Tanggal 18 Desember 2017.
Hari dimana gue bisa menyebut diri gue sebagai manusia sukses. Gue bisa melakukan hal yang begitu mustahil bagi gue. Hal yang entah kapan gue bisa menaklukannya. Hal yang ga pernah bisa gue pikirkan bagaimana cara melakukannya. Yang pasti di otak gue cuma ada kata mustahil, mustahil dan mustahil.
Hari itu adalah hari yang ga akan pernah gue lupakan seumur hidup gue. Pencapaian terhebat yang pernah gue lakukan. Meskipun bagi sebagian orang menganggap hal yang gue lakukan saat itu adalah hal yang biasa. But, not for me.
Hal yang selama bertahun-tahun menggerogoti pikiran gue, menghantui gue, dan sempat menjadi pertanyaan besar di otak gue. "Why Can't I do that?" Dan hal itu juga selalu menjadi salah satu beban terbesar di hidup gue.
Mungkin gue terlalu takut mengambil resiko dan gue memang kurang percaya diri. Padahal mungkin keberanian gue melebihi apa yang selama ini gue pikirkan. Hanya saja karena gue belum terlalu mengenal diri gue sendiri yang akhirnya gue underestimate terhadap diri sendiri.
Gue memang masih jauh dari kata Sukses jika sukses diartikan sempurna entah itu dalam masalah finansial, mapan, atau hal-hal hebat lainnya. Sukses bagi gue adalah bisa melakukan hal-hal yang tidak pernah bisa gue lakukan sebelumnya. Sukses bagi gue adalah bisa bermanfaat untuk orang lain. Sukses bagi gue adalah bisa menghargai diri sendiri, mengakui kemampuan diri sendiri dan memperlakukan diri sendiri sebaik-baiknya. Sukses bagi gue adalah melawan rasa ragu, rasa takut, rasa kurang percaya diri dan rasa iri terhadap hidup orang lain.
Seperti judul pada tulisan ini.
"Take the Risk or Lose the Chance"
Hari itu gue melawan ketakutan gue. Kaki gue mulai bergetar, bahkan mungkin berdiri pun gue ga mampu. Gue setengah ingin pingsan. Keringat dingin bercucuran. Degup jantung meningkat lebih cepat. Gue lawan itu semua dengan satu pertanyaan "Kalau ga sekarang kapan lagi?".
Akhirnya gue sekuat tenaga berusaha berdiri kokoh melawan segala ketakutan yang begitu menyeramkan selama bertahun-tahun. Akhirnya dengan keberanian dan nekat mengambil resiko, gue mampu mengalahkan "hantu" yang selama ini bersemayam di tubuh gue. Gue berhasil. Gue bangga dan speechless. "Finally, I can do that." Teriak gue dalam hati.
Pencapaian ini bukan akhir, tapi awal. Akan banyak hal-hal yang menyeramkan lainnya yang musti gue taklukan. Gue merasa bisa mengakui diri gue sebagai manusia yang bisa berfaedah untuk orang lain. Menolong orang lain dengan tangan gue sendiri adalah hadiah terindah Allah SWT yang tidak akan pernah gue lupakan seumur hidup gue. Hadiah ini bisa gue ceritakan kepada semua orang termasuk anak-anak gue kelak. Kebesaran Allah itu luar biasa. Dan memang Allah selalu ada disetiap langkah manusia di muka bumi ini.
Gue tidak bermaksud sombong karena gue bisa membantu orang lain. Tapi, percaya atau engga. Membantu orang lain memiliki kepuasan tersendiri. Setidaknya gue di dunia ini masih ada faedah nya buat orang lain. Dan gue ingin menunjukkan bahwa Allah itu ada dan Allah ga pernah tidur. Karena Dia selalu mendengar doa-doa setiap makhluk-Nya.
Ok. Gue bukan lagi ceramah. Gue hanya bahagia. Gue takjub dengan semua hal yang terjadi pada hidup gue. Ternyata, hidup mengikuti arus itu seru. Meskipun gue ga tau di depan bakal ada apa dan situasi nya kaya gimana.
Jadi, bagi gue buat apa berdiam diri, membatasi diri kita terhadap satu kekhawatiran, ketakutan, terhadap hal-hal yang belum pernah dilakukan. Coba aja dulu. Awalnya mungkin butuh ribuan tenaga yang musti kita keluarkan demi melawan sebuah ketakutan. Tapi pada akhirnya hasil akan membuat kita puas. Kita bakal merasa semua yang dilakukan tidak sia-sia.
"elu ngomong sih gampang. ga ngerasain apa yang gue alami. Kalau dilakuin susah coy." Celetukan receh ini pun selalu gue ucapkan sama orang yang terlihat menganggap ketakutan gue ini sebagai hal yang biasa aja. Padahal justru mereka ini benar. Yang terpenting adalah tekad yang kuat. Berhenti memikirkan hal yang membuat tekad kita kendor.
Kita punya Tuhan yang selalu ada membantu kita. Tugas kita cuma berusaha dan berdoa. Tidak ada sesuatu yang Allah ciptakan tanpa resiko. Karena kalau hidup kita lurus lurus aja, anteng-anteng aja. Kita ga akan pernah mikir.
Kesempatan itu ibarat waktu. Ga bisa diulang. Kalau kita menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Sama aja kita membuang-buang waktu kita di dunia ini. Bukannya kita musti memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya?

No comments:
Post a Comment