Saturday, July 21, 2018

MIMPI DAN CITA-CITA




Apa mimpi itu ?

Apa Cita-cita itu ?

Baiklah, disini gue akan bercerita bagaimana cara gue mewujudkan mimpi gue satu persatu,  bagaimana gue merealisasikan cita-cita gue dan bagaimana cara gue membagi waktu mewujudkan keduanya.

Sebentar, gue pernah cerita kalau gue tidak pernah punya cita-cita seperti kebanyakan orang. Itu memang benar. Sedari kecil yang gue lakukan hanya fokus belajar agar menjadi juara kelas dan membuat ibu dan ayah bangga. Gue tidak pernah tahu tujuan gue menjadi juara kelas kedepan nya bagaimana, hubungan nya dengan masa depan gue apa-gue gak pernah tahu. All I do is just for my Mom and Dad.

Sempat terlintas di hati kecil gue, I wanna be a translator (for president, Minister or just as a tour guide, maybe) but the point is I wanna be a person who can speak many language because for me seems like cool. I’ve been thinking that if I can be a translator- I can travel around the world. I can communicate with many people from another country with different language absolutely, and (again)  it seems like amazing.

Itu yang gue temukan di otak kecil gue. Entahlah, itu cita-cita atau mimpi. Yang jelas kenapa gue suka dengan bahasa karena sejak gue kelas 4 SD ibu sudah memasukkan gue ke english course yang tentunya disana gue bertemu dengan bahasa inggris. Dari situlah gue menemukan kemampuan diri gue adalah berbahasa asing. Meskipun gue sadar bahasa inggris gue masih berantakan.

Lambat laun, seiring berjalan nya waktu. Gue pun tentunya tumbuh dan berkembang. Semakin dewasa semakin gue mikir “Gue mau jadi apa?”. Yang tadinya cuma lurus-lurus aja, nyantai-nyantai ­ aja­, yang juga cuma mikir bagaimana besok gue bisa dapet nilai bagus pas pelajaran kimia, matematika, fisika atau yang lainnya-terpikir “Sebenernya yang gue lakukan selama ini, tidur malem ngerjain tugas, dapet nilai bagus lalu menjadi juara kelas, semuanya untuk apa? Sedangkan gue sama sekali tidak tahu ke depannya mau jadi seperti apa?”

THAT’S A BIG QUESTION OF MY LIFE.

Yang pastinya lebih memusingkan dari sekedar ditanya “Kapan Nikah?”

Oke, baiklah. Diawal gue bilang akan memberitahu bagaimana seorang gue mewujudkan mimpi-mimpi nya yang padahal sejak dulu sampai detik ini gue belum tahu apa mimpi gue.

Begini, sebagai seorang introvert yang kerjanya hanya melamun, mengurung diri dikamar, asik dengan dunia nya, malas bersosialisasi dan hanya memandang atap-atap langit sembari sesekali ketika bosan mengambil buku untuk dibaca. Gue merasa, hidup gue ini terlalu nyaman. Gue tidak pernah mencoba mem-push diri gue sendiri agar berani keluar bertemu dengan orang-orang baru. Gue hanya nyaman sendiri. Dari situlah gue mikir, kenapa gue tidak mencoba keluar dari zona nyaman gue sebagai seorang introvert? Gue setiap hari hanya melamun, berandai-andai bisa bertemu banyak orang baru yang akan membuat cerita dan pengalaman baru dalam hidup gue. Mungkin gue rasa itu bisa disebut sebagai mimpi gue. Mimpi yang berasal dari sebuah lamunan random.

Mimpi gue mungkin terlalu sederhana. Tapi, sangat bermakna.

Gue jadikan lamunan menjadi sebuah mimpi yang menjadi kenyataan.

Pertama, gue bertemu dengan komunitas Gubuk Ide yang kegiatan nya mengajak anak-anak untuk hobi membaca, ya minimal suka membaca. Di Gubuk Ide ini-mereka mengumpulkan buku-buku dari donatur-donatur seperti dari sebuah penerbit buku mayor maupun minor. Gue suka kegiatan dari komunitas ini. Karena gue suka dengan hal-hal asik semacam ini. Tapi, sayang nya gue tidak terlalu lama disana karena waktu yang tidak memungkinkan gue terus berada disana. Dari sini lah, gue memberanikan diri bertemu orang yang baru pertama kali berkenalan-yang awalnya hanya saling sapa lewat jejaring sosial. Canggung? Pasti. Bingung harus bicara apa untuk memulai percakapan. Tapi setidaknya gue mulai berani keluar daro zona nyaman gue dan bertemu orang baru. Tambahannya, temen gue bertambah.

Lalu kemudian gue bertemu dengan Kelas Inspirasi Cirebon (KIC). Komunitas ini memiliki kegiatan mengunjungi sekolah-sekolah (SD terutama) untuk memberikan mereka motivasi dan juga saling berbagi cerita tentang cita-cita. Karena relawan yang hadir di komunitas ini dari berbagai profesi. Disana gue ikut sebagai divisi survey. Mekanisme kerjanya kurang lebih yang gue tangkap dari setiap kopdar (karena gue jarang ikut briefing)-menyurvei sekolah-sekolah yang akan didatangi relawan inspirator untuk diberikan beberapa motivasi, berbagi cerita dan pengalaman atau semangat kepada anak-anak. Lagi, karena satu dan lain hal gue tidak terlalu ikut serta atau aktif disini. Waktu luang gue kali ini hanya ada saat weekend  sedangkan divisi survey bergerak ketika hari-hari biasa. Bukan tentang tidak tepatnya waktu gue dengan komunitas ini, tapi manfaat nya yang gue rasakan itu banyak. Lagi dan lagi gue tidak pernah bosan bilang disini gue mendapat pengalaman dan teman baru pastinya. Ilmu baru dan pemahaman baru tentang orang-orang diluar sana.

Yang gue tangkap dari cerita dan kegiatan yang gue ikutin selama ini, ternyata mimpi gue adalah sesimpel bertemu orang baru, berkomunikasi dengan orang baru, bermanfaat untuk banyak orang, dan juga bisa menghirup udara luar bukan hanya menghirup udara dari pendingin ruangan.

Mewujudkan mimpi itu adalah dengan memberanikan diri keluar dari zona nyaman. Tidak meng-underestimate diri sendiri. Semua akan mungkin jika kita yakin itu akan terjadi. Berdiam diri bukan hanya membuat impian membeku tapi juga mencair sia-sia. Sesederhana apapun sebuah mimpi, tetap butuh sebuah keberanian untuk mewujudkannya.

Cerita gue akan berlanjut. Terimakasih telah membaca.

x

No comments:

Post a Comment