Rasanya
gue sudah lama tidak story telling
disini. Rindu sekali. Terakhir kalau tidak salah
sekitar pertengahan bulan
kemarin. Oke. Memang baru satu bulan.
Lebay kah? Tidak ah. Gue biasanya cuwit-cuwit setiap sebulan dua
atau tiga kali.
Banyak
hal yang terjadi dalam sebulan ini. Mau tahu? Baiklah gue mulai saja cerita
dongeng yang kadang ngawur dan bikin
orang males baca.
Pertama,
Gue sedang sibuk apa sekarang?
Sebentar
feb, memang nya lu orang sibuk?
Bukankah dari dulu elu emang
gini-gini aja, ya?
Gue
memang bukan orang sibuk, bukan orang yang punya jadwal paten. Tapi gue manusia
yang setidaknya punya kegiatan. Gue manusia yang pastinya punya banyak cerita
dan hal yag terjadi dalam hidupnya. Penting atau tidak penting.
Gue
sekarang sedang sibuk mencari jati diri. Setelah gue memutuskan untuk cuti satu
bulan dari pekerjaan yang sebenernya tidak begitu membosankan, tidak begitu
ruwet atau bahkan hectic kayak
kebanyakan orang yang kerja kantoran, kerja 9-14, kerja yang punya list per-hari nya. Pekerjaan gue tampak
santai lah ya. Tapi, justru karena terlalu santai itu lah gue malah sering
ngelamun babu.
“Mau dibawa kemana hidup gue?”
“Kapan gue bisa kayak orang-orang
yang bisa pakai seragam?”
“Kapan gue punya penghasilan banyak
so gue bisa traveling kemana pun gue mau?”
“Gue pengen banget beli ini beli
itu, pergi kesana pergi kesini kayak orang-orang.”
Oke. Stop
ngelamun babu nya.
Gue
sebenernya bukan tipikal manusia yang bisa kerja dikejar deadline, lembur, nulis begadang sampai mampus dan lupa makan,
kerja yang “diatur”, kerja yang kebanyakan ngobrol dan hahaha-hihihi. Terus gue ini tipikal manusia apa? Jawabannya, Slow but sure. Manusia yang suka dengan
hal yang berbau santai. Kerjaan yang santai tapi pasti. Kerjaan apa itu?
Entahlah. Gue juga belum menemukan pekerjaan yang pas dengan kepribadian gue
ini.
Lah,
bukannya pekerjaan gue yang sekarang santai ya? Iya. Tapi tidak pasti. Masih
abu-abu.
Kembali
ke pertanyaan awal. Gue ngapain aja
selama ini?
I am trying something new.
Berdagang.
Dengan
kemampuan matematika gue yang minim dan lelet dalam berhitung, gue memberanikan
diri menggantikan kakak gue berjualan di sebuah pasar sandang. Posisi gue
memang sudah enak. Iya, gue bukan karyawan. But,
for a while I am an owner. Replace my sister. Bukan berarti gue seenaknya
mengatur atau tiba-tiba mem-bossy. But, I am learning from them.
Belajar
dengan mereka yang sudah betahun-tahun bekerja di toko kakak gue. Bagaimana
cara berdagang yang baik. Bagaimana hidup sebagai seorang pedagang. Bagaimana
beradaptasi dengan dunia yang belum pernah gue kenal sebelumnya. Lingkungan
yang asing bagi gue yang sehari-hari nya cuma duduk manis melayani pasien.
Aroma yang sangat beda degan ruang obat. Suasana yang tiba-tiba ramai dibanding
ruang periksa yang hening.
Gue juga belajar bagaimana cara nya mencari nafkah
yang halal. Bagaimana cara menghargai setiap peluh yang jatuh. Bagaimana cara
nya bekerja keras dan sabar. Bagaimana cara nya hidup dimulai dari nol.
Bagaimana cara menyambung hidup daan banyak lagi.
Ternyata
hidup itu unik.
Terkadang
orang banyak mengeluh padahal kalau dilihat hidup nya sudah cukup baik. Karena
masih banyak diluar sana orang yang selalu bersyukur walau penghasilan kadang
hanya cukup untuk makan hari ini. Gue gak mau jauh-jauh bahas koruptor yang
selalu gak cukup walau duit nya melimpah ruah. Ini renungan untuk diri gue
sendiri. Sejauh ini apakah gue sudah
bersyukur dengan apa yang gue punya? Gue rasa belum. Kebanyakan ngeluh,
iya.
Lalu gue ini manusia apa?
Gue
selalu membuat rumit hidup cuma gara-gara orang lain sudah duluan memetik hasil
sedangkan gue disini-sini aja. Inget feb, mereka sudah mulai usaha duluan
ketika elu masih nyantai-nyantai aja.
Mungkin mereka lebih maksimal usahanya dibanding elu yang kadang maju-mundur. Mereka bersungguh-sungguh dibanding elu yang masih main-main. Mereka sudah
punya tujuan dibanding elu yang masih
ngambang.
Pasar
membuat gue belajar bahwa tidak ada kasta dalam sebuah pekerjaan, tidak ada
kasta dalam kehidupan, tidak ada kasta bagi sang Pencipta. Ini hanya soal usaha dan hasil akhir.
Siapapun kita, apapun pekerjaan kita, sekolah atau tidak, kalau kita terus
berusaha dan selalu bersyukur hidup akan terasa lebih enteng daripada ngelamun babu yang bikin berat dipundak. Bikin
susah bangkit karena kebanyakan ngayal
babu.
We are same.
Jadi
dari sinilah, gue mulai berpikir untuk menjalani apapun yang sekarang terjadi
dihadapan gue. Mencoba bodo amat sama nyinyiran
manusia yang tidak ada kontribusi nya sama hidup gue. Mencoba melatih diri gue
untuk selalu bersyukur terhadap apapun nikmat yang sudah dikasih. Let it flow.
Kalau
ada yang tanya, gue kerja apa sekarang?
I am a Freelance.
Disambung
besok ya, guys. Terimakasih. Story telling bersambung dulu.
No comments:
Post a Comment