Thursday, June 8, 2017

"Do what you love, Love what you do"


Pasti ga asing lah sama kalimat yang satu ini.

Kalimat yang terdengar simple tapi susah buat direalisasikan. gue masih belum sepenuhnya faham dengan esensi si kalimat ini. Hanya faham sepenggal dari kalimat ini, "Love what you Do".

Mencintai apa yang lo lakukan. it means, even lo ga suka you have to Love it. ya, it's like stupid. untuk apa bersusah payah mencintai hal yang jelas jelas kita ga suka.

Hal itu yang sedang terjadi sama diri Gue. Gua merasa entah sedang menjadi siapa saat ini. Ga jelas. Gua hanya melakukan seauatu yang ada di hadapan gua sekarang. Mencoba mencintai apa yang sudah gua dapat sekarang. Meskipun hati gua terus menerus denying. Gua sebenernya selalu percaya banyak banget jalan di dunia ini untuk mendapatkan apa yang di inginkan. Yang susah adalah membuat orang di sekeliling gue yakin dengan jalan yang akan gue tempuh.

Sedikit ngomongin tentang cita-cita.

Cita-cita adalah salah satu bentuk realisasi dari kalimat diatas. Diawali dengan berani bermimpi hingga akan sampai ke titik bagaimana kita merancang mimpi itu, langkah apa yang harus di pilih hingga akhirnya terwujud. Menurut gue, Cita-cita adalah sesuatu yang kita suka, yang kita ingin lakuin dan impian yang seharusnya bisa diwujudkan. Banyak orang yang punya cita-cita, tapi mereka ga bisa menjadi apa yang mereka cita-citakan karena satu dan lain hal. sangat di sayangkan.

bagaimana dengan orang yang ga sama sekali punya cita-cita?

bisakah merealisasikan kalimat diatas?

Gua terlahir tanpa cita-cita. ga faham sama sekali besar nanti mau jadi apa. anak-anak seumuran gue, SD nih. mereka udah punya planning. Meskipun masih belum terlalu kompleks tapi which is mereka udah ada gambaran lah ya mau jadi apa. sedangkan gue, lagi, hanya mengerjakan apa yang ada di hadapan gue. Yang gua tahu cuma satu, tujuan gue hidup adalah bikin orang tua bahagia, entah jalan nya bakal mengorbankan "kesenangan" gue, entah bakal menjadikan gue people without decision. Gue ga peduli. Toh, kesuksesan gue ga bakal berarti kalau orang tua gue sama sekali ga bahagia karena decision yang gue buat.

Keabstrakan otak gue, membuat gue bertaun-taun hidup just Love what I Do. Pertanyaan nya sampai kapan gua hidup like a fool. Bimbang antara keukeuh dengan purpose hidup gua dulu atau mencoba membuat purpose hidup baru. Gua merasa bertaun-taun hidup dengan mendzolimi diri sendiri.

Akhirnya nih, gue sampe di tahap dimana gue harus berubah. Merubah pola fikir gue. Bagaimana cara nya gue bisa melakukan dua hal yaitu gua tetep melakukan hal yang gua sama sekali ga suka tapi masih bisa melakukan apa yang gua suka. Bagaimana caranya gue masih bisa membuat orang tua gue bahagia tanpa mengorbankan kebahagiaan gue.

Gue akhirnya, menggali lagi potensi dan passion yang gua punya. Menangkap beberapa peluang yang memungkinkan gue bisa melakukan hal yang gue suka. Meskipun dengan waktu yang lebih sedikit dibandingkan dengan waktu yang gue habiskan untuk melakukan hal yang gue benci. at least, ada kepuasan tersendiri dimana gue bisa jadi diri gue sendiri tanpa harus memikirkan keganjalan-keganjalan di hati gue, tanpa harus menemukan ketidaknyamanan yang gue rasain saat gue berada dalam hal yang gue benci. Alhamdulillah.

Ikhlas dan selalu bersyukur. Kedua hal yang harus dilakukan Manusia termasuk gue. Dikarenakan gue sering kali mengeluh. Gue belajar lagi. Ga selamanya gue terus mengeluh dan selalu denying atas apa yang gue hadapin. Jalanin aja dah.

Gua yakin sesuatu yang selama ini gua lakuin walaupun itu hal yang gue benci at least masih ada manfaat nya buat orang banyak. Ga peduli seberapa lelah gue survive adakalanya semua itu Tuhan balas dengan sesuatu yang lebih baik. Dari hal yang gue benci akhirnya gue bisa melakukan hal yang gue suka. ya. balik lagi ke pepatah jaman dulu " berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senag kemudian."

Pada hakikatnya, Seberapa egois nya Manusia, se bagus bagus nya rencana manusia, Kembali lagi kita mesti bercermin diri. Kita ini Siapa? kita cuma Manusia. Yang diciptakan. which is punya Pencipta. Ke-engganan kita sebagai manusia terhadap jalan hidup yang sudah digariskan membuat kita menjadi manusia yang tak pernah bersyukur dan selalu mengeluh. tetaplah yakin bahwa itu adalah jalan terbaik yang Dia kasih. Mencoba berdamai dengan keadaan adalah langkah yang sering coba gue lakuin. seperih apapun, se-lelah apapun. gua lakuin. Mungkin bukan sekarang, gue melakukan hal yang gue suka. Dibalik hal yang gue benci akan banyak banget pelajaran yang bisa diambil.

Belum tentu yang terlihat baik menurut kita, baik pula menurut-Nya.

So, "Love what I Do"  mungkin adalah kalimat terpahit sepanjang hidup gue demi mendapatkan kalimat "Do What I Love".

No comments:

Post a Comment