Apa
mimpi itu ?
Apa
Cita-cita itu ?
Baiklah,
disini gue akan bercerita bagaimana cara gue mewujudkan mimpi gue satu
persatu, bagaimana gue merealisasikan
cita-cita gue dan bagaimana cara gue membagi waktu mewujudkan keduanya.
Sebentar,
gue pernah cerita kalau gue tidak pernah punya cita-cita seperti kebanyakan
orang. Itu memang benar. Sedari kecil yang gue lakukan hanya fokus belajar agar
menjadi juara kelas dan membuat ibu dan ayah bangga. Gue tidak pernah tahu
tujuan gue menjadi juara kelas kedepan nya bagaimana, hubungan nya dengan masa
depan gue apa-gue gak pernah tahu. All I do is just for my Mom and Dad.
Sempat
terlintas di hati kecil gue, I wanna be a
translator (for president, Minister or just as a tour guide, maybe) but the
point is I wanna be a person who can speak many language because for me seems
like cool. I’ve been thinking that if I can be a translator- I can travel
around the world. I can communicate with many people from another country with
different language absolutely, and (again) it seems like amazing.
Itu
yang gue temukan di otak kecil gue. Entahlah, itu cita-cita atau mimpi. Yang
jelas kenapa gue suka dengan bahasa karena sejak gue kelas 4 SD ibu sudah
memasukkan gue ke english course yang
tentunya disana gue bertemu dengan bahasa inggris. Dari situlah gue menemukan
kemampuan diri gue adalah berbahasa asing. Meskipun gue sadar bahasa inggris
gue masih berantakan.
Lambat
laun, seiring berjalan nya waktu. Gue pun tentunya tumbuh dan berkembang.
Semakin dewasa semakin gue mikir “Gue mau
jadi apa?”. Yang tadinya cuma lurus-lurus aja, nyantai-nyantai aja, yang juga cuma mikir bagaimana besok gue
bisa dapet nilai bagus pas pelajaran kimia, matematika, fisika atau yang
lainnya-terpikir “Sebenernya yang gue
lakukan selama ini, tidur malem ngerjain tugas, dapet nilai bagus lalu menjadi
juara kelas, semuanya untuk apa? Sedangkan gue sama sekali tidak tahu ke
depannya mau jadi seperti apa?”
THAT’S A BIG QUESTION OF MY LIFE.
Yang
pastinya lebih memusingkan dari sekedar ditanya “Kapan Nikah?”
Oke, baiklah. Diawal gue bilang akan memberitahu
bagaimana seorang gue mewujudkan mimpi-mimpi nya yang padahal sejak dulu sampai
detik ini gue belum tahu apa mimpi gue.
Begini, sebagai seorang introvert yang kerjanya hanya
melamun, mengurung diri dikamar, asik dengan dunia nya, malas bersosialisasi
dan hanya memandang atap-atap langit sembari sesekali ketika bosan mengambil
buku untuk dibaca. Gue merasa, hidup gue ini terlalu nyaman. Gue tidak pernah
mencoba mem-push diri gue sendiri
agar berani keluar bertemu dengan orang-orang baru. Gue hanya nyaman sendiri. Dari
situlah gue mikir, kenapa gue tidak mencoba keluar dari zona nyaman gue sebagai
seorang introvert? Gue setiap hari hanya melamun, berandai-andai bisa bertemu
banyak orang baru yang akan membuat cerita dan pengalaman baru dalam hidup gue.
Mungkin gue rasa itu bisa disebut sebagai mimpi gue. Mimpi yang berasal dari
sebuah lamunan random.
Mimpi gue mungkin terlalu sederhana. Tapi, sangat
bermakna.
Gue jadikan lamunan menjadi sebuah mimpi yang
menjadi kenyataan.
Pertama, gue bertemu dengan komunitas Gubuk Ide yang
kegiatan nya mengajak anak-anak untuk hobi membaca, ya minimal suka membaca. Di
Gubuk Ide ini-mereka mengumpulkan buku-buku dari donatur-donatur seperti dari
sebuah penerbit buku mayor maupun minor. Gue suka kegiatan dari komunitas ini. Karena
gue suka dengan hal-hal asik semacam ini. Tapi, sayang nya gue tidak terlalu
lama disana karena waktu yang tidak memungkinkan gue terus berada disana. Dari sini
lah, gue memberanikan diri bertemu orang yang baru pertama kali berkenalan-yang
awalnya hanya saling sapa lewat jejaring sosial. Canggung? Pasti. Bingung harus
bicara apa untuk memulai percakapan. Tapi setidaknya gue mulai berani keluar
daro zona nyaman gue dan bertemu orang baru. Tambahannya, temen gue bertambah.
Lalu kemudian gue bertemu dengan Kelas Inspirasi Cirebon
(KIC). Komunitas ini memiliki kegiatan mengunjungi sekolah-sekolah (SD
terutama) untuk memberikan mereka motivasi dan juga saling berbagi cerita
tentang cita-cita. Karena relawan yang hadir di komunitas ini dari berbagai
profesi. Disana gue ikut sebagai divisi survey. Mekanisme kerjanya kurang lebih
yang gue tangkap dari setiap kopdar (karena gue jarang ikut briefing)-menyurvei sekolah-sekolah yang
akan didatangi relawan inspirator untuk diberikan beberapa motivasi, berbagi
cerita dan pengalaman atau semangat kepada anak-anak. Lagi, karena satu dan
lain hal gue tidak terlalu ikut serta atau aktif disini. Waktu luang gue kali
ini hanya ada saat weekend sedangkan divisi survey bergerak ketika
hari-hari biasa. Bukan tentang tidak tepatnya waktu gue dengan komunitas ini,
tapi manfaat nya yang gue rasakan itu banyak. Lagi dan lagi gue tidak pernah
bosan bilang disini gue mendapat pengalaman dan teman baru pastinya. Ilmu baru
dan pemahaman baru tentang orang-orang diluar sana.
Yang gue tangkap dari cerita dan kegiatan yang gue
ikutin selama ini, ternyata mimpi gue adalah sesimpel bertemu orang baru,
berkomunikasi dengan orang baru, bermanfaat untuk banyak orang, dan juga bisa
menghirup udara luar bukan hanya menghirup udara dari pendingin ruangan.
Mewujudkan mimpi itu adalah dengan memberanikan diri
keluar dari zona nyaman. Tidak meng-underestimate
diri sendiri. Semua akan mungkin jika kita yakin itu akan terjadi. Berdiam diri
bukan hanya membuat impian membeku tapi juga mencair sia-sia. Sesederhana apapun
sebuah mimpi, tetap butuh sebuah keberanian untuk mewujudkannya.
Cerita gue akan berlanjut. Terimakasih telah
membaca.
x
No comments:
Post a Comment