Thursday, July 27, 2017

Bangga Jadi Koret

Baru-baru ini gue membaca tulisan seorang blogger favorit gue, blogger sekaligus vlogger ini selalu menginspirasi jalan pikiran gue, entah dari tayangan video nya maupun dari tulisan-tulisan nya. Namanya Gita Savitri Devi.

Dia baru baru ini membahas gimana dia diajarkan buat hidup prihatin. Dari cerita dia, gue sadar kenapa dulu gue harus merasa iri sama temen-temen gue yang bisa wara-wiri di mall, traveling sana-sini, koleksi barang-barang ber-merk, dan kemewahan lainnya. Gue mesti nya bersyukur jadi orang paling hemat, paling koret dan paling prihatin. Setidaknya gue bisa menghargai jerih payah orang tua gue buat nyari duit demi menghidupi gue dan kaka-kaka gue. Bisa lebih menghargai duit seperak-dua perak.

Gue pun mau berbagi cerita kenapa gue bangga jadi manusia koret.

Orang tua gue sedari jamannya kaka-kaka gue masih bocah udah menanamkan sedini mungkin untuk hidup prihatin. Hidup sesederhana mungkin. Makan cukup dengan apa yang emak gue masak. Uang jajan dikasih yang sekiranya cukup. Bahkan saking prihatinnya, emak gue seringkali membekali kita makanan bahkan sampai harus bawa botol minum biar kita enggak jajan sembarangan dan duit pun bisa utuh.

Gue sedari bocah udah doyan koleksi celengan, bukan cuma koleksi tapi di isi. Sisa duit dari uang jajan, gue wajibkan untuk mengisi celengan. Entah itu seperak atau dua perak. Gue bisa dibilang lebih beruntung daripada kaka-kaka gue. Mereka sih harus jualan es yang harga nya seratus atau gope gitu gue lupa, sebelum mereka berangkat sekolah. Meskipun emak gue ga pernah suruh kaka gue melakukan itu, tapi kita merasa perlu untuk melakukan itu.

Seprihatinnya emak gue, beliau selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Contohnya Pakaian. Meskipun kita jarang malah hampir tidak pernah memakai pakaian yang dijual di mall-mall, tapi emak gue selalu memberikan pakaian yang menurut nya paling bagus di pasar. Gengsi. Enggak sama sekali. Gue dan kaka-kaka gue pun merasa bersyukur setidaknya emak kita masih diberi rezeki lebih sama Allah, bisa beli baju yang lumayan harga nya meskipun standar pasar.

Ketika anak-anak lain setiap kenaikan kelas harus terlihat baru, head to toe. Buku-buku baru, tas dan peralatan sekolah baru. Tapi, gue dan kaka-kaka gue merasa itu tidak perlu. Selama semuanya masih layak untuk dipakai buat apa mubadzir membeli sesuatu yang baru demi terlihat tajir. Lebih hebatnya kita, seragam dan buku-buku pun turun temurun. Saking hidup memang harus menghemat.

Ketika gue kuliah, Ini lebih ekstrim sih. Karena gue manusia yang terlahir dari kampung kemudian gue pindah ke kota dan melihat kehidupan manusia-manusia kota yang menurut gue 'Wah'. Semuanya ber-merk. Yang gue punya saat itu cuma tas ransel merk export yang kaka gue beli 2 tahun yang lalu pas gue SMA. Tas ber-merk pun karena sudah bertaun-taun dipakai sudah tidak enak dilihat. Handphone android dan iOs menghiasi setiap genggaman mahasiswa-mahasiswa di kampus gue. Lagi, yang gue punya adalah nokia jadul warna hitam yang hanya punya kelebihan kamera belakang VGA. Lanjut dengan mereka yang kerap kali shopping, wara-wiri di mall cuma sekedar untuk makan sedangkan gue makan di kantin sudah merupakan tempat paling mahal untuk ukuran kantong minim kaya gue. Dan kala itu gue masih harus menyisihkan duit jajan gue untuk sekadar menabung.

Sekali lagi, gue bangga jadi manusia koret.

Ketika gue akhirnya mendapatkan sesuatu yang gue inginkan dari orang tua, lagi, mereka akan bilang kalau gue mesti sayang, mesti bisa jaga apa yang udah gue dapet. Karena dapetin nya susah. Akhirnya lah, gue mulai koret. Sebab gue ingin menjaga sesuatu entah itu barang atau apapun yang gue punya, yang memang buat dapetin nya pun setengah mokat. Gak instan. Hikmahnya dari gue koret itu, jadi bisa menghargai apa yang gue punya, bersyukur sama apa yang gue punya. Gue ga pernah peduli sama orang-orang yang ngomongin gue pelit.

Sampai kapanpun koret adalah sifat yang sudah melekat didalam diri gue. Karena dari koretlah gue belajar menghargai.

Hambur-hamburlah untuk hal yang sekiranya ada faedah nya untuk tabungan kita di akhirat. Bukankah Dunia ini ladang kita mencari bekal untuk di akhirat nanti? Apa yang bakal kita bawa setelah dunia ini hilang kalau semasa hidup hanya buang-buang uang untuk kesenangan dan kepuasan diri? Bukan. Lebih tepatnya memberikan kepuasan kepada orang lain yang melihat kita dengan segala apa yang kita punya. Hanya untuk sebuah pengakuan.

Kalau yang baca tulisan gue ini orang-orang yang hidup nya penuh dengan ke-koretan dan perhitungan. No problem. you must proud of yourself. Meskipun terkadang manusia pelit dan perhitungan kerap kali menjadi cibiran dan gunjingan banyak orang.

Emak gue pernah bilang, segala sesuatunya harus tepat hitungan nya. Segala sesuatunya harus selalu diperhitungkan. Karena setiap hitungan akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhir hidup kita.



No comments:

Post a Comment