Monday, February 19, 2018
BANDUNG
-Part 1-
Egois tidak selamanya menang
Bandung adalah salah satu destinasi kota yang ingin sekali aku jelajahi dengan kaki ku sendiri. Bukan pertama kali nya aku kesini. Mungkin bisa dibilang ini ketiga kali nya. Mengapa harus Bandung? Karena banyak harapan yang aku sematkan dulu di kota ini. Dulu, aku ingin sekali kuliah di kota Bandung. Hidup disini - melebur - dengan segala kesibukannya. Bandung bagi ku, kota yang sangat ingin aku tinggali. Kota yang ingin aku tulis cerita nya di buku harian ku setiap hari nya. Apa yang aku lakukan, apa yang aku temukan, apa yang terjadi, dan apa-apa lainnya. Intinya, aku ingin membuat kisah di kota ini.
Sekali lagi, angan ku terpatahkan oleh keputusan yang sudah dibuat. Egois ku menjadi-jadi ketika semua angan ku harus rela ku tenggelamkan. Kenapa? Kenapa tidak bisa? Apa alasannya? Padahal aku mampu. Batin ku berontak.
Biasa nya, Aku selalu berhasil meyakinkan dengan sejuta egois ku. Aku selalu berjuang bersama egois ku agar bisa membuahkan hasil. Tapi, untuk sekarang egois ku tak bisa melakukan nya. Kata Tidak yang semestinya selalu membulatkan egois pada hati, seketika melemah dan menyerah. Inikah yang disebut egois tak selamanya menang. Karena Aku selalu melakukan hal yang aku inginkan dengan dasar keegoisan.
Setelah itu, Aku merasa menjadi manusia yang hidup tanpa arah. Angan ku yang sekaligus menjadi kompas hidup ku harus rela aku buang dengan percuma. Aku merenung. Berpikir tapi tak menemukan solusi. Hanya berpikir yang entah dimana titik berhenti nya. Seperti mengayuh sepeda di kala hujan lebat. Terus mengayuh tanpa tahu dimana tempat tujuan. Jarak pandang yang menjadi sempit karena jalan yang di tuju tertutup jutaan air hujan.
Semua berlalu begitu saja. Tiga tahun berlalu sejak hari itu, hari dimana egois ku kalah dengan kenyataan. Tapi, hati ku masih punya harapan untuk berada di kota ini. Berbagai kesempatan selalu aku pikirkan, sekecil apapun kesempatan itu aku selalu berpikir bisa berangkat sendiri ke kota ini. Mungkin Tuhan belum mengizinkan ku untuk berkunjung ke kota ini. Meskipun di otak ku sudah terancang strategi yang sangat terlihat mulus - tapi selalu gagal.
12 februari 2018.
Akhirnya, keinginan ku yang menggebu-gebu selama ratusan hari agar bisa berpijak di kota ini-terlaksana. Pertama kali, aku menghirup udara Bandung-merasa de javu-tapi ini nyata. Indah, sejuk, dingin, bersih dan keren. Mungkin aku tampak norak. Sepupu laki-laki ku menatap ku heran. Dia memang sudah tinggal di kota ini sekitar 5 tahun lebih. Bandung baginya biasa saja. Tidak seperti ku. Berada disini seperti berada di dunia mimpi.
Sebelum ke Bandung, ada hal yang membuat ku berpikir. Ayah yang selalu melarang ku untuk berkunjung ke kota ini akhirnya mengizinkan ku. Awalnya aku tidak percaya. Tapi akhirnya aku sadar. Semua nya butuh proses. Semuanya butuh hal yang biasa disebut dengan sabar. Egois bukan solusi di setiap masalah. Sejak dulu, Egois selalu menjadikan ku manusia yang ambisius-apapun ingin aku dapatkan. Tapi kali ini, tanpa egois aku bisa mendapatkan apa yang aku inginkan.
Mengesampingkan egois, meredam egois demi orang lain memang sangat dibutuhkan. Karena hidup tidak melulu soal diri sendiri tapi ada orang lain. Semua ada masa nya. Aku sadar kalau ke egoisan ku bukan segala nya. Kadang kala dia harus di redam, di kalahkan, di abaikan. Jangan jadikan dia sebagai kebutuhan atau teman mencari solusi.
Perjalanan ku untuk berada di kota ini memang sangat biasa. Perjuangan ku untuk berada di kota ini meski satu hari mungkin terdengar tidak menarik. Tapi bagi ku, ini adalah bagian perjalan hidup yang tidak musti begitu saja aku abaikan. Semua orang mungkin bisa kapan saja datang dan pergi ke kota ini. Tapi tidak bagiku. Butuh ribuan ikhlas demi bisa menginjakkan kaki di kota ini. Butuh ribuan ikhlas karena semua rencana mulus ku kadang gagal dan selalu gagal.
Yang pada intinya adalah, egois tidak selamanya menang. Dia perlu di kontrol untuk bisa memuluskan segala rencana. Semua ada masa nya. Seperti bayi yang punya tahap untuk tumbuh dan berkembang. Kapan dia merangkak, kapan dia mulai berdiri. Bayi tidak butuh egois untuk kemudian bisa lari. Tapi dia hanya butuh sabar dan ikhlas. Menjalani setiap proses yang Tuhan buat.
Tuhan selalu mendengar kata hati setiap manusia. Tuhan tahu kapan waktu yang tepat untuk hamba-Nya melakukan ini dan itu. Begitulah hidup. Yang katanya hasil tidak akan mengkhianati proses. Begitulah aku. Si egois yang selalu mengedepankan otak batu ku dalam segala hal tapi kalah dengan kenyataan, kalah hanya dengan kata "Tidak".
Apa yang aku lakukan di kota ini selama satu hari?
Berlanjut ke cerita selanjutnya.
-Part 2-
Terimaksih sudah membaca.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment