya gue sadar. Mungkin, dari masa penantian menuju hidup yang lebih baik ini, Allah swt., memberikan banyak pelajaran, pengalaman agar gue bisa hidup lebih kuat dari pada orang lain. Gue dibentuk Allah swt., agar selalu bisa menjadi manusia yang lebih sabar dan tawakal. Gue percaya, hidup di dunia ini semua nya butuh proses. Yang instan kurang asik. Gue berusaha menuruti jalan yang udah Allah swt., gariskan. Kelak Allah swt., bakal ngasih gue kejutan dari setiap sabar, ikhtiar, ikhlas yang gue lakukan.
Jadi buat apa merasa paling belakang, merasa paling tertinggal, merasa paling terabaikan dibanding orang lain? Setiap manusia punya kisah, punya jalan hidup yang berbeda. Yang penting adalah ikhtiar, Doa, dan tawakkal.
No comments:
Post a Comment